07 Oktober 2009 CDMA semakin terpolarisasi ke telepon tetap

Oleh Sutarno
Wartawan Bisnis Indonesia

Populasi pelanggan telepon seluler di Tanah Air semakin terkutub tajam antara GSM (global system for mobile communication) dan CDMA (code division multipple access), karena hingga saat ini kedua teknologi itulah yang menjadi pilihan platform jaringan seluler nasional.

Operator CDMA terlihat gencar menggaet pelanggan baru, terutama di kelompok anak-anak hingga usaia remaja yang boleh dibilang merupakan “massa mengambang”. Disebutkan demikian karena mereka baru mulai menggunakan ponsel, sehingga cenderung ‘berkelana’ untuk mencoba dan membandingkan berbagai layanan seluler.

Pada saat itulah operator CDMA mengiming-imingi mereka dengan layanan fixed wireless (FWA) atau layanan telepon tetap nirkabel dengan tarif lebih murah dari GSM. Segmen pasar massa mengambang ini juga bisa berasal dari pelanggan lintas usia yang baru berkenalan dengan teknologi ponsel.

Kutub yang berlawanan dengan segmen pasar massa mengambang adalah pelanggan seluler yang sudah lama memanfaatkan teknologi tersebut. Karena nomor seluler sudah melekat menjadi bagian dari identitas diri, segmen pelanggan ini tidak akan berpindah operator beriming-iming tarif murah itu. Kalau toh harus membeli nomor baru, mereka umumnya tetap mempertahankan nomor yang lama.

Menurut catatan PT Telkom, hingga semester I/2009 jumlah pelanggan seluler nasional mencapai sekitar 175 juta, yang diperebutkan oleh 12 lisensi layanan dari 10 operator.

Ada dua operator yang mengantongi dua lisensi, yaitu Indosat dan Mobile-8. Indosat memegang dua lisensi untuk dua teknologi jaringan, yaitu GSM dan CDMA. Lisensi GSM Indosat merupakan izin untuk penyelenggaraan seluler, sedangkan CDMA untuk izin penyelenggaraan fixed wireless (FWA) atau telepon tetap nirkabel StarOne.

Adapun Mobile-8 memegang dua lisensi layanan berbeda tetapi masih dalam satu koridor jaringan CDMA, yaitu seluler (Fren) dan FWA (Hepi).

Sekadar kilas balik, polaritas jaringan seluler nasional terjadi ketika untuk pertama kalinya layanan CDMA bergulir 6 tahun silam. Tepatnya mulai 8 Desember 2003 ketika Mobile-8 meluncurkan layanan seluler, bukan FWA, dengan bendera dagang FREN.

Lalu bagaimanakah posisi CDMA di peta bisnis seluler nasional? Dalam 6 tahun perjalanannya, bisnis CDMA ternyata berkembang pesat karena potensi pasarnya dinilai sangat terbuka.

Dilihat dari sisi teknologi yang digunakan, saat ini terdapat tujuh lisensi CDMA, yaitu TelkomFlexi (Telkom), Esia (Bakrie Telecom), StarOne (Indosat), Hepi (Mobile-8), Fren (Mobile-8), Smart, dan Ceria (Sampoerna).

Cenderung ke FWA
Menurut perhitungan Bisnis, populasi pelanggan CDMA saat ini mencapai sekitar 28,8 juta. Dengan kata lain, jika Telkom menyebutkan bahwa pelanggan seluler nasional mencapai 175 juta, sekitar 16,5% dari mereka lebih memilih menggunakan telepon CDMA.

Boleh dibilang, meraih 16,5% ceruk pasar seluler dalam waktu 6 tahun merupakan sebuah prestasi bagi kubu CDMA. Palik tidak, bisnis seluler di Tanah Air menjadi tidak berjalan linear karena terpolarisasi ke dua kutub.

Sayangnya, bisnis seluler CDMA itu sendiri ternyata juga mulai terpolarisasi ke dalam dua kutub yang sepertinya saling menganibaliasasi.

Berbeda dengan teknologi GSM yang oleh pemerintah hanya dibukakan satu lisensi, yaitu seluler, untuk jaringan CDMA pemerintah memberlakukan dua lisensi: seluler dan CDMA.

Populasi pelanggan pada kedua kutub layanan seluler CDMA itu ternyata sangat timpang. Seluler CDMA yang dilayani tiga lisensi ternyata hanya mampu menjaring sekitar 5,5 juta pelanggan. Artinya, dari sekitar 28,8 juta pelanggan telepon CDMA, sekitar 81% terserap ke segmen layanan FWA.

Ini jelas membuat kutu CDMA menjadi tidak solid, karena layanan FWA bukan lagi menjadi tandingan GSM yang berbasis seluler.

Uniknya lagi, Mobile-8 yang semula menjadi pelopor seluler CDMA justru mulai tertarik menggelar layanan FWA dengan bendera dagang Hepi. Langkah Mobile-8 itu ternyata berbuah manis, karena hanya dalam tempo 3 bulan berhasil menjaring 300.000 pelanggan. Bandingkan dengan Fren yang secara rerata hanya mampu menjaring 37.500 pelanggan per bulan.

Apakah kemudian konsentrasi bisnis seluler CDMA akan lebih terfokus ke layanan FWA? Kalau benar ke arah itu, pilihan pelanggan seluler pada akhirnya akan terpolarisasi ke kutub layanan seluler dan FWA.

Dari mobilitas, layanan seluler jauh lebih unggul karena pelanggan bisa melakukan percakapan di tempat berbeda. Berbeda dengan layanan FWA yang membatasi pelanggan melakukan koneksi secara lokal, artinya tidak bisa berpindah kota.

Dalam posisi seperti itu, kehadiran layanan CDMA tidak lagi menjadi subtitusi GSM, karena kedua kutub layanan ini menjadi komplementer. Artinya, CDMA hanya menjadi pelangkap GSM karena tidak mampu menyediakan mobilitas seperti halnya layanan seluler GSM.

Jadi, seolah-olah setelah pelanggan memiliki nomor seluler GSM, operator CDMA berharap mereka melengkapinya dengan layanan FWA dari layanan CDMA.

Dalam konteks seperti itu, sampai kapan pun jaringan CDMA tidak akan mampu menggeser dominasi GSM di peta bisnis seluler Tanah Air. Apakah demikian? Hanya waktu yang akan membuktikannya. (sutarno@bisnis.co.id)

0 komentar: