Tampilkan postingan dengan label XLAxiata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label XLAxiata. Tampilkan semua postingan

12 Desember 2009 XL Raih Markeing Award 2009

Jakarta, Investor Daily (11/12/2009) – PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) mendapat penghargaan Marketing Award 2009 untuk kategori The Best Innovation in Marketing. Ini adalah penghargaan keempat berturut-turut sejak 2006. Penghargaan dari Majalah Marketing ini diterima Head of Mobile Data Service XL Budi Harjono dan General Manager Direct Sales XL Handono Warih.

“Keberhasilan dalam memasarkan produk layanan mengharuskan kami untuk selalu mampu memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggan. Ke depan, kami akan terus terpacu untuk mempertahankannya dengan mengembangkan inovasi-inovasi serta melakukan terobosan lain,” kata Budi Harjono di Jakarta, Rabu (9/12). (cep)

Read more.....

XL Gelar Kompetisi 12Tweet

Jakarta, Investor Daily (10/12/2009) – PT Excelcomindo Pratama (XL) menyerahkan hadiah utama program kompetisi 12Tweet, yang merupakan program kampanye digital untuk layanan single access *123#. Hadiah utama berupa satu unit sepeda motor Piagio Fly 150 diserahkan Vice President Marketing Communcitaion XL Turina Farouk kepada Rosdiyani, salah seorang peserta kompetisi yang berasal dari Jakarta.

“Kompetisi yang berlangsung 29 Oktober 2009 dan berakhir awal Desember itu diikuti 433 orang pengguna aktif Twitter, sedangkan tweet yang berhasil dikumpulkan mencapai 508.753,” kata Turina di Jakarta, Selasa (8/12).

Peluncurannya bertujuan untuk mempermudah pelanggan XL dalam memilih sendiri berbagai layanan bertaif murah dari XL yang mereka kehendaki. Selain itu, pelanggan bisa juga mengecek pulsa, masa aktif suatu program, serta sisa kuota atas paket yang dia ikuti. (cep)

Read more.....

10 Desember 2009 Right Issue Rampung, EXCL Bersiap Membayar Utang

Kontan (09/12/2009) – Pasca penerbitan saham baru (rights issue), PT XL Axiata Tbk (EXCL) bakal membayar utang mereka. Wakil Presiden Senior Financial EXCL Johnson Chan menyatakan, hasil penjualan saham baru tersebut akan rampung pada Jumat pekan ini (11/12). “Dan hasilnya akan langsung kami gunakan untuk membayar utang,” kata dia, kemarin.

Sekadar informasi, EXCL menerbitkan saham baru sebanyak 1,41 miliar saham dengan harga Rp2.000 per saham. Setiap lima pemegang saham lama memiliki hak membeli satu saham baru. Menurut prospektus, EXCL mengincar dana Rp2,83 triliun dari hajatan ini.

Presiden Direktur EXCL Hasnul Suhaimi mengatakan, hingga kini EXCL belum mengetahui berapa jumlah penawaran yang masuk. “Yang pasti, kami tidak sampai mengalami kelebihan permintaan (over subscribed),” katanya. Dia memperkirakan, hasil rights issue kali akan sesuai terget. Sehingga pembeli siaga alias standing buyer, Axiata Group, tidak harus turun tangan.

Dari target dana Rp2,83 triliun itu, XL akan menggunakan Rp300 miliar untuk membayar utang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini. Sisanya akan digunakan XL untuk melunasi seluruh utang secara bertahap. Hingga kuartal ketiga 2009, utang jangka panjang EXCL mencapai Rp16,65 triliun. * Vevy Mega

Read more.....

08 Desember 2009 Cisco garap solusi peningkatan kapasitas XL

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia

Jakarta (08/12/2009): PT Excelcomindo Pratama Tbk menerapkan solusi service and application module untuk Internet protocol (SAMI) Cisco dalam rangka meningkatkan kemampuan jaringan di tengah rencana pengembangan pasar.

Bambang Patrap Yakin, Presdir PT Datacraft Indonesia, konsultan implementasi, menuturkan proyek itu telah selesai diimplementasi.

“Kami menyatukan infrastruktur yang sudah ada dengan teknologi baru. Beberapa fasilitas pendukung di XL juga harus ikut serta ditingkatkan,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, ada beberapa tantangan pada saat menyelesaikan proyek itu, yang umum dijumpai pada proyek-proyek TI berskala besar, terutama dalam spesifikasi teknis.

“Namun, hubungan kami [Datacraft] dan Cisco Systems yang telah berlangsung lama memberikan pengetahuan yang dibutuhkan sehingga proyek ini dapat selesai tepat waktu,” ujarnya.

XL diklaim sebagai operator pertama di Indonesia yang menerapkan solusi SAMI, solusi terbaru dari Cisco yang unik dengan menyataukan teknologi dan konsep managed services, untuk meningkatkan produktivitas operasional.

Jangkau 90% populasi
Dian Siswarini, Direktur Jaringan XL, menuturkan pihaknya sebagai salah satu operator seluler besar di Indonesia memerlukan solusi peningkatan kapasitas jaringan GSM untuk mengakomodasi lonjakan jumlah pelanggan.

“Kami berharap ini akan mendukung permintaan atas layanan kami yang meningkat sebagai respons dari kesuksesan kegitan pemasaran,” ujarnya.

Jangkauan layanan XL sudah menjangkau sekitar 90% populasi yang mencakup Sabang di ujung barat Indonesia hingga Papua di ujung timur.

Saat ini, jaringan XL melayani sekitar 26,6 juta pelanggan yang didukung lebih dari 18.790 base transceiver station (BTS) per akhir September 2009.

XL bertekad menggenjot jumlah pelanggan. Operator itu sudah mengantisipasinya a.l. dengan meningkatkan teknologi signaling transfer point (STP) yang dimilikinya.

Read more.....

Aksi Korporasi XL Axiata

Buyback Obligasi EXCL Tak Terkait Aturan Pajak

Jakarta, Kontan (07/12/2009) – PT XL Axiata Tbk (EXCL) membantah kabar bahwa aksi pembelian kembali atau buyback obligasi mereka untuk mengantisipasi peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 62/PJ/2009. Beleid ini memaksa emiten yang menerbitkan obligasi global di luar negeri menggunakan special purpose vehicle (SPV), memungut pajak bunga obligasi sebesar 20%.

Nah, investor obligasi global terbitan perusahaan telekomunikasi yang sebelumnya bernama PT Excelcomindo Pratama Tbk ini sejak awal telah terkena pajak 20%. Pasalnya, para pemegang obligasi EXCL tidak bisa terindentifikasi keberadaannya.

Senior Vice President Corporate Finance and Treasury EXCL Johnson Chan menjelaskan, obligasi XL yang tercatat di Bursa Efek Singapura semenjak 18 Januari 2006 memang sempat hanya kena pajak bunga 10%. “Tapi sejak dua tahun lalu, kami membayar pajak 20%,” ujarnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Semula, XL sempat keberatan dan meminta banding ke Pengadilan Pajak. Namun, hitungan yang dilakukan Dirjen Pajak dengan akuntan XL berbeda. Akibatnya, obligasi senilai US$250 juta ini tetap harus terkena pajak bunga obligasi sebesar 20%.

Karena merasa keberatan, EXCL memiliki membeli kembali seluruh obligasinya tersebut. “Sejak lama, kami memang mempunyai rencana buyback. Hanya karena keterbatasan dana, kami membelinya secara bertahap,” ungkap Johnson.

Aksi pembelian obligasi pertama telah mereka lakukan pada 30 Juni 2008. Kala itu, XL membeli US$122,29 juta. Buyback kedua pada 20 April 2009 senilai US$3,63 juta. Selanjutnya, pada 1 Desember 2009, XL membeli kembali obligasi senilai US$64,63 juta. Hasilnya, obligasi XL yang tersisa di pasar hanya US$54,43 juta. “Kami tidak tahu apakah akan membelinya lagi,” kata Johnson.

Dia menjelaskan, selama ini, XL mengandalkan kas internal untuk melancarkan aksi buyback. Maklum, per 30 September 2009, kas internal EXCL mencapai Rp1,58 triliun.

Selanjutnya, EXCL berencana mengurangi surat utang berbentuk dollar AS. “Tahun depan, kami memproyeksikan, bisa mengubah proporsi utang dollar AS dari 50% menjadi 35%,” imbuhnya. Avanty Nurdiana

Read more.....

23 November 2009 Metamorfosis bisnis di balik nama Axiata

Oleh Sutarno
Wartawan Bisnis Indonesia

What’s in a name?” penggalan lirik drama gubahan William Shapespeare itu selalu diidiomkan orang untuk menafikan arti sebuah nama. Idiom itu mungkin muncul di benak pelanggan seluler XL ketika operator kesayangan mereka berganti nama menjadi PT XL Axiata Tbk.

Senin 16 November lalu, PT Excelcomindo Pratama Tbk yang lebih akrab dengan panggilan XL meresmikan nama barunya melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).

Secara teknis, perubahan nama itu leibh berdampak internal pada penyesuaian anggaran dasar perusahaan. Selebihnya, pelanggan tidak akan merasakan perubahan signifikan. Kata Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.”

Memang, diganti dengan nama apa pun, semerbak wangi bunga mawar tidak akan berubah. Seandainya penggubah drama Romeo and Juliet itu hidup pada zaman sekarang dan menjadi pelanggan XL Axiata, mungkin penggalan dialog drama itu bisa dipelesetkan menjadi “apalah arti tambahan nama Axiata, toh nomor pelanggan dengan awalan empat angkat 0817-0819 tidak ikut diganti.”

Pergantian nama itu tidak telepas dari restrukturisasi induk perusahaan XL Axiata, yaitu Axiata Group Berhad dari Malaysia.

Perusahaan itu menguasai 83,8% saham XL Axiata-melalui anak perusahaannya Indocel Holding Sdn Bhd. Pemegang saham XL Axiata lainnya adalah Etisalat International Indonesia (15,97%) dan publik (0,23%).

Axiata group juga baru berganti nama Maret 2009, yang sebelumnya lebih dikenal danan TM (Telecom Malaysia) International.

Axiata Group memutuskan menggunakan nama baru tersebut untuk melepaskan diri dari bayang-bayang ‘mantan’ induk perusahaannya, yaitu Telecom Malaysia (TM), karena telah disapih atau spin off sejak April 2008.

Dengan pemisahan tersebut, TM lebih berkonsentrasi menggarap layanan telepon tetap, Internet, teknologi informasi. Adapun TM International (yang kemudian berubah nama menjadai Axiata Group Berhad) diberi keleluasaan untuk mengembangkan bisnis seluler.

Pilihan kata Axiata merupakan dirivasi dari bahasa Barat dan Timur yang kemudian diformat mendekati kata Asia. Kalau ditelusuri dari bahasa Yunani, kata axia atau axio memiliki arti manfaat. “Visi kami adalah memajukan bangas Asia,” tulis siaran pers Axiata Group 2 April 2009.

Emas terpendam
Ada hal yang menarik di balik pergantian nama tersebut, karena hal itu hanyalah tanda yang tampak di permukaan dari proses metemorfosis raksasa bisnis telekomunikasi Malaysia.

Pijakan bisnis seluler Axiata Group di Malaysia-melalui Celcom (Malaysia) Berhad-sudah menunjukkan tanda-tanda kejenuhan. Celcom harus bertarung dengan Maxis dan DiGi untuk memperebutkan pasar domestik berpenduduk 28,31 juta per Juli 2009, menurut data Jabatan Perangkaan Malaysia atau Badan Statistik Malaysia.

Hingga Juni tahun ini, Celcom memiliki pelanggan sebanyak 9,7 juta nomor, jauh dibawah Maxis yang menguasai 40% pasar dengan 11,4 juta pelanggan. Adapun DiGi menempati peringkat ketiga dengan 7,11 juta pelanggan.

Total pelanggan dari tiga operator seluler tersebut mencapai 28,2 juta atau sekitar 99,6% dari total jumlah penduduk Malaysia.

Itulah sebabnya mantan anak usaha Telekom Malaysia itu jauh-jauh hari sudah mengambil ancang-ancang untuk mencari celah kejenuhan dengan merambah pasar regional Asia. Gebrakan pertama dilakukan di Bangladesh pada 1995 dengan membeli Aktel yang kemudian berganti nama menjadi Axiata Bangladesh (AxB). Saat ini Axiata menguasai 70% saham AxB.

Hingga kini, sayap bisnis Axiata Group sudah merambah 9 negara tetangga, yaitu Indonesia (XL Axiata), Srilanka (Dialog), Bangladesh (AxB/Axiata Bangladesh), Kamboja (TMIC/Telekom Malaysia International Company), India (IDEA), M1 (Singapura), Iran (MTCE), Pakisatan (Multinet), dan Thailand (SAMART).

Tiga anak usaha pertama merupakan unit usaha bidang telekomunikasi seluler dan menjadi primadona. Sekitar 48,5% dari total omzet Axiata Group sebesar Rp6.030 juta (16,8 triliun) pada kuartal II/2009 disumbangakan oleh XL Axiata, Dialog, dan AxB.

Bisnis seluler Celcom, memberikan kontribusi omzet 49,7%. Adapun kegiatan bisnis di Kamboja, Thailand, Singapura, India, Pakistan, dan Iran hanya memberikan kontribusi omzet yang sangat kecil, yaitu 1,8% selama April-Juni tahun ini.

Jika dilihat dari perspektif kontribusi omzet, XL Axiata merupakan ladang emas yang belum digali secara maksimal. Maklum, dengan 24,7 juta pelanggan (per Juni 2009), XL Axiata hanya mengontribusi 32% omzet. Bandingkan dengan Celcom yang hanya memiliki 9,7 juta pelanggan seluler (plus 420.000 pelanggan broadband seluler), tetapi kontribusinya mencapai 50%.

Rupanya, hal itu terkait dengan perolehan ARPU (average revenue per user) yang sangat timpang antara kedua unit bisnis seluler itu. ARPU bulanan pelanggan prabaya Celcom per Juni 2009 mencapai Rp41 (sekitar Rp114.000) atau hampir empat kali lipat dari ARPU prabayar XL Axiata. Adapun ARPU pascabayar Celcom mencapai RM97 (sekitar Rp270.000) atau 1,7 kali lipat dari ARPU pascabayar XL Axiata.

Namun, jangan lupa, masih sangat terbuka peluang menambah basis pelanggan XL Axiata karena penetrasi seluler di Tanah Air baru 76% dari total 230 juta penduduk, sementara Celcom harus berhadapan dengan pasar domestik yang sudah jenuh.

Kalau saja XL Axiata juga mampu ‘memancing’ pelanggan prabayarnya untuk menambah belanja pulsa bulanan, bukan tidak mungkin kontribusi XL Axiata menyalip Celcom.

Apakah momentum perubahan nama XL Axiata ini akan diikuti dengan gebrakan untuk menggenjot basis pelanggan dan mendongkrak ARPU? Kita tunggu saja. (sutarno@bisnis.co.id)

Read more.....

18 November 2009 XL Siap Kembangkan LTE

Jakarta, Investor Daily – PT Excelcomindo Pratama Tbk yang telah berubah menjadi PT XL Axiata Tbk (XL) menyiapkan teknologi Long Term Evolution (LTE) untuk mengantisipasi kebutuhan mobile broadband di masa depan. Soalnya, teknologi generasi keempat (4G) itu sejalan dengan roadmap pengembangan teknologi telekomunikasi ke depan.

“Kalau melihat roadmap-nya, teknologi sekarang mengarah ke LTE. Dan, kami ikut roadmap saja untuk mengembangkannya,” kata Direktur Commerce XL Joy Wahyudi usai RUPS LB di Jakarta, Senin (16/11).

Pilihan pada LTE, kata dia, belum final. Perseroan masih melakukan perhitungan bisnis. kesiapan infrastruktur dan ketersediaan perangkat yang dipakai pelanggan menjadi faktor lain yang dipertimbangkan. XL sudah menggelar jaringan berteknologi high speed packet access (HSPA), yang dikenal 3,5G. HSPA+ mampu menyediakan akses internet berkecepatan hingga 21 Mbps.

XL, kata Joy, sebenarnya sudah memakai teknologi HSPA+. Akan tetapi, teknologi itu belum banyak dirasakan pelanggan karena ketiadaan handset-nya di pasaran.

Jasa Kirim Uang
XL akan lebih menekuni jasa pengiriman uang (remittance) melalui jaringan telekomunikasi internasional mulai tahun depan. Masuknya ke bisnis ini karena tingginya transaksi pengiriman uang, terutama yang dikirim TKI dari Malaysia, Hong Kong, dan Timur Tengah.

“Ini bisnis masa depan. Kita (Indonesia) baru memulainya, tapi di negara lain sudah lama. Misalnya Filipina, yang sudah dibuka sejak empat tahun silam,” kata Dirut XL Hasnul Suhaimi.

Sebenarnya, remittance sebenarnya sudah lama diluncurkan XL bekerja sama Bank BNI untuk mengakomodasi kebutuh tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hong Kong dan Malaysia.

“kalau izin dari Bank Indonesia sudah keluar, kami akan langsung kerjakan. Ini bisnis bagus di masa depan,” kata Joy. (cep)

Read more.....

17 November 2009 XL Rambah Bisnis Pengiriman Uang

Jakarta, Koran Jakarta – Potensi besar pengirman uang yang dilakukan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ikut dilirik operator. Salah satunya dilakukan PT Exceolcomindo Pratama Tbk (XL) yang berencana menambah lini bisnisnya dengan menggeluti jasa pembayaran pengiriman uang melalui jaringan telekomunikasi.

“Kebutuhan pelanggan atas jasa tersebut lumayan besar. Para pemegang saham sudah menyetujui untuk terjun di bisnis ini. Langkah selanjutnya adalah meminta lisensi ke Bank Indonesia,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakara, Senin (16/11).

Selama ini, XL telah melakukan inkubasi layanan ini dengan Bank BNI untuk para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong. Rencananya, dalam layanan itu XL juga akan membidik untuk TKI di Malaysia dan Arab Saudi.

Direktur Pemasaran XL Nicanor V Santiago menjelaskan revenue generating dari layanan ini datang dari SMS notifikasi, penjualan pulsa, dan komisi pengiriman uang.

“Di Filipina masa inkubasi layanan ini empat hingga lima tahun,” kata dia.

Direktur Commerce XL Joy Wahyudi menambahkan guna menciptakan ekosistem dari jasa ini perseroan terus menggenjot jumlah pelanggan. “Salah satunya kami mengincar pelaggan dengan menjual ponsel bundling.”

Sementara itu, tren program bundling yang dilakukan operator seluler dengan produsen ponsel juga dilakuakn Gvon Nusantara yang mengusung merek Gvon. Produsen ponsel ini menggandeng XL untuk memasarkan beberapa model ponsel buatannya.

Direktur Gvon Nusantara Harianto mengungkapkan Gvon menggandeng XL untuk bundling ponsel seri Gvon 920 dengan harga 1,19 juta rupiah dan Gvon 950 dengan harga 999 ribu rupiah.

“Kedua ponsel ini target awalnya bisa laku sampai 100.000 unit. Tapi minimal jiga bisa 50 ribu unit sampai akhir tahun saja sudah bagus,” kata dia. ■ dni/E-2

Read more.....

Aksi Korporasi Excelcomindo

Ganti Nama, EXCL Rambah Ragional

Jakarta, Kontan – Menandai rencana ekspansinya ke pasar regional, PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) mengubah namanya menjadi PT XL Axiata Tbk. Nama ini mereka ambil dari nama pemegang saham mayoritasnya, Axiata Group Berhad.

Presiden Direktur EXCL Hasnul Suhaimi menjelaskan, perubahan nama ini telah mendapat persetujuan dari para pemegang sahamnya, kemarin (16/11).

Selanjutnya, bersama sekitar sembilan operator telekomunikasi di kawasan Asia, EXCL bersiap memberikan paket khusus bagi para pelanggannya di beberapa negara. Beberapa operator di kawasan regional yang akan digandeng EXCL, adalah Mobile One (M1) dari Singapura, Celcom dari negeri jiran Malaysia, dan Dialog Telecom PLC dari Srilanka.

Meski tidak mematok target pelanggan atas rencana ekspansi regional tersebut, Hasnul optimistis tahun depan produk-produk layanan EXCL semakin mendapat tempat di hati masyarakat.

“Salah satu layanan menarik yang kami berikan adalah batasan maksimum roaming pelanggan sesama operator Group Axiata tidak lebih dari Rp25.000 per hari,” kata Hasnul.

Aksi EXCL tidak berhenti sampai di situ. Hansul menerangkan, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) kemarin menetujui penambahan kegiatan usaha perusahaan halo-halo itu.

Tambahan layanan itu berupa layanan pembayaran pengiriman uang melalui jaringan telekomunikasi EXCL layaknya SMS Banking. “Ini akan semakin memperkaya manfaat layanan XL,’ kata Hasnul. Rencananya, EXCL akan meluncurkan layanan ini dalam waktu dekat.

Sekedar informasi, hingga akhir September 2009, jumlah pelanggan EXCL sebanyak 26,6 juta orang. Hingga akhir tahun nanti, perusahaan berharap setidaknya bisa memiliki 30 juta pelanggan.

Di sisi lain, EXCL juga menargetkan jumlah utangnya menyusut dari Rp18,5 triliun pada akhir September 2009 lalu menjadi Rp15,5 triliun. Caranya, melunasi utang lebih dini. Sumber dananya dari hasil penerbitan saham baru atau rights issue sebesar Rp2,84 triliun.

Pada akhir perdagangan kemarin, harga saham EXCL turun 1,59% menjadi Rp1.860 per saham. *Irma Yani Nasution

Read more.....

Saham Beredar Ditargetkan 10%

2010, Capex XL US$ 450 Juta

Oleh Eva Fitriani

Jakarta, Investor Daily – PT XL Axiata Tbk (EXCL) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) 2010 sekitar US$400-450 juta atau lebih kecil dibandingkan tahun ini sebesar US$600-700 juta.

Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi mengatakan, pihaknya akan mengandalkan kas internal dan pinjaman bank untuk membiayai capex tahun depan. Saat ini, perusahaan yang semula bernama PT Excelcomindo Pratama Tbk itu memiliki kas sebesar Rp1 triliun.

“Sejak Agustus 2009, arus kas perseroan sudah positif, sehingga posisi kas saat ini cukup kuat untuk membiayai capex,” ujar Hasnul di Jakarta, Senin (16/11).

Hasnul menjelaskan, sebagian besar dana capex akan digunakan untuk menambah jaringan telekomunikasi dan memperkuat fasilitas teknologi informasi. Ekspansi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja perseroan di atas pertumbuhan industri telekomunikasi.

“Pada 2010, pertumbuhan industri telekomunikasi diperkirakan 9-10%, sedangkan kinerja XL diproyeksikan di atas industri,” ujar dia. Sementara itu, tahun ini, pertumbuhan XL ditargetkan sekitar 11-12% atau di atas perkiraan pertumbuhan industri sebesar 7-8%.

Analis Ciptadana Syaiful Adrian pernah mengatakan, langkah XL meningkatkan kualitas jaringannya sangat penting guna menambah jumlah pelanggan. “Kalau dulu konsumen mencari operator telekomunikasi yang menawarkan harga murah, tapi kini mereka lebih mencari jaringan yang lebih baik,” kata Syaiful.

Menurut dia, XL perlu berinvestasi besar-besaran untuk kepentingan jangka panjang. Dengan begitu, perseroan bakal mampu menyaingi PT Indosat Tbk dan PT Telkomsel, yang saat ini punya posisi cukup kuat di masyarakat. Selain itu, perseroan juga harus melepas sahamnya ke publik supaya saham XL di bursa menjadi likuid.

Saham Beredar
XL menargetkan saham perseroan yang beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menimal mencapai 10% pada 2010. Karena itu, perseroan berniat melepas lagi sahamnya. Namun, aksi korporasi tersebut tetap mempertimbangkan kondisi pasar.

“Kami berharap, pelepasan saham ke publik dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham perseroan,” kata Hasnul. Saat ini, Axiata Group Bhd menguasai 83,3% saham XL, sedangkan Emirates Telecommunication Corp (Etisalat) memiliki 15,9% saham. Sisanya 0,2% dimiliki publik.

Sementara itu, dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan, kemarin, pemegang saham menyetujui rencana penawaran umum terbatas (PUT) I dalam rangka menerbitkan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Dalam rights issue tersebut, XL melepas saham baru sebanyak 1,42 miliar atau 20% dari total saham yang diterbitkan perseroan. Harga pelaksanaan penjualan saham itu sebesar Rp2.000 per unit. Setelah rights issue, jumlah saham XL yang beredar akan menjadi 8,5 miliar.

XL akan mendapatkan dana segar sebesar Rp2,84 triliun dari hasil rights issue. Axiata bertindak sebagai pembeli siaga.

Rencananya, dana hasil penerbitan saham baru itu dipakai untuk melunasi utang senilai US$ 140 juta kepada sindikasi DBS Bank Ltd, Export Development Canada, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd, dan Chinatrus Commercial Bank.

Selain itu, perseroan akan membayar tuntas pinjaman sebesar Rp400 miliar kepada PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Muzoho Indonesia senilai US$50 juta, BDS Bank Lts US$50 juta, dan EKN US$11 juta. “Pelunasan utang-utang tersebut akan dilakukan pada Desember 2009,” kata GM Corporate Finance & Business Analysis XL Silvia Hardiman.

Read more.....