IPO Powertel Diminta Due Diligence Ulang

Jakarta, Investor Daily – Sejumlah calon investor penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Powertel Telecom Tbk (Powertel) meminda due diligence ulang. Akibatnya, perusahaan belum bisa menentukan porsi pejatahan saham untuk investor institusi dan ritel.

“Kami sudah melakukan roadshow, tetapi investor minta due diligence diulang kembali,” kata Direktur BNI Securities Jimmy Nyo selaku underwriter kepada Investor Daily, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan, para investor sebenarnya berminat membeli saham powertel, apabila kondisi pasar sudah bergerak stabil. Hal ini membuat rancana IPO perseroan kembali tertunda. Perseroan juga belum menyampaikan dokumen lanjutan (filling kedua) ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Guna melanjutkan rencana IPO, menurut dia, perseroan harus mengganti laporan keuangan yang digunakan sebagai syarat pernyataan pendaftaran kepada Bapepam-LK. Sebelumnya, perseroan menggunakan laporan keuangan Juli 2008 yang masa berlakunya berakhir akhir tahun lalu.

Dia menjelaskan, hingga kini, perseroan belum menetapkan jadwal baru pelaksanaan IPO saham tersebut. “Perseroan tetap komitmen IPO saham tahun ini, tetapi apakah masuk bursa pada semester satu atau tidak ? Hal itu belum diputuskan karena tergantung kepada emiten,” tambah Jimmy.

Awalnya, Powertel berniat menggelar penawaran umum pada 18 September 2008. Namun, perseroan terpaksa menunda IPO saham itu akibat belum terbitnya pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Perusahaan berniat melepas 34,78% saham kepada publik dengan harga penawaran Rp 250-350. Dengan demikian, diharapkan dapat meraup dana sebesar Rp 500-700 miliar.

Saat ini, perseroan memiliki price earning ratio (PER) mencapai 9,3-13,1 kali dengan asumsi laba bersih Rp 178,91 miliar pada 2009. Hal itu juga dihitung berdasarkan erning per share (EPS) sebanyak Rp 26 per saham pada 2009.

Perseroan berencana menggunakan sekitar 59% dana hasil IPO untuk investasi infrastruktur jaringan telekomunikasi berbasis serat optik dan fasilitas penunjang lainnya. Sebesar 32% dana hasil IPO saham akan digunakan untuk menambah modal kerja dan kebutuhan umum. Sedangkan itu, sisanya sebesar 9% untuk membeli kembali obligasi konversi perseroan. (fei)

0 komentar: