Oleh Fita Indah Maulani
Jakarta, Bisnis Indonesia – Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) meminta para pengusaha terus berinvestasi di bidang infrastruktur telekomunikasi dan teknologi informasi (telematika), karena infrastruktur telematika nasional masih memprihatinkan.
Jakarta, Bisnis Indonesia – Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) meminta para pengusaha terus berinvestasi di bidang infrastruktur telekomunikasi dan teknologi informasi (telematika), karena infrastruktur telematika nasional masih memprihatinkan.
Setyanto P. Santosa, Ketua Umum Mastel, mengatakan tingkat ketersediaan dan kesiapan infrastruktur untuk layanan elektronik (e-readiness) Indonesia sekarang hanya menempati urutan ke-68 dari 70 negara.
“Pemerintah mendominasi pembangunan infrastruktur sejauh ini,” ujarnya pekan lalu.
Dia menjelaskan peringkat tersebut dan kenyataan yang ada di lapangan menjadi tantangan bagi para pengusaha sebagai negara yang terlambat dalam mengembangkan teknologi broadband.
Teknologi ini merupakan salah satu jawaban untuk mempercepat tingkat e-readiness, karena layanan data bisa diakses di manapun dan kapanpun menggunakan teknologi tersebut.
Mastel juga meminta pemerintah untuk memberikan up front fee yang tidak memberatkan pengusaha agar tarif yang ditawarkan kepada masyarakat bisa diturunkan lagi atau tingkat kualitas layanan lebih baik.
Setyanto menambahkan pihaknya juga tidak menutup mata terhadap pengusaha yang menetapkan tarif lebih tinggi meskipun harga infrastruktur sudah cukup murah dari pemerintah.
“Maraknya pengembangan teknologi broadband seharusnya tidak mengehentikan pengembangan infrastruktur untuk jaringan tetap, khususnya untuk telepon tetap,” ujarnya.
Dia mencontohkan di Eropa, teknologi Wireless Broadband sangat maju dan mudah tersedia dimana pun dengan kualitas layanan terbaik. Hal itu didukung karena sudah adanya jaringan tetap sebagai fasilitas kases utama di rumah setaip masyarakat.
Kualitas Turun
Hal sebaliknya terjadi di Indonesia, karena jaringan telepon yang lambat dalam koneksinya dengan Internet, masyarakat berbondong-bondong menggunakan wireless broadband dan meninggalkan jaringan fixed phone.
Akhirnya, kualitas layanan untuk wireless broadband mengalami penurunan. Jumlah pengguna lebih banyak dari kapasitas yang dimiliki oleh para penyedia layanan telekomunikasi, apalagi jumlah frekuensi yang ditarwarkan pemerintah sangat terbatas dengan tarif up front fee relatif mahal.
“Harus ada edukasi untuk mengubah perilaku masyarakat, yang tentu saja didukung oleh kuatnya infrastruktur,” ujarnya.
Arjun Trivedi, Head of Indonesia Nokia Siemens Networks mengatakan kualitas 3G di Indonesia sekarang sangat buruk karena kurangnya ketersediaan infrastruktur di tengah meledaknya pengguna layanan data menggunakan fasilitas tersebut.


0 komentar:
Posting Komentar