01 Juli 2009 Axis terancam gagal jual BlackBerry

Regulator didesak pendataan IMEI peranti genggam

Oleh Roni Yunianto & Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia

Jakarta: PT Natrindo Telepon Seluler (operator Axis) terancam gagal memasarkan BlackBerry pada akhir Juli seiring dengan kebijakan Departemen Komunikasi dan Informatika yang membekukan sertifikasi A milik Research In Motion (vendor BlackBerry/RIM) sampai waktu yang tidak ditentukan.

“Pembekuan sertifikasi berlaku untuk tipe lama, sedangkan untuk tipe baru tidak diterbitkan sertifikasi. Pembekuan dilakukan karena RIM enggan membuka layanan purna jual di Indonesia. Kondisi ini diberlakukan hingga ada kejelasan sikap dari vendor asal Kanada itu terkait dengan layanan purnajual,” ujar anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi, kemarin.

Menurut Heru, jika sertifikasi dibekukan, barang yang sudah berada di bea dan cukai seharusnya tertahan mengingat kelengkapan surat-suratnya tidak jelas.

Natrindo berencana memasarkan BlackBerry akhir Juli setelah terjalin kesepakatan kerja sama dengan RIM. Operator Axis itu akan menjadi mitra ke-4 RIM di Indonesia dalam memasarkan BlackBerry setelah Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo Pratama.

Dalam dua pekan terakhir, Natrindo mengklaim sudah menerima pendaftaran lebih dari 5.000 pelanggan BlackBerry dari 5 juta pelanggannya.

Chief Marketing Axis Johan Buse mengakui meskipun akan meluncurkan layanan BlackBerry pada akhir Juli, tetapi status barang masih dalam pemesanan dan sedang dikapalkan.

“Setahu saya pembekuan sertifikasi itu untuk tipe baru saja, karena itu Axis tetap optimistis barang tersebut bisa masuk,” tuturnya.

Untuk menyelenggarakan layanan BlackBerry, Natrindo telah menyediakan kapasitas jaringan hingga 10 Mbps yang didukung oleh 3.500 BTS. Operator itu juga telah mempersiapkan tim khusus untuk layanan BlackBerry dan memberi dukungan pelayanan dan penjualan melalui 22 Axis Center serta mitra, di antaranya Oke Shop.

Johan menegaskan masalah purnajual yang ditawarkannya berbeda dengan operator lain yang menjadi mitra RIM. “Kami berusaha memperbaiki kerusakan di Indonesia. Apabila tidak bisa ditangani, baru dikirim ke pusat layanan terdekat RIM di luar negeri,” tuturnya.

Pendataan database
Asosiasi Impor Seluler Indonesia mendesak pembangunan database peranti genggam impor yang akan menjadi alat bantu pendataan dan instrumen dalam menertibkan ponsel ilegal.

Eko Nilam, Ketua Asosiasi Importir Seluler Indonesia (AISI), mengatakan pihaknya mengajukan usulan kepada Departemen Komunikasi dan Informatika dan Departemen Perdagangan untuk mulai menyusun pendataan atau database sebagai satu-satunya cara yang dapat diandalkan sebagai instrumen penertiban ponsel ilegal.

“Ini usulan kami di mana pendataan itu akan mencatat nomor imei [international mobile equipment identifier] dari tiap-tiap handset sehingga siapa importirnya dapat diketahui,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Eko mengatakan usulan itu tidak ditujukan semata-mata untuk handset tertentu ataupun penertiban BlackBerry saja, melainkan untuk sekitar 80 merek ponsel di Indonesia. (roni.yunianto@bisnis.co.id/arif.pitoyo@bisnis.co.id)

0 komentar: