Perang Tarif Masih Jadi Hantu Telkom
Tahun depan, kinerja PT Telkomunikasi Indonesia Tbk mungkin hanya akan tumbuh tipis
Oleh Faisal Rachman – Kontan
Jakarta, Promosi banting-bantingan tarif telepon seluler (ponsel), masih jadi menu utama persaingan bisnis telekomunikasi. Perang tarif antar operator telepon tampaknya akan berlanjut hingga tahun depan.
Tahun depan, kinerja PT Telkomunikasi Indonesia Tbk mungkin hanya akan tumbuh tipis
Oleh Faisal Rachman – Kontan
Jakarta, Promosi banting-bantingan tarif telepon seluler (ponsel), masih jadi menu utama persaingan bisnis telekomunikasi. Perang tarif antar operator telepon tampaknya akan berlanjut hingga tahun depan.
Hampir semua operator merasakan dampak perang tarif ini. Bukan hanya operator kecil, perusahaan telepon kakap sekelas PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) pun merasakan pahitnya perang tarif.
Telkom adalah pemilik operator seluler Telkomsel dan Flexi.
Memang, pada kuartal ketiga 2008, jumlah pelanggan seluler Telkomsel melonjak 36% jadi 60.5 juta. Jumlah pelanggan Flexi pun naik 63% jadi 9.15 juta.
Tapi, gara-gara perang tarif dan jor-joran biaya promosi, Telkom tak bisa mencatatkan pertumbuhan kinerja. Bahkan pada kuartal ketiga 2008 ini, laba bersih Telkom turun 9.17% ketimbang setahun lalu menjadi Rp 8,92 triliun.
Kinerja biasa-biasa saja
Tahun depan, Telkom agaknya masih harus menelan kepahitan itu. Lukmansyah Sjarkawi, Analis AAA Securities berpendapat, pandapatan TLKM bakal tumbuh tipis pada 2009. “Dengan catatan, Telkom bisa meningkatkan jumlah pelanggan baru seperti kuartal ketiga 2008 yang mencapai 8 jutaan,” ucapnya.
Diluar urusan perang tarif, sejatinya Telkom tak punya beban lain. Telkom memang punya utang bermata uang dolar Amerika Serikta (AS) besar. Tapi, Lukmansyah melihat, peusahaan telekomunikasi plat merah ini masih sanggup mengatasinya. Soalnya, Telkom memiliki kas sebear Rp 7,54 triliun.
Lagi pula, rasio utang terhadap ekuitas atau debt of equity ratio (DER) TLKM hanya 1,37 kali. Itu terbilang kecil. “Struktur modal masih bagus. Telkom hanya tertekan dari sisi pendapatan karana perang tarif yang keras,” ujarnya.
Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah sempat menyatakan, Telkom akan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp 22,5 triliun tahun depan. Angka ini lebih rendah ketimbang capex 2008, yakni Rp 25 triliun.
Telkom akan menggunakan 60% capex untuk menambah jaringan transmisi dan Base Transceiver Station (BTS). Telkom juga berencana mengakuisisi perusahaan lokal maupun asing. Bahkan, mereka sedang menjajaki perusahaan telekomunikasi milik pemerintah Iran.
Nah, Lukmansya melihat, berbagai rencana ekspansi ini akan menyebabkan Telkom bakal sedikit kesulitan menekan biaya operasional. “Tentunya biaya operasional akan tambah besar,” ujarnya.
Akhmad Nurcahyadi, Analis BNI Securities memuji langkah Telkom menembus Timur Tengah. Sebab, pasar seluler di kawasan itu masih terbuka lebar. “Saya pikir Telkom memilih Iran karena biaya ekspansi kesana lebih murah dibandingkan kawasan lain.” ujar Akhmad.
Maka, Akhmad menyarankan TLKM berkonsentrasi pada pengembangan seluler dan internet di Timur Tengah. Peluang bisnis telepon berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) juga masih menarik.
Soal kinerja keuangan, Akhmad meramalkan, Telkom akan membukukan pendapatn Rp 63 triliun dan laba bersih Rp 11,7 triliun pada 2009. Sedangkan hingga akhir 2008, Telkom akan mencatatkan pendapatan Rp 61,2 triliun dan laba bersih Rp 10,93 triliun.
Sebagai pembanding, pada 2007 lalu, Telkom berhasil membukukan pendapatan hingga Rp 59,44 triliun dengan laba bersih Rp 12,85 triliun. Pertumbuhan kinerja TLKM memang tak signifikan. Tapi, Akhmad masih merekomendasikan beli saat melemah dengan target harga Rp 7.250 persaham. “Biasanya di harga itu, TLKM akam terkoreksi,” katanya.
Sedangkan Lukmansyah lebih memilih merekomendasikan tahan dengan target dengan harga Rp 7.400 per saham. “Situasi pasar masih sangat ketat,” imbuhnya. Senin (22/12) harga saham TLKM adalah Rp 7.050 per saham pada penutupan pasar.

0 komentar:
Posting Komentar