Oleh Encep Saepudin
Jakarta, Investor Daily – Proyek Palapa Ring terancam karena tidak lagi ‘menarik’ secara ekonomis-bisnis. Namun, anggota komisi I DPR RI dan BRTI menuntut pemerintah dan operator telekomunikasi yang menjadi anggota konsorsium segera merealisasikan proyek pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia bagian Timur itu.
Jakarta, Investor Daily – Proyek Palapa Ring terancam karena tidak lagi ‘menarik’ secara ekonomis-bisnis. Namun, anggota komisi I DPR RI dan BRTI menuntut pemerintah dan operator telekomunikasi yang menjadi anggota konsorsium segera merealisasikan proyek pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia bagian Timur itu.
Demikian rangkuman pendapatan yang dihimpun Investor Daily dari anggota Komisi I DPR RI Andreas Hugo Pereira dan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi di Jakarta, pekan lalu.
Ketua Konsorsium Palapa Ring (perwakilan dari PT Telkom Tbk) Tonda Prayitno mengatakan, berkurangnya jumlah anggota konsorsium Palapa Ring adalah faktor menentukan. Semula anggota konsorsium Palapa Ring ada tujuh perusahaan. Masing-masing perusahaan semula berkomitmen urunan sebesar US$30 juta, kecuali Telkom (US$90juta) dan PT Infokom Elektrindo (US$15 juta).
Namun, dalam perjalannya, tiga anggota konsorsium (PT Powertek Utama Internusa, PT Infokom Elektrindo dan PT Macca System infocom) mundur dari keanggotaan konsorsium yang tersisa tingga PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, PT Excelcomindo Pratama Tbk, dan PT Bakrie Telecom Tbk. Total dana yang bisa disiapkan anggota konsorsium pun berkurang dari US$225 juta menjadi US$180 juta.
Menurut Tonda, dengan berkurangnya dana ditambah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyebabkan pendanaan untuk pembangunan jaringan kabel serat optik sepanjang 11 ribu kilometer (km) yang melingkar di kawasan timur Indonesia berkurang. Akibatnya, panjang kabel serat optik yang akan digelar pun terancam terpangkas.
“Pemangkasan panjang kabelnya bisa mencapai separuhnya. Akibatnya, jumlah kota yang akan dilalui kabel serat optik itupun bakal berkurang,” kata Tando pekan lalu.
Akibat lebih lanjutnya, kata Tando, bila proyek itu tetap dilanjutkan, proyek itu menjadi tidak menarik secara bisnis bagi operator telekomunikasi. “Jika proyeknya kami lanjutkan akan menjadi kurang menarik revenue-nya bagi kami,” kata dia.
Departemen Komunikasi dan Informatika(Depkominfo) minta laporan terakhir dari konsorsium yang harus dipresentasikan pada Maret ini. Namun, Tonda belum bisa mengabarkannya. Pertemuan-pertemuan yang dilakukan anggota konsorsium belum menemukan titik temu. Masing-masing anggota belum sepakat mengenai kurs yang akan digunakan.
Namun demikian, konsorsium Palapa Ring menyambut baik bila pemerintah membantu mencarikan bantuan dari Jepang, Korea Selatan, maupun Tiongkok. Yang penting, kata Tonda, proyek bisa direalisasikan sesuai jadwal karena operator pun sudah lelah dengan molornya proyek besar itu.
Anggota Komisi I DPR Andreas Hugo Pareira menuntut agar proyek Palapa Ring yang akan menyatukan jalur komunikasi Indonesia itu segera dibangun. “Kalau soal dana, gunakan saja sesuai kemampuan sehingga proyek tetap berlanjut,” ujar dia.
Proyek Palapa Ring sudah lama dinantikan masyarakat, khususnya di Indonesia bagian timur. Bila pemerintah beserta konsorsium Palapa Ring kembali menunda proyek tersebut, itu justru akan menimbulkan penafsiran ketidak mengertian para pemangku kepentingan terhadap visi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang disatukan dalam infrastruktur komunikasi.
Anggota BRTI Heru Sutadi mendesak operator segera merealisasikan proyek ini sesuai anggaran yang tersedia. Kerugian yang jauh lebih besar justru akan muncul bila proyek ditunda lagi. Alasan kurang menarik secara bisnis, terutama dalam penerimaan operator, dianggap sebagai alasan yang tidak masuk akal.
“Itu sama saja bikin pepatah duluan mana telur sama ayam. Duluan mana internet sama Facebook,” kata Heru.
Penerimaan yang diinginkan konsorsium akan tercapai bila proyek selesai dibangun. Dengan potensi kekayaan alam yang terkandung didalamnya, proyek itu bisa mengakselerasi perekonomian di kawasan tersebut. Pada gilirannya, penerimaan operator bertambah besar dari proyek tersebut.
Sementara itu, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Romy Satria Wahono yakin, jumlah pengguna internet bakal naik drastis bila Palapa Ring menjadi kenyataan. “Kesediaan infrastruktur mengubah individu untuk menerima dan jutru memanfaatkannya. Sudah pasti pengguna jadi bertambah,” kata dia.
Kebutuhan Palapa Ring yang dikaitkan dengan trafik internet sangat mendesak. Merujuk pada data yang dikeluarkan internet-worldstats.com, kata Romy, peringkat pengguna internet di Indonesia secara global menurun dalam tiga tahun terakhir 2006-2008, yaitu 13, 14 dan sekarang 15. Namun, dihitung dari jumlahnya, justru naik masing-masing 18 juta (2006), 20 juta (2007), dan 25 juta (2008). Kenaikannya menyebabkan akses ke internet menjadi lambat akibat keterbatasan jaringan yang tersedia.
“Intinya, kita perlu backbone yang besar untuk internet. Dan, kebutuhan ini sudah sangat mendesak,” kata dia.
0 komentar:
Posting Komentar