06 Maret 2009 PERSAINGAN BISNIS SOLUSI TI

SAS Tak Gentar Hadapi Sigma

Jakarta, Investor Daily – Persaingan bisnis software segmen enterprise kian memanas. Untuk segmen ini, sektor perbankan, instansi pemerintah, dan telekomunikasi bakal menjadi rebutan para vendor solusi teknologi informasi (TI).

“Kami akan bersaing di ketiga sektor ini dan ini wajar untuk sebuah bisnis,” kata Country Manager PT SAS Institute Indonesia Uday Mathkar menjawab pertanyaan Investor Daily di Jakarta, Rabu (4/3).

Pada kesempatan yang sama, pakar SAS asal Malaysia, Edwart E Cheah memaparkan Indonesia akan menjadi target utama pasar software di Asia Tenggara menyusul menurunnya pertumbuhan ekonomi di beberapa negara Asean.

Namun, penurunan itu belum cukup berpengaruh di Indoensia sebab pasar TI dan software di Indonesia masih sangat besar. Hanya saja, ada beberapa sektor yang bakal menjadi pusat perebutan pasar para vendor yakni perbankan, telekomunikasi, dan instansi pemerintah.

“Dari ketiga sektor itu sebagian besar produk kami sudah masuk ke perbankan,” kata Uday.

Kuasai 20%
Uday memaparkan saat ini pihaknya telah menguasai hampir 20% pasar perbankan. “Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan beberapa bank besar lainnya sudah menjadi pelanggan kami,” kata Uday.

Sejak berdiri awal tahun lalu ekspansi SAS di segmen enterprise tergolong agresif. Selama 2008, SAS berhasil menjaring 28 pelanggan dan sebagian besar atau sebanyak 20 pelanggan merupakan perusahaan yang bergerak di sektor finansial.

“Sisanya di telekomunikasi. Dan satu lagi di pemerintah, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas),” ujar Uday.
Tahun ini, SAS menargetkan mampu menjaring sampai 34 pelanggan.

Menyinggung ketatnya persaingan di sektor perbankan, Uday mengatakan, pihaknya tidak gentar menghadapi para pesaing seperti anak usaha PT Telkom, PT Sigma Cipta Caraka, yang mengklaim telah menguasai 50% pasar perbankan. Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) memperkirakan belanja TI setiap bank rata-rata US$15-35 juta selama 2008.

Menanggapi hal tersebut, SAS optimistis bakal meraih ceruk yang lebih optimal di sektor ini. Sukses SAS menangani solusi TI enterprise kakap di banyak negara akan menjadi senjata andalan memenangkan persaingan. “Keunggulan kami adalah sudah memiliki pengalaman internasional. Jadi kami tahu persis apa yang menjadi kebutuhan dan keunggulan kami. Kami sudah melayani lebih dari 44 ribu perusahaan di seluruh dunia,” kata Uday.

Selain itu, SAS sangat berpengalaman panjang dalam mengembangkan aplikasi software untuk sektor perbankan. “Sebanyak 42% dari pelanggan kami merupakan industri berbasis perbankan dan institusi keuangan,” kata Uday. Data SAS menunjukan, sebanyak 96 dari 100 perusahaan yang masuk dalam Fortune 500 merupakan pelangan SAS.

Dikatakan Uday, keunggulan SAS Indonesia adalah pihaknya mampu menyediakan layanan bantuan bagi pelanggan, memberikan konsultasi dan memberikan pelatihan secara lokal agar aplikasinya gampang diterapkan.

Selain itu SAS hanya fokus pada beberapa solusi saja, seperti customer intelligence, financial intelligence, risk intelligence, dan supply chain intelligence. “Semua yang kami tawarkan ini paling dibutuhkan perbankan,” ujar Uday.

Segmen UKM
Menanggapi maraknya para vendor masuk ke segmen usaha kecil dan menengah (UKM), Edward mengatakan semua produk SAS dapat diterapkan buat UKM. “Para pelanggan tinggal menyesuaikan dengan paket-paket yang kami miliki,” kata Edward.

Numun berdasarkan informasi yang didapatkan Investor Daily, harga paket termurah SAS sebesar US$300 ribu atau sekitar Rp3 miliar lebih. SAS Indonesia memiliki 50 produk solusi software dan TI saat ini. (rav)

0 komentar: