21 Juli 2009 Kiprah Pemain Baru Diragukan

Koran Jakarta – Tender akses nirkabel pita lebar (Broadband Wireless Access/BWA) yang baru saja selesai pekan lalu menjadi indikasi industri telekomunikasi merupakan sektor yang masih seksi untuk berinvestasi. Bahkan, pemain baru atau yang selama ini dianggap kelas dua di industri telekomunikasi berani menawar harga frekuensi lebih tinggi.

Para pemain yang mengejutkan itu ialah PT Berca Hardayaperkasa, PT First Media, dan PT Internux. Berca berhasil menguasai 8 dari 15 zona, sementara First Media dan Internux berkibar di zona gemuk, yakni Banten dan Jabodetabek.

Namun, berkibarnya ketiga perusahaan itu justru menimbulkan keraguan dari industri telekomunikasi mengingat rekam jejak mereka yang kurang bersinar selama ini di sektor itu.

Internux adalah penyedia jasa Internet (PJI) yang selama ini berkibar di Makassar dengan dana terbatas. Barhasilnya perusahaan ini menguasai zona Banten dan Jabotabek, menurut kabar angin, tak bisa dilepaskan dari suntikan dana dari kelompok usaha Bosowa.

Pemenang lain, First Media, selama ini identik dengan televisi kabel dan akses Internet milik Lippo Group. Namun, Lippo memiliki goresan luka mendalam di hati industri telekomunikasi, khususnya berkaitan dengan kepemilikan saham di Lippo Telecom.

Lippo yang menguasai saham operator tersebut tidak pernah menggelar jaringan secara serius. Padahal, negara sudah memberikan alokasi frekuensi yang besar. Alih-alih membangun, perusahaan ini malah lebih sering bergonta-ganti kepemilikan hingga menjadi Axis seperti yang dikenal sekarang.

Semenatara itu, Berca Hardayaperkasa selama ini bergerak di bidang teknologi informasi dengan unit bisnis consulting service, Berca Cakra Teknologi, Berca Sistem Integrator, Berca Consulting Services, Berca Telecommunication Measurement & Infrastucture, dan Berca Jasatel (integrated services of telematic).

Jasatel ditenggarai akan menjadi kendaraan dari Berca untuk menjalankan bisnis BWA nantinya. Salah satu eksekutif Jasatel, Parlin Marius, menegaskan perusahaannya serius menggarap BWA dan komitmen itu tak perlu diragukan.

Namun, praktisi telematika, Michael S Sunggiardi, mengaku khawatir atas keberanian Berca yang bernafsu menguasai banyak zona di tender BWA. Padahal selama ini, perusahaan itu lebih berpengalaman di perdagangan ketimbang menyelenggarakan jasa.

“Berca terlalu bernafsu. Jika kenyataan nantinya pembangunan jaringan menjadi sudah, saya khawair akan frustasi dan mematikan bisnis tersebut,” katanya.

Harga Tinggi
Kekecewaan terhadap tender BWA juga diungkapkan Konsorsium Wimax Indonesia (KWI), khususnya terhadap perilaku PJI yang nekat menawarkan dengan harga tinggi untuk lisensi BWA.

“Total penawaran KWI 93,680 miliar rupiah. Sudah termasuk gila di atas harga wajar business plan. Ternyata pada supergila semua. Kami kalah oleh sama teman sendiri bukan dengan incumbent,” keluh juru bicara KWI, John Sihar Simanjuntak.

Di sisi lain, Telkom mengaku tidak khawatir dengan adanya pemain baru yang menguasai lisensi BWA. Apalagi perseroan memiliki lisensi untuk 12 zona (7 lisensi di 3,3 GHZ dan 5 lisensi di 2,3 GHz tanpa overlap) dari 15 zona di Indonesia.

“Telkom tidak kalah kalau dilihat dari penguasaan frekuensi dan zona, kami mencoba realistis. Bagi kami, lisensi BWA digunakn untuk memperkuat new wave business yang saat ini tengah tumbuh bagi pelanggan ritel maupun korporasi,” kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah.

Sementara itu, Juru Bicara Depkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan pemerintah memberikan masa sanggah untuk kemenangan yang dihasilkan dari lelang. “Silakan dimanfaatkan oleh peserta yang tidak puas. Masalah ada peserta yang bermasalah, kami tidak mau mendengar kabar angin. Satu hal yang pasti semua lolos persyaratan dan prakualifikasi tender yang ketat,” tegasnya. ■ dni/E-2

0 komentar: