28 Mei 2009 BISNIS OPERATOR CDMA

Mengandalkan Paket Data dan Perang Tarif Murah

Kontan (27/5/2009) – Tak dapat dipungkiri, GSM memang lebih digdaya ketimbang CDMA. Di seantero jagat GSM menguasai sekitar 86,6% pangsa pasar, sedangkan CDMA menikmati sisanya.

Bahkan di beberapa negara, ada operator CDMA yang bermigrasi ke GSM. Ambil contoh, Vivo – operator terbesar di Brazil dengan jumlah pelanggan 40 jutaan pada Agustus 2006 memutuskan berpindah dari CDMA ke GSM. Para pelanggan Vivo cukup mengganti handset, nomor yang mereka miliki tak berubah.

Di Indonesia, operator CDMA boleh dibilang baru berkembang. Salah satu bisnis andalan mereka adalah koneksi data. Smart Telecom, sebagai contoh, terang-terangan membidik pelanggan CDMA yang ingin mengakses internet murah dengan menggunakan handset. “Masyarakat sekarang sedang gandrung berinternetan. Makanya, kami memfasilitasi masyarakat dengan harga terjangkau,” kata Direktur Regulatory Smart Telecom Ubaidillah Fatah.

Tahun lalu Smart menggandeng handset merek Haier dan ZTE. Paket Haier harganya Rp289.000, termasuk paket data 12 gigabyte (GN) dan akses data selama enam bulan. Tarifnya bersaing Rp0,275 per kilobyte (kb).

Dengan menyasar pelanggan yang mementingkan akses data, Smart mendapatkan pelanggan yang lumayan. “Hingga akhir tahun kemarin, kami sudah meraih 2 juta pelanggan,” kata Ubaidillah. Tahun ini, operator milik Group Sinar Mas itu akan menggandeng vendor asal Amerika Serikat Motorola untuk bundling paket data dan handset.

StarOne juga mengaku menggarap pasar internet murah. Operator CDMA Indosat ini meluncurkan dua paket unlimited dengan harga modem antara Rp300.000 sampai Rp600.000. “Ini celah kami. Masalah HP 3G masih mahal dan modem HSDPA harganya juga mahal,” kata Kepala Divisi Merek StarOne Suhendri Naswill.

Jika Smart dan StarOne asyik bermain paket data, dua operator lain, yakni Flexi dan Esia masih asyik berperang tarif. Esia masih mengandalkan paket talktime Rp50 semenit ke sesama Esia. Pekan lalu, operator Bakrie Telecom itu meluncurkan paket berawalan angka 8 yang tarifnya lebih murah untuk menelepon ke operator lain (KONTAN 20 Mei 2009). “Tahun ini Esia menargetkan bisa meraih 10,5 juta pelanggan,” kata Direktur Korporasi Esia Rakhmat Junaidi. Hingga sekarang, Esia sudah berhasil menghimpun mencapai 7 juta pelanggan.

Flexi mengandalkan tarif Rp49 per menit dengan gratis bicara ke sesama Flexi. “Target kami, tahun ini bisa merangkul 16,5 juta pelanggan,” kata Wakil Presiden Humas dan markom Telkom Eddy Kurnia. Sebuah target yang bisa dibilang terlalu berani ditetapkan. Saat ini Flexi baru memiliki 5 juataan pelanggan. *Dian Pitaloka

0 komentar: