2011, Operator Tersisa LimaOleh Rizagana dan Encep Saepudin
Jakarta, Investor Daily – Perang tarif diikuti krisis finansial global membuat operator telekomunikasi di Indonesia berkonsolidasi. Dampaknya, jumlah operator telekomunikasi bakal menciut dari saat ini sebelas menjadi lima atau enam operator pada 2011.
Di sisi lain, maraknya operator menyebabkan penetrasi telekomunikasi dalam negeri meningkat menjadi 70%. Dengan demikian, ceruk pasar yang diperebutkan 11 operator baik itu berbasis teknologi GMS maupun CDMA semakin kecil untuk melayani lebih dari 227 juta penduduk Indonesia.
“Saya memperkirakan, hingga akhir 2011 total operator yang masih mampu bertahan tinggal lima. Sisanya harus konsolidasi. Bahkan, dari segi bisnis seharusnya ada satu operator yang gulung tikar tahun ini,” kata Presiden Direktur PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom Rinaldi Firmansyah saat berkunjung ke kantor redaksi Investor Daily di Jakarta, Rabu (22/4).
Pejabat Telkom yang turut hadir, antara lain Direktur Keuangan Sudiro Asno, VP Public and Marketing Communications Eddy Kurnia, dan Head of Corporate Communications Eddy Praptono.
Menurut Rinaldi, bisnis telekomunikasi diperkirakan mulai mencapai titik jenuh pada 2013.
Ia mengakui, total operator telekomunikasi di Tanah Air saat ini merupakan terbanyak di dunia. Di negara lain, seperti di Inggris dan Amerika Serikat, Jumlah operator berkisar empat atau enam perusahaan. Bahkan, di Australia hanya ada tiga operator.
“Karena banyaknya jumlah operator, perang tarif terutama jasa seluler sulit dihindari. Akibatnya, bisnis telekomunikasi menjadi kurang sehat,” tandas dia.
Data menunjukkan, dari 11 operator saat ini, PT Telkomsel menguasai sekitar 46% pangsa pasar seluler di Indonesia per September 2008, dan diikuti PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL).
Telkom menguasai 56% saham Telkomsel, sisanya Singapore Telecommunication (Singtel). Sedangkan dua operator terbesar fixed wireless access (FWA) dikuasai Telkom Flexi dan PT Bakrie Telecom Tbk lewat Esia.
Adapun PT Hutchison CP Telecom, PT Mobile-8 Tbk, PT Smart Telecom (Smart), dan PT Sampoerna Telekomunikasi, serta PT Natrindo Telepon Seluler merupakan pemain baru.
Rinaldi berpendapat, alotnya proses merger atau konsolidasi antaroperator telekomuniasi dalam negeri dibandingkan negara-negara lain, karena sebagian besar pemiliknya terafiliasi dengan konglomerat. Mobile-8 misalnya dimiliki pengusahan Harry Tanoesoebidyo, Hutchison oleh Li Ka-shing dari Hong Kong, dan Smart oleh Grup Sinar Mas. Sedangkan Sampoerna di kuasai keluarga Sampoerna.
Namun, tegas dia, investor tidak mungkin terus menerus bersedia menyuntikkan dan merugi. Akibatnya, konsolidasi atau merger menjadi pilihan terbaik ke depan. Dia yakin, tahun ini ada satu atau dua operator berkonsolidasi.
Berdasarkan survei Deutche Bank pada 2005, tarif jasa seluler di Tanah Air sebesar US$ 0,15 per menit merupakan termahal di Asia, setelah Tiongkok. Pada 2008, menurut lembaga sama, tarif seluler turun menjadi US$0,015 per menit atau termurah di Asia.
“Dengan kondisi itu, operator yang tidak siap akan kewalahan, karena pemegang saham menuntut keuntungan dari investasi yang sudah ditanamkan. Kondisi ini makin memberatkan seiring krisis saat ini,” jelas Rinaldi.
Ketika ditanya apakah Telkom tertarik mengakuisisi salah satu di antara operator itu, dia menegaskan, BUMN ini lebih memilih pasif. Sebab, Telkom dan Telkomsel sudah mampu melayani lebih dari 95% penduduk Indonesia baik itu di kabupaten maupun perdesaan. Bahkan, Telkomsel tengah memperluas cakupan layanan sampai kecamatan. “Sulit menjawabnya, itu tergantung situasi. Yang pasti, kami tidak agresif,” ujar dia.
Dihubungi tepisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi sepakat dengan pendapat Rinaldi. Dia mengatakan, konsolidasi antaroperator telekomunikasi dalam waktu dekat terjadi. Konsolidasi perlu dilakukan guna menjaga kualitas layanan. “Jumlah operator ideal berkisar enam atau tujuh. Tahun ini mungkin saja terjadi konsolidasi, karena daya beli masyarakat makin kurang, sehingga pendapatan operator merosot,” ujar dia.
Namun, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro menegaskan, pihaknya belum mendengar isu adanya konsolidasi operator telekomunikasi. Yang jelas, lanjut dia, kalau pun ada, Indosat belum berencana mengakuisisi operator lain, karena secara grup, layanan yang ditawarkan telah lengkap.
Sementara itu, Presiden Direktur Excelcomindo Pratama Hasnul Suhaimi berpendapat, konsolidasi diantara operator telekomunikasi sangat tergantung pada setiap operator dan pemegang saham. Di samping itu, konsolidasi membutuhkan beberapa aturan untuk memayunginya. “Kami tidak ada rencana untuk berkonsolidasi,” tutur dia.
Capex Naik
Menurut Rinaldi, Telkom lebih difokuskan untuk mengembangkan usaha telepon tetap, FWA, broadband, integrated enterprise solutions, dan jasa teknologi informasi atau lebih dikenal new wave, dengan melibatkan anak usahanya. Telkomsel lebih konsentrasi pada jasa seluler. Jumlah pelanggan telepon tetap tercatat 8,6 juta pada 2008 atau turun 8,7 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah FWA melonjak 12,7 juta dari tahun sebelumnya 6,4 juta.
Total pelanggan Telkomsel tercatat 65,3 juta atau melejit dari tahun 2007 47,9 juta. Jasa seluler merupakan penyumbang terbesar terhadap laba bersih Telkom.
Di tengah krisis finansial global tahun ini, belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan tidak dipangkas, bahkan naik dari tahun sebelumnya US$ 2 miliar, menjadi US$ 2,1 miliar (Rp23,1 triliun). Sebesar 30% akan digunakan untuk Telkom, sisanya Telkomsel. Sebagian besar belanja modal Telkomsel digunakan memperkuat kualitas layanan bagi pelanggan. Pada 2008, perseroan membangun lebih dari 2.143 unit BTS Flexi dari total 4.054. “Kami tidak memangkas belanja modal sampai akhir tahun, kendati krisis finansial terjadi, karena kami komit untuk mengembangkan industri telekomunikasi,” jelas dia.
Mayoritas operator tahun ini memotong belanja modal, antara lain Indosat, XL, dan Mobile-8. Belanja modal Indosat sebagai operator seluler nomor dua terbesar di Tanah Air turun menjadi US$600 juta dari tahun sebelumnya US$1,2 miliar dan XL menjadi US$700 juta dari sebelumnya US$1,2 miliar. Capex Bakrie Telecom tercatat US$170 juta dan mengincar pelanggan 14 juta tahun depan, dari tahun ini sekitar 10 juta.
Guntur Siboro mengatakan, capex 2009 senilai US$600 juta bukan dipangkas dibandingkan tahun lalu US$ 1,2 miliar. “Yang benar, pemegang saham menyetujui belanja modal US$600 juta, karena memang kebutuhannya 2009 sebesar itu,” tandas dia.
Heru mengatakan, penurunan belanja modal beberapa operator dipicu resesi ekonomi tahun ini. Pemangkasan capex murni sebagai penyesuaian atas keadaan industri, ekonomi nasional, dan global. Pasalnya, operator perlu menysuaikan diri dengan keadaan, sehingga perusahaan menjadi efisien. “Di saat perekonomian belum menunjukkan kepastian, memangkas belanja modal merupakan langkah ideal,” jelas dia.
Laba Turun
Laba bersih Telkom tahun ini dipastikan merosot dibandingkan tahun 2008. Penurunan antara lain disebabkan pensiun dini 1.156 karyawan yang menelan biaya lebih dari Rp750 miliar dan rugi kurs rupiah terhadap dolar AS. Penurunan tarif interkoneksi sekitar 30-40% turut menggerus laba bersih perseroan. Namun, tahun ini laba bersih diperkirakan lebih bagus daripada tahun lalu.
Guna mengurangi rugi kurs, kata Rinaldi, Telkom berupaya mengurangi pinjaman valuta asing, khususnya dolar AS. Sebelumnya, porsi utang dalam valas mencapai 70%, sedangkan sekarang berubah menjadi 70% kewajiban dalam rupiah.
Namun, dia belum bersedia mengungkapkan, persentase penurunan laba bersih tahun 2008, karena hasilnya baru dipublikasikan antara Mei dan Juni mendatang. Rinaldi menegaskan, laporan keuangan auditan tahunan perseroan tidak pernah terlambat. Sebab, Bursa Efek Indonesia mengizinkan laporan keuangan auditan dapat dipublikasikan hinga Juni bagi emiten yang sahamnya tercatat di dua bursa (dual listing). “Jadi, laporan keuangan kami tidak pernah terlambat selama ini, karena mengikuti aturan yang berlaku,” tandas dia.
Laba bersih 2007 tercatat senilai Rp12,8 triliun. Saham Telkom juga diperdagangkan dan dicatatkan di New York Stock Exchange (NYSE), Amerika Serikat. Selain itu, sahamnya diperdagangkan di bursa Tokyo dan London.
Lebih jauh Rinaldi mengungkapkan, Telkom tidak perlu melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Telkomsel. Pasalnya, perseroan tidak butuh dana segar dari publik dan tidak berdampak positif. Apalagi, pendapatn sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan mencapai Rp35 triliun. Bahkan, EBITDA Telkom merupakan salah satu terbaik di dunia.
“Tidak ada untungnya Telkomsel masuk bursa, karena model bisnis saat ini adalah integrasi, bukan dipisahkan seperti tahun-tahun sebelumnya,” ungkap dia.
Sementara itu, pada perdagangan kemarin, harga saham TLKM ditutup terkoreksi 0,7% dari Rp7.500 menjadi Rp7.450 per unit. Nilai transaksinya mencapai Rp132,4 miliar. Nilai kapitalisasi pasar berjumlah Rp150,2 triliun atau mengontribusi 12,2% terhadap total kapitalisasi pasar BEI. Setelah ditambah dengan treasury stock 490,6 juta lembar saham, Pemerintah Indonesia kini menguasai 52,47% saham Telkom. (kp)
0 komentar:
Posting Komentar