11 Agustus 2009 ID-TUG RAGUKAN DIMULAI TAHUN INI

Pemerintah Minta Pembangunan Palapa Ring Dipercepat

Oleh Encep Saepudin

Jakarta, Investor Daily – Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) kembali mendesak PT Indosat Tbk, PT Bakrie Telecom Tbk, dan PT Telkom Tbk yang merupakan anggota konsorsium Palapa Ring memulai pembangunan fisik megaproyek tersebut sebelum Oktober 2009.

Untuk itu, Depkominfo akan mengundang anggota konsorsium Palapa Ring membahas kemungkinan percepatan pembangunan fisik proyek tersebut. Sementara itu, Indonesia Telecommunication User Group (Id-Tug) meragukan pembangunan fisik proyek Palapa Ring bisa dilaksanakan tahun ini, karena hingga kini konsorsium masih mengalami persoalan pelik terkait ketersediaan anggaran untuk memulai proyek tersebut.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, Gatot S Dewabroto mengatakan, idealnya pembangunan fisik proyek Palapa Ring bisa dimulai sebelum kabinet Indonesia Bersatu berakhir di bulan Oktober.

“Kendala pendanaan dapat dibicarakan solusi terbaiknya. Masalah itu bisa kita bahas bersama dan tuntaskan di bulan Agustus ini,” kata Gatot di Jakarta, beberapa watku lalu.

Sebelumnya, anggota konsorsium Palapa Ring meminta Depkominfo untuk memulai pembangunan fisik Palapa Ring pada Desember 2009. Hal ini sesuai dengan surat yang dilayangkan konsorsium Palapa Ring pada 12 Juni 2009 ke Depkominfo yang meminta kelonggaran waktu pelaksanaan pembangunan fisik dari Agustus ke Desember.

Gatot menjelaskan, Depkominfo belum dapat memberikan gambaran kemajuan terakhir dari proyek tersebut. Namun demikian, dia tetap optimistis proyek ini bisa berjalan pada tahun ini. “Kami hanya minta proyek segera dikerjakan dengan pendanaan yang tersedia,” tambahnya.

Sementara itu. Juru bicara Proyek Palapa Ring Rakhmat Junaidi menyatakan, pihaknya akan melakukan komunikasi intensif dengan Depkominfo soal pembangunan proyek Palapa Ring.

“Pertemuan akan dilakukan bulan Agustus ini,” katanya. Dia menegaskan, tiga anggota konsorsium yang tersisa, yaitu Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom masih berkomitmen untuk melanjutkan proyek. Begitu pula dengan pendanaannya, konsorsium tetap komit dengan anggaran yang disepakati, yaitu Rp90 miliar untuk Telkom. Sedangkan Indosat dan Bakrie Telecom masing-masing Rp30 miliar.

Tentang XL yang menyatakan mundur dari konsorium dinyatakan Rakhmat hanya penundaan jadwal. Pada dasarnya, XL akan kembali bergabung pada tahun berikutnya.

“Bukan tahun depan, tahun berikutnya. Kan tahun pertama baru tahun depan,” kata Direktur Corporate Services PT Bakrie Telecom itu menjawab rencana bergabungnya kembali XL dalam konsorsium.

Sementara itu, Sekjen Id-Tug Muhammad Jumadi pesimistis, proyek Palapa Ring bisa direalisasikan tahun ini juga. Problem yang membayanginya cukup berat.

“Pemerintah maunya sekarang memang benar harus begitu. Tapi, dari situasi perekonomian, sulit bagi mereka (konsorsium) untuk memenuhi harapan pemerintah,” kata dia.

Menurut dia, masalah utama yang mengganjal proyek ini adalah keterbatasan anggaran. “Sulit bagi operator untuk memaksakan diri membangunnya pada tahun ini juga. Kalaupun dipaksakan bisa menimbulkan masalah baru di kemudian hari karena dipastikan hasil pekerjaannya kurang memadai,” jelasnya.

Dia juga menyarankan, Depkominfo untuk bersikap tegas terhadap anggota konsorsium yang tersisa. Tanpa adanya sanksi, Jumadi, yakin masih ada kemungkinan anggota mundur dengan alasan klise, kekurangan modal.

Seperti diketahui, Palapa Ring merupakan megaproyek yang membangun jaringan kabel serat optik di Indonesia Timur. Kabel serat obptik itu diharapkan menjadi tulang punggung (backbone) serat optik nasional yang melingkari (ring) Nusantara. Ring itu terdiri atas tujuh cincin (ring) yang melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten.

Cincin kabel serat optik yang melingkari Nusantara itu diperkirakan sepanjang 35.280 kilometer membentang di bawah laut (submarine cable), dan sepanjang 21.708 kilometer membentang di daratan (inland cable). Kabel serat optik di Indonesia barat sudah terbentang, sedangkan di Indonesia timur masih kosong, sehingga lahirlah proyek Palapa Ring itu.

Megaproyek Palapa Ring itu adalah proyek pemerintah yang diserahkan kepada swasta, yang kemudian membentuk konsorsium Palapa Ring. Awalnya anggota konsorsium ada tujuh, namun dalam perjalanannya empat anggotanya mundur dan PT Excelcomindo Pratama Tbk adalah anggota konsorsium yang terakhir mundur, yakni pada awal tahun ini.

Awalnya, setiap anggota konsorsium sepakat untuk berkontribusi sebesar US$30 juta, kecuali Telkom (US$90 juta), dan Infokom Elektrindo (US$15 juta) hingga total dana yang bakal disiapkan sebesar US$225 juta. Akibat empat anggota mundur, konsorsium Palapa Ring itu hanya bisa menyediakan dana sebesar US$150 juta. Dana ini makin mengecil, bila dikaitkan dengan kenaikan biaya pengerjaan proyek tersebut akibat krisis finansial global akhir-akhir ini.

Konsorsium Palapa Ring tak kuasa meneruskan proyek tersebut karena setelah dihitung ulang, biaya pengerjaan penggelaran kabel serat optik sepanjang 11 ribu kilometer lebih di Indonesia timur itu ternyata membangkak, bahkan menjadi US$700 juta. Konsorsium Palapa Ring yang tersisa sempat ‘berteriak’ dan pemerintah sempat menimpalinya dengan janji untuk membantu.

Pemerintah pernah mengusulkan untuk membentuk ICT Fund dengan menggunakan dana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berhasil dihimpun Depkominfo. Selain itu, Menkominfo Muhammad Nuh juga pernah mengajak investor dalam dan luar negeri dari Korea Selatan, Tiongkok, dan Jepang untuk terlibat dalam proyek itu.

ICT Fund adalah lembaga yang bertugas menginisiasi pendanaan proyek-proyek telekomunikasi di Indonesia.

0 komentar: