Tampilkan postingan dengan label BakrieTel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BakrieTel. Tampilkan semua postingan

12 Desember 2009 Bakkrie Telecom jajaki obligasi global

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Jakarta (10/12/2009): PT Bakrie Telecom Tbk membuka kemungkinan untuk menerbitkan obligasi berdenominasi dolar AS tahun depan.

“Penerbitan itu tidak terburu-buru dan masih menunggu saat yang tepat,” ujar Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Dia mengatakan estimasi pendapatan ataupun laba bersih perseroan pada akhir tahun ini masih relatif tidak akan jauh dibandingkan dengan kinerja perseroan pada akhir triwulan III/2009.

Pada laporan keuangan terakhir itu, perusahaan berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,66 triwulan dan laba bersih sebesar Rp72,77 miliar.

Beberapa analis berdasarkan survei Bloomberg memprediksi pendaptan perusahaan mencapai Rp3,08 triliun pada akhir tahun ini.

Survei itu juga memproyeksikan laba bersih disesuaikan (net income ajusted) emiten yang memiliki operator CDMA Esia itu pada level Rp145,52 miliar.

Anindya juga menyatakan sedang memantau pergerakan pasar modal untuk melanjutkan rencana penawaran umum (initial public offering/IPO) PT Visi Media Asia pada tahun depan.

Visi Media Asia merupakan induk usaha bisnis media Group Bakrie di antaranya yaitu ANTV, TV One, dan Vivanews.

“Kami sudah mengaudit induk perusahaan, dana dari IPO akan kami gunakan untuk ekspansi usaha.”

Tunjuk underwriter
Secara terpisah, PT Bakrie & Brothers Tbk segera menunjuk penjamin emisi obligasi tukar senilai US$200 juta-US$250 juta yang akan dilaksanakan pada awal tahun depan.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan saat ini menajemen telah mengerucut pada tiga nama penjamin emisi untuk kemudian akan menetapkan dua nama.

“Kami akan pilih dua saja, yang penunjukannya dilakukan pada pekan depan,” ujarnya, pada Selasa.

Pada kesempatan itu dia mengoreksi soal pemberitaan Bisnis sebelumnya, edisi 24 November dan 8 Desember 2009, yang menyebutkan perihal penunjukan Credit Lyonnaise Securities Asia (CLSA) sebagai penjamin emisi obligasi tukar.

Menurut dia, CLSA hanya menggandeng BNBR untuk menggelar nondeal roadshow ke mancanegara, bukan sebagai penjamin emisi obligasi tukar tersebut.

Dia menyebutkan ada enam calon penjamin emisi yang diseleksi, tetapi tidak merincinya.

Pada 26 November, harian ini melaporkan enam penjamin emisi tersebut adalah Credit Suisse, Deutsche Bank Securities, JPMorgan, Merrill Lynch, Nomura, dan satu hedge fund asal AS. (21)

Read more.....

08 Desember 2009 Bakrie Telecom Belum Serius Bicara Akuisisi Dengan Telkom

Manajemen PT Bakrie Telecom (BTEL) bersikeras tidak akan menjual sahamnya ke Telkom. Anak usaha Bakrie Group ini masih fokus dalam meningkatakan jumlah pelanggan.

Rakyat Merdeka (07/12/2009) – Vice President Bakrie Telecom Erik Meijer menjelaskan, rencana akuisisi oleh PT Telkom itu belum sampai ke telinga manajemen dan pemegang saham BTEL.

“Nggak ada rencana apa pun, sama sekali tidak ada. Kita tidak pernah ketemu dengan Telkom, apalagi membicarakan mengenai akuisisi. Persoalan mengincar urusan perusahaan lain itu urusan orang,” cetus Meijer pada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Meijer menginginkan, Bakrie Telecom tumbuh pesat sesuai kemampuan. Karena itu, pihaknya tengah fokus pada peningkatan jumlah pelanggan akhir tahun ini sebanyak 10,5 juta pelanggan.

Menurutnya, Bakrie Telecom yakin terus berkembang seiring inovasi-inovasi pada konsumen. Meijer juga menajmin isu rencana akuisisi Telkom tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja Bakrie Telecom. “Sama sekali nggak mempengaruhi proyeksi BTEL ke depan,” tegas Meijer.

Sementra itu pekan ini, Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negera (BUMN) akan memanggil direksi PT Telkom terkait kabar rencana akuisisi Bakrie Telecom meski manajemen perusahaan pelat merah itu akhirnya membantah rencana tersebut.

“Saya belum dapat laporan Telkom soal itu. Minggu depan kita akan panggil direksi untuk meminta penjelasan,” kata Meneg BUMN Mustafa Abubakar di Jakarta, akhir pekan lalu. Pihaknya berencana meminta kejelasan direksi Telkom mengenai kabar itu.

Sebelumnya, salah satu direksi Telkom mengaku tengah mengincar Bakrie Telecom. Pernyataan dilontarkan Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno dalam paparan di Investor Summit 2009 di Jakarta, pekan lalu.

“Sudah ada pembicaraan dengan Bakrie Telecom, tapi masih terlalu awal untuk dipastikan. Kalau ibarat anak muda di kafe, kita sedang lirik-lirikan,” katanya.

Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengatakan, Telkom hingga saat ini belum punya rencana mengakuisisi operator telekomunikasi manapun. “Meskipun anailis terhadap lingkungan bisnis tetap dilakukan,” kata Eddy di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, perseroan hanya akan melakukan merger atau akuisisi jika berkaitan dengan transformasi bisnis seperti bidang telecommunication, information, media dan edutainment (TIME). Kata Eddy, pemberitaan yang menyebutkan seolah-oleh Telkom akan mengakuisisi perusahaan telekomunikasi berbasis CDMA, perlu diluruskan. ■ DWI

Read more.....

04 November 2009 BTEL tidak minati Desa Pinter

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia

Jakarta: PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) memilih fokus berinvestasi mengembangkan layanan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) dan sambungan langsung internasional (SLI) dibandingkan dengan mengikuti proyek universal service obligation (USO) Desa Pinter.

Rakhmat Junaidi, Direktur Layanan Korporasi PT Bakrie Telecom Tbk, mengatakan pihaknya tidak tertarik untuk proyek layanan data ini karena sudah tumpang tindih dengan proyek lainnya seperti tender broadband wireless access (BWA/WiMax) beberapa waktu lalu.

“BWA merupakan layanan data hingga desa kecamatan, proyek USO sebelumnya Desa Berdering juga tidak menutup kesempatan bagi pemenangnya untuk mengembangkan layanan data di desa kecamatan, sama dengan Desa Pinter ini,” ujarnya kemarin.

Bakrie Telecom akan menggunakan sisa belanja modal (Capex) 3 tahun (2008-2010) sebesar US$200 juta untuk 2010 dari total US$600 juta guna mengembangkan bisnis organik dan program Desa Pinter tidak termasuk di dalamnya.

Rakhmat menjelaskan hingga akhir tahun ini pihaknya diprediksi menghabiskan belanja modal sebesar US$400 juta untuk pengembangan bisnis, salah satunya membangun sentra gerbang internasional (SGI) Singapura untuk layanan SLI 009.

Bakrie Telecom sejak awal tidak mendaftar sebagai calon peserta prakualifikasi Desa Pinter di mana sumber pendanaannya diambil dari dana USO yang dibayarkan para operator telekomunikasi tahun lalu.

Padahal, hampir seluruh operator besar yang memiliki layanan data mengincar proyek ini, seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan anak perusahaannya PT Telkomsel. PT Indosat Tbk pun mengikutkan dua anak perusahaannya, yaitu PT Indosat Mega Media (IM2) dan Aplikasinusa Lintas Artha.

Masuknya perusahaan besar di atas dinilai lebih sebagai usaha mengamankan jaringan mereka yang selama ini sudah terbangun dan beroperasi di tingkat desa kecamatan agar tidak dimasuki kompetitor lainnya.

“Kami masih cukup optimistis dengan model bisnis dan organisasi yang ada saat ini untuk menghadapi persaingan ke depan dengan operator lainnya karena ada semangat untuk selalu lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah dengan berbagai inovasi terbaru,” ujarnya.

Read more.....

Bakrie Telecom siapkan capex US$200 juta

Oleh Bambang P. Jatmiko & M. Munir Haikal
Bisnis Indonesia

Jakarta: PT Bakrie Teleom Tbk akan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$200 juta pada tahun depan.

Wakil Presiden Direktur Bakrie Telecom M Danny Buldansyah mengatakan 75% dari belanja modal itu akan dialokasikan untuk pengembangan jaringan dan sisanya sebesar 25% untuk pengembangan teknologi informasi perseroan.

“Ada tiga sumber pendanaan yang akan dipakai untuk belanja modal itu, yaitu dari kas internal, vendor financing, dan dari rights issue beberapa waktu lalu,” ujarnya kemarin.

Menurut Danny, dana yang dialokasikan perseroan untuk belanja modal pada tahun depan itu merupakan bagian dari belanja modal yang dialokasikan dalam 3 tahun sebesar Rp6 triliun, terhitung mulai 2008-2010.

Untuk keperluan pendanaan sebesar US$600 juta, perseroan mengambil dana dari kas internal US$150 juta, pendanaan vendor sebesar US$150 juta, dan dari rights issue sebesar US$300 juta atau sekitar Rp3 triliun.

Bakrie Telecom akan memperluas jaringan di berbagai wilayah. Hingga saat ini jaringan Esia yang menjadi brand layanan operator ini, baru masuk ke 73 kota di Indonesia.

“Hingga akhir tahun ini kami menargetkan bisa mencatat pelanggan sebesar 10,5 juta, dan tahun depan bisa tembus 14 juta pelanggan,” tuturnya.

Direktur Corporate Services Rakhmat Junaidi mengungkapkan perseroan menjajaki berbagai opsi untuk menambah pendanaan keperluan investasi.

“Apakah obligasi atau pinjaman bank, itu belum diputuskan. Yang jelas kami akan mengembangkan secara organik dan mengoptimalkan dana yang dimiliki perseroan.”

Ada tiga langkah yang ditempuh oleh perseroan untuk meningkatkan jumlah pelanggan, yaitu menambah menara BTS, optimalisasi menara yang ada, dan menambah frekuensi.

Terkakit dengan penambahan frekuensi, perseroan telah mendapatkan pita lebar baru secara gratis berkapasitas 1,25 Mhz untuk wilayah Jawa Barat, Jakarta, serta Banten.

Perseroan berencana menggunakannya untuk memperkuat jasa layanan suara (voice).

Read more.....

13 Oktober 2009 Bakrie Siap Garap Palapa Ring Tahap II

Peresmian Palapa Ring I tertunda karena proses tender vendor belum beres

Gentur Putro Jati, Nadia Citra Surya

Jakarta, Kontan – Meski masih kekurangan biaya investasi US$75 juta, PT Bakrie Telecom Tbk dan konsorsiumnya yakin, pengerjaan proyek serat optik Palapa Ring tahap II bisa terealisasi dalam waktu dekat. Kini, proyek ini telah memasuki tahap finalisasi jalur dan pembicaraan dengan vendor.

Direktur Layanan Korporat Bakrie Telecom Rakhmat Djunaidi bilang, rencananya konsorsium akan memasang kabel serat optik sepanjang 3.220,4 kilometer (km) di bawah tanah dan bawah laut yang membentang dari Sulawesi hingga Papua. “Diharapkan dalam waktu dekat bisa kami realisasikan,”kata Rakhmat, akhir pekan lalu.

Rakhmat memberi sinyal bahwa saat ini, konsorium saat ini tidak memusingkan kekurangan biaya investasi sebesar US$ 75 juta itu.

Menurut perhitungan awal, konsorium Bakrie Telecom dan kawan-kawan membutuhkan dana sekitar US$ 225 juta untuk Palapa Ring II. Namun, kini mereka baru mengantongi dana US$ 150 juta. “Sebanyak US$ 90 juta dari Telkom, kemudian US$ 60 juta dari Bakrie Telecom dan Indosat,” kata Rakhmat. Dana ini kurang karena PT Excelcomindo Tbk(XL) memutuskan mundur dari konsorium itu.

Tahap I tertunda Lagi
Meski demikian, sejauh ini, pemerintah tetap yakin, proyek ini bakal tetap berjalan. Sebab, mereka yakin XL akan kembali bergabung menggarap proyek ini.

Sayang hingga kini, baik Bakrie Telecom maupun pemerintah belum memberi kepastian kapan proyek Palapa Ring II akan mulai bergulir.

Sementara, meski lebih maju, proyek Palapa Ring I juga belum berjalan. Rencana pembangunan fisik proyek Palapa Ring I yang tadinya akan dimulai hari ini (12/10) tertunda lagi. “Penundaan karena tendor vendor yang dimiliki Telkom belum selesai,” kata Sekretaris Jenderal Departemen Komunikasi dan Informatika Basuki Yusuf Iskandar.

Sebelumnya, Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo bilang, pihaknya siap menggarap proyek Palapa Ring tahap I. Untuk mengerjakan proyek tahap I, Telkom menyediakan investasi US$ 75 juta.

Pemasangan serat optik untuk tahap awal sepanjang 1.041 kilometer di dalam laut tersebut akan memakan waktu sekitar 400 hari. Setidaknya ada enam tempat menjadi landing point kabel tersebut. Dinataranya Mataram, Waingapu, dan Kupang. ■

Read more.....

30 September 2009 Bakrie Telecom jajaki merger dan akuisisi

Oleh Sylviana Pravita R.K.N
Bisnis Indonesia

Jakarta (29/09/2009): PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengkaji kemungkinan untuk merger dan akuisisi dengan investor asing. Kajian tersebut akan diselesaikan pada triwulan I/2009.

“Kemungkinan untuk M&A [merger and acquisiton] dengan investor asing terbuka dalam kajian kami. Seperti halnya, operator-operator telekomunikasi lain yang terbuka bagi investasi asing,” kata Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Danny Buldansjah, kemarin.

Dia mengatakan kemungkinan tersebut dapat berupa pembelian sebagian saham BTEL dan menjadi mitra strategis operator code division multiple access (CDMA) itu atau akuisisi terhadap perseroan.

Meski demikian, BTEL tetap akan mempertimbangkan konsolidasi dengan operator CDMA lokal dan mempertimbangkan seluruh aksi korporasi itu bagi peningkatan nilai perusahaan.

“Seperti yang dilakukan operator CDMA lainnya, kami juga mengkaji langkah konsolidasi. Meski demikian, kami perkirakan baru pada triwulan I/2009 kajian itu selesai, apakah kami memang akan berkonsolidasi atau tidak. Semua kemungkinan terbuka,” ujarnya.

Apabila saham BTEL dilepas pada konsolidasi itu, perseroan akan mempertimbangkan apakah harga saham anak perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk itu dibeli dengan harga yang tinggi.

“Setiap perusahaan yang dibeli pasti mengusahakan agar nilai sahamnya dibeli dengan harga tinggi. Bila BTEL yang mengakuisisi, kami harus memastikan apakah perusahaan yang diakuisisi itu dapat meningkatkan nilai perusahaan,” katanya.

Laba bersih Bakrie Telecom pada Semester I/2009 naik 16,7% menjadi Rp72,8 miliar dibandingkan dengan semester I/2008, yaitu Rp62,4 miliar.

Kenaikan itu seiring dengan pertumbuhan pendapatan bersih pada semester I/2009 yang mencapai Rp1,33 triliun, naik 44,9% dibandingkan dengan pereiode yang sama tahun lalu yaitu Rp938 miliar.

Jumlah pelanggan Bakrie Telecom semester I/2009 mencapai 8,9 juta pelanggan atau tumbuh 63,8% dibandingkan dengan jumlah pelanggan pada tahun lalu, yaitu 5,4 juta pelanggan.

Apabila dibandingkan dengan triwulan I/2009, jumlah pelanggan Bakrie Telecom mengalami peningkatan 10,9% dari sebelumnya yang berjumlah 8 juta pelanggan.

Pada perdagangan kemarin, harga seham emiten berkode BTEL ini ditutup pada level Rp141 atau turun 1,40% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 25 September 2009, yaitu Rp143.

Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp4,01 triliun.

Read more.....

19 September 2009 BTEL Masih Bertumpu Pada Pelanggan

Tahun ini, Bakrie Telecom menargetkan peningkatan jumlah pelanggan menjadi 10,5 juta orang

Abdul Wahid Fauzie

Jakarta, Kontan (17/09/2009)– Di tengah sengitnya persaingan bisnis telepon seluler, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih mampu mencetak kenaikan pendapatan serta laba bersih.

Pada semester I 2009, anggota The Seven Brother ini meraup pendapatan Rp1,33 triliun, naik 41,9% daripada semester I 2008. Emiten Grup Bakrie ini meraih laba bersih Rp72,8 miliar, lebih tinggi 16,7% dibandingkan laba bersihnya semester I-2008.

Penambahan pelanggan BTEL menjadi 9,8 juta orang adalah kunci kenaikan pendapatan dan laba bersih ini. Sebagai perbandingan, pada akhir kuartal I 2009, jumlah pelanggan BTEL baru 8 juta.

BTEL yakin, tahun ini jumlah pelanggannya bisa mencapai 10,5 juta. Tahun lalu, total pelanggan BTEL 7,3 juta pelanggan. Untuk mencapai target itu, BTEL akan memasang 1.000 base transceiver station (BTS) supaya jaringan teleponnya makin luas.

April-Juni 2009, BTEL telah membuka jaringan baru di Bukit Tinggi, Singaraja, Tanjung Pinang, dan Metro. Kini Esia, merek dagang BTEL, bisa diakses di 73 kota.

Selain menggenjot pertumbuhan organik, BTEL menempuh pertumbuhan non-organik lewat akuisisi. Konon, BTEL mengincar 19% saham Mobile-8 Telecom (FREN).

Sonny John, Analis Samuel Sekuritas Indonesia meyakini BTEL akan mencapai target pelanggan tahun ini. Sebab, BTEL mampu menampilkan citra sebagai operator CDMA bertarif murah. Apalagi daerah cakupan BTEL kian lusa.

Tapi, ekspansi ini menaikkan biaya operasional dan memangkas laba. Sonny memperkirakan, kendati pendapatan BTEL tahun ini bisa naik 25% menjadi Rp3,5 triliun, tapi laba bersihnya akan sama dengan 2008 yaitu Rp137 miliar.

Chandra Pasribu, Analis Danareksa Sekuritas, menghitung, jika pelanggan BTEL mencapai 10,5 juta, pendapatannya tahun ini naik 37% menjadi Rp3,84 triliun. Laba bersihnya juga bisa melejit 91% menjadi Rp262 miliar.

Selain itu, price to earning ratio (PER) BTEL masih 15,3 kali, di bawah PER industri 21,84 kali. Itu sebabnya Chandra merekomendasikan beli saham BTEL dengan target harga Rp175 per saham.

Sebaliknya, Kelvin Goh, Analis CIMB-Securities dalam resetnya merekomendasikan jual saham BTEL. Ia memangkas target harga dari Rp130 menjadi Rp110 per saham karena laba bersih semester I-2009 di bawah harapan.

Kemarin (16/9), harga BTEL ditutup di Rp142 per saham, sama dengan posisi penutupan bursa, Selasa (15/9). ■

Read more.....

16 September 2009 Laba Bakrie Telecom naik 16,7%

Oleh Sylviana Pravita R.K.N
Bisnis Indonesia

Jakarta (15/09/2009): Laba bersih PT Bakrie Telecom Tbk pada semester I/2009 naik 16,7% menjadi Rp72,8 miliar dibandingkan dengan semesteri I/2008, yaitu Rp62,4 miliar.

Kenaikan ini seiring dengan pertumbuhan pendapatan bersih (net revenue) pada semester I/2009 yang mencapai Rp1,33 triliun atau naik 44,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp938 miliar.

Menurut Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya N Bakrie, jumlah pelanggan Bakrie Telecom semester I/2009 mencapai 8,9 juta pelanggan atau tumbuh 63,8% dibandingkan dengan jumlah pelanggan pada tahun lalu, yaitu 5,4 juta pelanggan.

Apabila dibandingkan dengan triwulan I/2009, jumlah pelanggan Bakrie Telecom mengalami peningkatan 10,9% dari sebelumnya yang berjumlah 8 juta pelanggan.

Anindya mengatakan laju pertumbuhan pelanggan itu, terutama disebabkan oleh semakin dikenalnya merek Esia oleh masyarakat.

“Dengan pencapaian positif ini ditambah berhasilnya Bakrie Telecom mendapatkan tambahan bandwidth sebesar 1,25 Mhz dan lisensi sambungan langsung jarak jauh maupun sambungan langsung internasional menjadikan Bakrie Telecom siap berkembang penuh,” ujarnya kemarin.

Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, Bakrie Telecom mencetak pendapatan kotor (gross revenue) Rp1,66 triliun pada semester I/2009 atau naik 34,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2008, yaitu Rp1,23 triliun.

Peningkatan pendapatan itu juga menjadikan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi melonjak tajam 81,6% dari Rp341,30 miliar pada semesteri I/2008 menjadi Rp619,90 miliar pada semester I/2009.

Read more.....

15 September 2009 Bakrie Telecom Intensifkan Program CSR

Jakarta, Investor Daily – Bakrie Telecom melalui wadah BTEL ROCKS (Bakrie Telecom Reaching Out Kids and Communities) terus mengintensifkan program CSR (corporate social responsibility). Dengan mengusung progam “Kembali ke Fitri, Gerakan Hati Bersama BTEL.” Operator CDMA ini mengajak kaum dhuafa untuk berbuka bersama dengan anak yatim dan kaum dhuafa di Masjid Al Bakrie, Taman Rasuna, Jakarta.

“Hingga saat ini kami masih terus menggalang pengumpulan dana zakat fitrah dari karyawan BTEL, sehingga kami harapkan dapat memberikan lebih dari yang sudah terkumpul sekarang,” kata Rakhmat Junaidi, Direktur Corporate Services PT Bakire Telecom Tbk saat pemberian zakat pada kaum dhuafa di Jakarta, kemarin.

Pengumpulan dana zakat fitrah ini dilakukan oleh Majelis Taklim Esia berkerja sama dengan BTEL ROCKS, Esia Biker. Nama-nama tersebut merupakan wadah internal dari karyawan Bakrie Telecom yang selalu berusaha mewujudkan kekuatan hubungan antarkaryawan yang menunjang operasional perusahaan.

Di saat yang bersamaan juga dilakukan pelepasan roadshow “Sahur On The Road” oleh komunitas sepeda motor karyawan Bakrie Telecom – Esia Bikers. Para anggota Esia Bikers akan melakukan roadshow untuk membagikan bantuan makanan sahur di yayasan panti asuhan, pemberian bantuan dana operasional dan disertai pemberian wakaf Al-Quran. Roadshow ini akan berjalan secara serentak di enam kota pada tanggal 12 September, meliputi kota Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Lampung, dan Balikpapan. (mam)

Read more.....

07 September 2009 GM Bakrie Telecom jadi CS

Bandung, Bisnis Indonesia – GM Regional PT Bakrie Telecom Noor Patria Eka Putra bertindak langsung menjadi customer service (CS) dalam rangka Hari Pelanggan Nasional 2009.

Noor Patria menyebutkan eksplorasi saran, masukan, bahkan kecaman dari pengunjung langsung merupakan masukan berharga, di tengah tingginya atensi masyarakat Bandung kepada layanan yang pertama hadir pada 2004 lalu.

“Ini momen sangat tepat. Mereka telah memercayakan kami dalam kebutuhan telekomunikasinya. Itu harus kami sambut dengan kerja keras, termasuk bertemu langsung dan mendengarkan masukannya,” ujar Noor Patria Eka Putra, Jumat lalu. (BISNIS/MSU)

Read more.....

26 Agustus 2009 AKSI KORPORASI BAKRIE TELECOM

Jakarta, Kontan – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus memperluas jaringan. Operator seluler bermerek dagang Esia itu akan memasang 500 unit pemancar atau base transceiver station (BTS) baru di semester kedua 2009 ini.

Pada semester pertama 2009 lalu, BTEL telah merampungkan pemasangan 500 BTS. Jadi, tahun ini, BTEL total akan memasang 1.000 BTS baru. “Ini demi memenuhi pencapaian target total 10,5 juta pelanggan tahun ini,” kata M. Danny Buldiansyah, Deputi Presiden Direktur BTEL, Selasa (25/8). Dengan tambahan 1.000 unit BTS tahun ini, BTEL akan memiliki BTS sebanyak 3.800 unit.

Untuk membangun 1.000 BTS, BTEL mengambil sebagian dana dari penjualan 543 menara telekomunikasi miliknya. April tahun ini, BTEL meraih Rp450 miliar dari penjualan menara tersebut.

Selain itu, BTEL juga mengambil dana fasilitas pendanaan pemasok (vendor financing) dari Huawei yang totalnya mencapai US$150 juta. Fasilitas itu untuk mengambankan belanja modal BTEL hingga 2010 mendatang.

Tahun depan, BTEL akan menyiapkan belanja modal US$200 juta untuk menambah 1.000 unit BTS lagi. Dengan tambahan itu, BTEL menargetkan jumlah pelanggan naik menjadi 14 juta di 2010. “Satu unit BTS bisa menampung 4.000 pelanggan,” katanya.

Pada penutupan kemarin (25/8), saham BTEL naik 4,23% jadi Rp148 per saham. Rizki Caturini

Read more.....

25 Agustus 2009 Profit Bakrie Telecom diindikasikan melonjak

Oleh Sylviana Pravita R.K.N
Bisnis Indonesia

Jakarta: PT Bakrie Telecom Tbk mengindikasikan pertumbuhan laba bersih melonjak secara signifikan pada semester I/2009 dibandingkan dengan laba bersih pada semester I/2008.

Perseroan menyatakan tidak akan merevisi target jumlah pelanggan Bakrie Telecom yang dipatok 10,5 juta pelanggan pada tahun ini.

“Laba bersih Bakrie Telecom naik dibandingkan dengan posisi pada semestar I/2008,” kata Direktur Bakrie Telecom Jastiro Abi, kepada Bisnis kemarin.

Laba bersih Bakrie Telecom pada semestar I/2008 tumbuh 59,5% menjadi Rp62,40 miliar dibandingkan dengan semestar I/2007 yang tercatat senilai Rp39,10 miliar.

Pertumbuhan laba bersih pada semester I/2008 tersebut didukung jumlah pelanggan yang mengalami peningkatan menjadi 5,4 juta atau 141,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar 2,2 juta pelanggan.

“Jumlah pelanggan Bakrie Telecom tetap 10,5 juta pelanggan. Kami tidak berencana merevisi target itu. Pada akhir pekan ini, kami berencana menerbitkan laporan keuangan lengkap Bakrie Telecom yang saat ini masih diaudit terbatas,” kata Jastiro.

Adapun, pendapatan pada semester I/2009 diproyeksikan lebih dari 10% dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu.

“Kami akan melaporkan kinerja keuangan semester I/2009 pada akhir bulan ini dan diperkirakan pendapatan perseroan di atas 10%, double digit. Kami berkeyakinan semester II akan tumbuh lebih tinggi lagi,” ujar President Direktur Bakrie Telecom Anindya Novyan Bakrie belum lama ini.

Dia mengatakan industri telekomunikasi memiliki kecenderungan konsolidasi dan merger pada tahun depan.

“Untuk Bakrie Telecom, tunggu tanggal mainnya. Kami perlu hati-hati sekali karena mempertimbangkan adanya dana tambahan dari sisi ekuitas dan utang. Selain itu, juga menyangkut soal kompleksitas penggabungan usaha.”

Dia memaparkan perseroan fokus pada pengembangan organik pada tahun ini terkait dengan indikasi peningkatan target jumlah pelanggan yang semula dipatok 10,5 juta pelanggan.

Hingga semester I/2009, perseroan menambah jangkauan ke enam kota, yaitu Manado, Makassar, Banjarmasin, Pontianak, Samarinda dan Balikpapan.

Anindya mengatakan jumlah pelanggan Bakrie Telecom pada akhir triwulan I/2009 mencapai 8,05 juta pelanggan. “Kami yakin target 10,5 juta pelanggan pada tahun ini akan tercapai,” katanya.

Saat ini, manajemen fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui produknya yaitu Esia, Wifone, dan Wimode.

Kemarin, harga saham emiten berkode BTEL ini ditutup pada level Rp142 atau naik 3,65% dibandingkan dengan 21 Agustus, yaitu Rp137 per saham. Dengan mengacu ke harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan akan mencapai Rp4,04 triliun.

Read more.....

11 Agustus 2009 Bakrie Telecom Wakafkan Ribuan Alquran

Jakarta, Investor Daily – Operator telepon seluler Bakrie Telecom mewakafkan sekitar 4.700 jilid Alquran untuk memfasilitasi masyarakat belajar dan meningkatkan budaya baca Alquran.

Penyerahan wakaf Alquran itu dilakukan sekaligus peluncuran program Kembali ke Fitri, Gerakan Hati bersama BTEL yang digelar di Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Kota Bandung, akhir pekan lalu. “Saat ini sudah disebarkan sekitar 4.700 jilid Alquran ke beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan di Jawa Barat sendiri kami mewakafkan sekitar 1.800 jilid Alquran,” kata Direktur Corporate Service PT Bakrie Telecom Tbk, Rakhmat Junaidi dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Rakhmat, kegiatan wakaf Alquran tersebut merupakan bagian dari Program corporate social responsibility (CSR) perusahaan operator seluler itu.

Lebih lanjut, kegiatan itu juga merupakan bagian dari empat rangkaian program lainnya yang digelar B-Tel menjelang Bulan Ramadhan 1430 Hijriyah ini yakni Workshops Metode Cepat Belajar Alquran dan Khatam Alquran. “Kami memiliki sebanyak 35 mentor dari seluruh Indonesia, mereka akan memberikan pelajaran membaca Alquran dengan metode cepat dan tepat,” katanya. (mam)

Read more.....

10 Agustus 2009 PENJUALAN MOBILE-8 TELECOM

BTEL Kembali Menawarkan FREN


Jakarta, Kontan – Perusahaan telepon milik Group Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih berminat memblei 19% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) milik PT Global Mediacom Tbk (BMTR). Menurut kabar yang beredar, BTEL segera mengajukan penawaran baru untuk membeli 3,844 miliar saham FREN.

Sejauh ini manjemen Bakrie Telecom belum bersedia mengomentari soal rencana pembelian saham FEEN ini. “Sejauh ini BTEL masih bertahan dengan pertumbuhan organik,” kata Sekretaris Perusahaan BTEL Rachmad Junaidi, kemarin (9/8).

Direktur Utama BMTR Harry Tanoesoedibjo membenarkan sudah ada calom pembeli saham FREN. Namun, dia enggan mengungkapkan calon pembelinya. “Saya tidak bisa menyebutkan calon pembelinya karena terikat perjangjian kerahasiaan,” elaknya.

Harry menyatakan, BMTR akan langsung menutup transaksi penjualan dengan calon pembeli FREN itu. Saat ini proses penjualan saham FREN masih berjalan.

BMTR terus mengurangi kepemilikan saham FREN. Tahun lalu misalnya, BMTR menjual 22,79% saham FREN miliknya kepada Jerash Investment. Usai penjualan tersebut, BMTR tinggal memiliki 19% saham FREN.

FREN menyatakan, penjualan ini bagian dari restruturisasi bisnis FREN. Maklum, sesuai kesepakatan restrukturiasai dengan para pemegang obligasinya, FREN berusaha mencari suntikan dana guna menyehatkan keuangan dan menjalankan roda bisnisnya.

Salah satunya adalah dengan mencari investor baru. “Proses itu masih terus berjalan di level pemegang saham,” kata Chris Taufik Sekretaris Perusahaan FREN. *Rizki C, Sandy B

Read more.....

07 Agustus 2009 Bakrie Telecom Targetkan 10,5 juta Pelanggan

Jakarta, Investor Daily – Perusahaan telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (Btel) menargetkan sebanyak 10,5 juta pelanggan hingga akhir tahun 2009. Optimisme ini didukung data jumlah pelanggan pada triwulan pertama 2009 yang mencapai 7,3 juta dan pada triwulan dua 2009 mencapai 8 juta pelanggan.

“Hingga akhir 2009 kami menargetkan 10,5 juta pelanggan, pada 2010 kami menargetkan 14 juta pelanggan,” kata Wakil Presiden Direktur Bakrie Telekom Erik Meijer usai acara Bakrie Telkom Peduli H1N1 di Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan, pihaknya tetap konsisten menjalankan strategi bisnis telekomunikasi dengan harga murah untuk menghadapi ketatnya persaingan bisnis telekomunikasi tersebut.

Selain memberikan harga murah, pihaknya juga terus memperluas jaringan perusahaan di berbagai kota di seluruh wilayah Indonesia hingga ke wilayah kota tingkat dua atau kabupaten/kota.

“Saat ini kami sudah membuka sekitar 70 gerai di berbagai kota di Indonesia, karena setiap bulan biasanya membuka satu atau dua cabang,” kata Meijer.

Pihaknya merasa yakin pertumbuhan bisnis telekomunikasi perusahaan tersebut akan tumbuh lebih baik lagi pada semester dua tahun 2009. Namun demikian, pihaknya tetap berhati-hati dalam menjalankan bisnis tersebut, karena kekhawatiran dampak krisis keuangan global pada 2008 lalu.

“Kami juga akan mengeluarkan produk baru menjelang bulan Ramadhan,” katanya.

Sementara itu, dalam upaya memberikan informasi mengenai isu flu babi atau flu H1N1 bagi masyarakat, khususnya para pelanggan, Bakrie Telecom melakukan kampanye sadar kesehatan Flu H1N1 berupa layanan SMS (pesan singkat). (cep)

Read more.....

23 Juli 2009 NEC garap jaringan IP Btel

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia

Jakarta: PT Bakrie Telecom Tbk menunjuk NEC Indonesia untuk memperluas jaringan Internet protocol (IP) milik operator telekomunikasi tersebut.

Takeshi Tsukamoto, Presdir PT NEC Indonesia, mengatakan pihaknya mulai menyediakan sistem micro communications bagi Bakrie Telecom sejak 2006.

Kerja sama tersebut, lanjutnya, merupakan sebuah pengakuan akan kualitas tertinggi produk dan layanan NEC.

NEC akan menyediakan multi-service routers terkini dan peralatan instalasi terkait.

“Sejak itu kami memberikan kontribusi atas performa Bakrie Telecom dengan memasok banyak sistem komunikasi lainnya,” ujarnya melalui surat elektronik, kemarin.

Pada proyek ini router yang disediakan berasal dari Juniper Network karena antara kedua perusahaan telah memiliki perjanjian global reseller.

NEC sendiri yakin kerja sama global dengan Juniper akan mendorong perluasan bisnis jaringan IP perusahaannya di seluruh dunia.

Muhammad Buldansyah, Deputy President Director PT Bakrie Telecom Tbk, menilai pihaknya memperoleh banyak keunggulan pada sistem yang dipasok NEC sehingga sangat membantu layanan kepada pelanggan.

“Kami sangat senang melakukan kerja sama dengan perusahaan global dan terpercaya seperti NEC,” ujarnya.

Bakrie memerlukan tambahan kapasitas IP untuk mempertahankan kualitas layanan kepada pelanggan seiring dengan peluncuran fasilitas sambungan langsung internasional dengan kode 009 beberapa bulan lalu.

NEC Indonesia merupakan salah satu cabang dari NEC Corporation, salah satu provider terkemuka dunia dalam Internet, jaringan broadband, dan bisnis solusi enterprise.

Perusahaan ini juga menyediakan komputer, jaringan, dan peralatan elektronik.

Data Bloomberg mencatat pada Oktober mendatang NEC memproyeksikan keuntungan perusahaan akan mencapai 15 miliar yen.

Penjualan diperkirakan turun sebesar 9% menjadi 4,2 triliun yen, lebih rendah dari proyeksi semula yaitu 4,6 triliun yen.

NEC Corporation Januari lalu berencana merumahkan lebih dari 20.000 karyawan sepanjang tahun ini setelah proyeksi perusahan menunjukkan kerugian untuk yang pertama kalinya sejak 3 tahun terakhir.

Rencana merumahkan 20.000 dari sekitar 150.236 pegawai tetap dan pegawai kontrak ditetapkan seiring dengan adanya revisi proyeksi bisnis perusahaan setelah kehancuran kredit global berakibat pada penurunan permintaan chip.

Read more.....

07 Juli 2009 Bakrie Telecom isyaratkan merger pada 2010

Oleh Sylviana Pravita R.K.N
Bisnis Indonesia

Jakarta: PT Bakrie Telecom Tbk mengisyaratkan akan merealisasikan merger dan akuisisi dengan operator telekomunikasi lain guna konsolidasi perusahaan telekomunikasi pada pertengahan tahun depan.

“Arahnya memang berkonsolidasi dengan operator telekomunikasi lain pada pertengahan tahun depan. Saat ini, Bakrie Telecom memperkuat konsolidasi internal dulu,” ujar Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom M. Danny Buldansjah, kepada Bisnis, kemarin.

Danny memaparkan langkah tersebut semakin mengerucut terkait dengan ketatnya persaingan di sektor telekomunikasi dan besarnya dana yang digelontorkan operator telekomunikasi guna pengembanga usaha.

Selain berkonsolidasi secara internal, perseroan tengah mempersiapkan perkirakan dana yang akan dihimpun guna kemungkinan merger dan akuisisi itu.

“Kami belum tahu berapa dana yang diperlukan. Begitu juga pihak mana yang akan diakuisisi atau merger dengan perseroan,” ujarnya.

Terkait dengan kabar yang beredar di pasar bahwa PT Telekomunikasi Indonesai Tbk berminat terhadap kepemilikan atas Bakrie Telecom, Danny mengatakan perseroan dan Telkom belum pernah membahas langkah itu.

“Tidak tertutup kemungkinan dengan pihak mana pun, tetapi kami belum bisa apa pun dengan Telkom tentang hal itu.”

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie mengatakan saat ini perseroan lebih memilih untuk fokus mengembangkan bisnis secara organik, meski ke depan tidak menutup kemungkinan pengembangan bisnis secara organik.

Saat ini, manajemen fokus mengembangkan bisnis telekomunikasi melalui produknya Esia, Wifone, dan Wimode.

Tahun ini, Bakrie Telecom menargetkan jumlah pelanggan 10,5 juta dan ditargetkan dapat bertambah menjadi 14 juta tahun depan.

Perseroan juga memiliki bisnis sambungan internasional yang diharapkan bisa meraup sepertiga pasar sambungan langsung internasional, atau setara dengan Rp1 triliun dalam 3 tahun mendatang.

Adapun, Bakrie Telecom baru saja meraup dana Rp390 miliar dari total nilai penjualan menara telekomunikasi perseroan, yaitu Rp450 miliar.

Perseroan telah menunjuk PT Solusi Tunas Pratama sebagai pemenang tender penjualan 543 menara. Adapun, penjanjian jual beli (sales and purchasing agreement/SPA) dan Master Lease Agreement (MLA) ditandatangani pada 14 Mei 2009.

Pada perdagangan kemarin, harga saham emiten berkode BTEL ini ditutup pada level Rp123 atau turun 3,91% dibandingkan dengan 3 Juli 2009, yaitu Rp128.

Dengan mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp3,50 triliun.

Read more.....

23 Juni 2009 Btel Pertahankan Budget Operator

Republika – PT Bakrie Telecom Tbk (Btel) akan terus menerapkan model bisnis yang dijalankan selama ini. Model bisnis berkonsep budget operator dan belanja modal serta operasional yang efisien tersebut telah terbukti tahan terhadap krisis.

Pasalanya, model ini mampu meminimalisir dampak krisis keuangan global dan membawa perusahaan tumbuh di tengah iklim persaingan yang semakin ketat di industri telekomunikasi indonesia. Terbukti dari pencapaian perusahaan selama 2008 yang dianggap memuaskan di dalam rapat umum pemegang saham beberapa waktu lalu.

“Kami manfaatkan betul peluang yang ada dengan mengadopsi model bisnis budget telecom-low cost operator, menjaga dan menekan biaya, meningkatkan pendapatan dan strategi pemasaran yang inovatif dalam mencapai pertumbuhan yang berkesinambungan,” ujar Direktur Utama PT Bakrie, Anindya N Bakrie.

Menurut Anindya, pendapatan kotor perusahaan di 2008 mencapai Rp2.805,3 miliar atau naik 67,8 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp1.672,0 miliar. Kenaikan pendapatan tersebut didorong oleh faktor kenaikan laju pertumbuhan pelanggan yang mencapai 91,2 persen. Pada akhir 2007 jumlah pelanggan Bakrie Telecom baru mencapai 3,8 juta sedangkan pada akhir tahun 2008 jumlah ini meningkat hingga mencapai 7,3 juta pelanggan.

Diharapkan langkah-langkah agresif pengembangan layanan ini dapat mendorong laju pertumbuhan pelanggan yang ditargetkan sebesar 10,5 juta pelanggan di tahun 2009 dan 14 juta pelanggan di tahun 2010. Jumlah pelanggan Bakrie Telecom sendiri hingga kuartal pertama 2009 telah mencapai 8 juta pelanggan.

Tahun ini, Btel akan mencari belanja modal (capital expenditure) untuk 2008-2010 dari dana penjualan menara yang nilai keseluruhannya mencapai 600 juta dolar AS.

Belanja modal tersebut sebagian didapat dari right issue senilai Rp 3 triliun yang telah dilakukan pada kuartal pertama 2008. *mth

Read more.....

17 Juni 2009 Bakrie Telecom Belum Berminat Akuisisi Mobile-8

Jakarta, Investor Daily – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tidak berminat mengakuisisi saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN). Perseroan lebih tertarik untuk menaikkan pertumbuhan organik melalui pengembangan bisnis yang sudah ada.

Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie membantah telah membentuk tim kecil untuk mengkaji akuisisi Mobile-8. “Perseroan belum berminat untuk mengakuisisi saham Mobile-8. Para pemegang saham Bakrie Telecom juga meminta pertumbuhan anorganik dilaksanakan secara hati-hati,” ujarnya usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan di Jakarta, Selasa (16/6).

Hanya saja, menurut Anindya, perseroan masih mempertimbangkan rencana konsolidasi bisnis telepon seluler berbasis code division multiple access (CDMA) dengan Mobile-8. konsolidasi tidak akan dilaksanakan secara gegabah. Pihaknya mengakui Mobile-8 belum pernah menawarkan sahamnya kepada perseroan.

Dia menambahkan, pertumbuhan organik direalisasikan melalui pengembangan sejumlah produk, seperti Esia, Wifone, dan Wimode. Perseroan juga akan mendongkrak jumlah pelanggan menjadi 10,5 juta sampai akhir tahun ini.

Guna mengembangkan bisnisnya tahun ini, menurut dia, Bakrie Telecom menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2008-2010 senilai US$600 juta. Dananya berasal dari hasil penerbitan saham baru (rights issue) pada 2008 senilai Rp3 triliun. Selain itu, pembiayaan capex juga dihimpun dari hasil penjualan 543 menara dan kas internal.

Sebelumnya, Bakrie Telecom telah melepas sebanyak 543 menara telekomunikasi miliknya kepada PT Solusi Tunas Pratama senilai Rp450 miliar. Perseroan mendapatkan dana bersih senilai Rp390 miliar. Sisanya, Rp60 miliar akan diretensi oleh pembeli sebagai dana cadangan untuk perpanjangan masa sewa tanah/gedung yang ditempati menara tersebut selama 10 tahun.

Dia mengatakan, pembayaran penjualan menara dilaksanakan dalam empat tahap. Pembayaran pertama senilai Rp140 miliar telah diterima perseroan pada 1 Juni lalu. Selanjutnya, perseroan akan menerima Rp 80 miliar pada 1 Juli, Rp80 miliar pada 1 Agustus, dan sisanya mencapai Rp90 miliar pada 1 September 2009.

Anindya manambahkan, Bakrie Telecom menargetkan pangsa pasar sambungan langsung internasional (SLI) sebesar Rp1 triliun dalam tiga tahun mendatang. Saat ini, total pangsa pasar SLI di dalam negeri mencapai Rp 3 triliun.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi mengatakan, SLI diperkirakan mulai berkontribusi terhadap pendapatan perseroan tahun ini, meskipun nilainya kecil. “Kami memperkirakan kontribusinya SLI mulai besar pada 2010 dan 2011,” tandas dia.

Hingga kuartal I-2009, Bakrie Telecom meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 27,51% menjadi Rp816,097 miliar, dengan peningkatan 26,7% menjadi Rp73,01 miliar. Namun, laba bersih turun 79,18% dari Rp27,38 miliar menjadi Rp5,7 miliar. Penurunan laba akibat lonjakan beban keuangan dan rugi kurs.

Perseroan mencatat pendapatan produk Esia pra bayar menjadi kontributor utama terhadap pendapatan konsolidasi Bakrie Telecom setelah bertumbuh 32,45% menjadi Rp693,39 miliar dibanding priode sama tahun lalu Rp468,38 miliar. Sedangkan kinerja jasa telekomunikasi lainnya, seperti Esia pascabayar, Wifone Prabayar dan pascabayar, Esiatel, Ratelindo reguler, dan Ratelindo wartel justru melemah. (fei)

Read more.....

Bakrie Telecom Perluas ke Indonesia Timur

Surabaya, Investor Daily – PT Bakrie Telecom Tbk terus memperluas jaringan layanan di wilayah Indonesia timur, terutama di Kabupaten Singaraja, Bali dan Lombok, dan Nusa Tenggara Timur.

Saat ini layanan Esia, Wifone dan Wimode telah menjangkau sekitar 40 kota utama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan Pamasuka (Papua, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan).

“Potensi pasar Indonesia timur masih cukup menjanjikan dan potensial. Secara bertahap kami akan menggarap potensi pasar tersebut,” kata Vice President Regional Business Operation Bakrie Telecom untuk Indonesia Timur Dhany HMS di sela “Gathering Kawan Esia” di Surabaya, Selasa (16/6).

Selain Singaraja dan Lombok, Bakrie Telecom belum ada rencana memperluas jaringan ke kota lain. “Singaraja diharapkan akhir Juni ini sudah terlayani, sementara Lombok ditargetkan akhir tahun ini,” ujar Dhany. (zal)

Read more.....