04 Maret 2009 Tetap Optimistis Meski Kondisi Kembang Kempis

Kinerja perusahaan seluler dan program operator besar di 2009

Ruisah Khoiriyah, Ahmad Febrian

KONTAN – Tak pelak lagi, krisis finansial juga berhembus ke ranah bisnis telekomunikasi. Akibatnya, tak seperti dugaan khalayak umum yang menganggap pabrik pulsa kebal krisis, kinerja para operator seluler pada 2008 tak cemerlang-cemerlang amat.

Laba bersih Indosat, misalnya, melorot 8% dari Rp2,04 triliun pada 2007 menjadi Rp1,88 triliun pada 2008. Penyebabnya, Indosat harus menanggung rugi kurs sebesar Rp886 miliar. Bisnis seluler masih menjadi kontributor terbesar mereka, yakni menyumbang Rp14,17 triliun atau setara 76% dari total pendapatan Indosat.

Excelcomindo Pratama mengalami nasib lebih nahas. Selama 2008 operator seluler lawas ini menderita rugi kurs. Maklum, tahun lalu XL begitu ekspansif membangun kapasitas jaringan yang sebagian besar penyokongnya adalah utang dolar.

Bagaimana dengan Telkomsel? Sayang, operator terbesar di negeri ini masih malu-malu mengumumkan kinerja tahun lalu.
Meski kinerja keuangan mereka tak mencorong, para operator mengklaim sukses meningkatkan jumlah pelanggan. Telkomsel, misalnya, mengaku sukses menambah 17,4 juta pelanggan baru menjadi 65,3 juta. Pertumbuhan itu meningkat 42% ketimbang pertumbuhan pelanggan pada 2007.

Bahkan Januari 2009 lalu Telkomsel mengklaim berhasil merangkul 1,9 juta pelanggan baru. “Jadi, saat ini kami sudah memiliki 67,2 juta pelanggan atau 50% dari total pengguna seluler di Indonesia,” ujar Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno.

Dua operator lain juga tak mau kalah sesumber. Indosat mengaku bisa mengumpulkan 36,5 juta pelanggan seluler, atau meningkat 12 juta dari jumlah pelanggan sebelumnya. Adapun pelanggan fixed wireless access StarOne naik tipis dari 628.000 menjadi 761.000 pelanggan.

Walau mengalami kerugian, XL juga mengaku sukses mendongkrak jumlah pelanggan sebanyak 68% menjadi 26 juta nomor, sepanjang tahun lalu.

Mencari pelanggan yang baik
Biarpun situasi tak menentu, tahun ini para operator tak bisa leha-leha akibat persaingan yang begitu ketat. Telkomsel sudah menyiapkan anggaran untuk ekspansi senilai US$1,5 miliar. Rencananya, dana segede itu untuk memperluas jaringan, peningkatan kapasitas, dan kualitas jaringan. “Juga untuk new business sperti mobile wallet, mobile broadband dan konten,” ucap Sarwoto.

Selain menggarap kelas atas dengan menggandeng iPhone. Telkomsel juga menggarap pasar low end. “Pasar ini justru terbesar. Voucher yang paling laku adalah nominal Rp5.000 dan Rp10.000,” kata Sarwoto.

Makanya, Telkomsel berencana meningkatkan titik-titik penjualan pulsa (reseller) tahun ini dari 480.000 menjadi 1 juta titik. Maklum, tahun ini Telkomsel menargetkan bisa menggaet 10 juta – 15 juta pelanggan baru.

Adapun Indosat masih malu-malu memaparkan target dan program gede tahun ini. “Kami masih menunggu RUPS Qatar Telecom (Qtel), Maret ini,” ujar Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam.

Tapi yang terbaru, Indosat baru saja meluncurkan IM3 GROOV3 yang memberikan fasilitas untuk voice, SMS dan Internet. Indosat tidak menargetkan penambahan pengguna IM3 secara khusus. “Kami mencari pelanggan yang baik, bukan agresif menambah pelanggan yang berpotensi jadi kartu hangus,” tegas Guntur S. Siboro, Direktur Pemasaran Indosat.

Sedangkan XL, tahun ini menganggarkan modal kerja US$600 juta-US$700 juta, menurun dari tahun lalu yang mencapai US$1,2 miliar. Tahun ini XL bakal mengusahakan penurunan tarif antar operator. “Tarif off net masih mahal,” terang Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi.

0 komentar: