04 Mei 2009 Kampoeng Speedy Telkom Pacu Ekonomi Daerah

Oleh Imam Ghozali

Investor Daily – PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk memaksimalkan utilisasi jaringan infrastruktur yang telah dimilikinya untuk layanan data. Ini adalah layanan masa depan, yang amat dibutuhkan masyarakat. Selain itu, diatas layanan data itu, terbentang pula layanan suara dan teks.

Sebagai BUMN telekomunikasi, Telkom telah membentangkan kabel di seluruh Nusantara, baik kabel tembaga maupun kabel serat optik. Awalnya kabel itu untuk layanan telekomunikasi suara. Sudah sekitar sembilan juta saluran telepon yang tersambung di seluruh pelosok negeri. Namun, teknologi bergerak cepat, dan Telkom mengikutinya.

“Era ke depan adalah era internet, era layanan data. Dan, Telkom kini mengarah ke sana,” kata Direktur IT dan Supply PT Telkom Indra Utoyo beberapa waktu lalu.

Infrastruktur jaringan kabel serat optik telah disiapkan. Kini Telkom mulai menggelar untuk akses layanan data itu hingga ke daerah-daerah, bersanding dengan penyiapan berbagai content. Telkom Divisi Regional (Divre) I Sumatera telah menggelar Kampung Digital, kini giliran Telkom Divre V Jawa Timur menggelar Kampoeng Speedy.

Tujuannya apalagi kalau bukan menyiapkan masyarakat Indonesia memasuki era internet.

Direktur Human Capital & General Affair PT Telkom Tbk Faisal Syam mengatakan, misi ‘Kampung Digital’ dan ‘Kampoeng Speedy’ sama. Yakni, percepatan pembangunan jaringan internet dengan melibatkan masyarakat hingga ke kampung-kampung.

“Soal nama tidak masalah karena esensinya sama. Yang penting, Telkom ingin mempermuda ketersediaan akses internet bagi masyarakat,” kata Faisal di sela peresmian ‘Kampoeng Speedy’ di desa Made, Sambikerep, Surabaya, belum lama ini.

Penyediaan akses internet itu dilakukan Telkom melalui tiga skema. Yakni, pembangunan jaringan free hotspot, hotspot prepaid dan Broadband Learning Center (BLC).

Telkom sudah membangun tak kurang dari 7.000 titik akses internet gratis (free hotspot), terutama di pusat keramaian, seperti stasiun, bandara, mal, rumah sakit, alun-alun dan banyak tempat lainnya. Di Jakarta ada 2.259 hotspot yang sudah dibangun dan Jatim lebih dari 1.200 titik hotspot. Sebagian besar masih digratiskan, untuk edukasi dan memudahkan masyarakat mengakses internet.

Untuk hotspot prepaid, Telkom mengaplikasikannya di ‘Kampung Digital’ ataupun ‘Kampoeng Speedy’. Telkom membangun jaringan hotspot sesuai permintaan masyarakat dengan syarat yang mudah. Sedangkan untuk BLC, Telkom lebih fokus pada edukasi tentang internet kepada masyarakat yang selama ini belum bisa menggunakan internet.

“Ini bukan semata proyek komersial memacu penjualan Speedy. Kami sangat berkepentingan masyarakat menjadi melek internet sejajar dengan negara lain,” jelas Faisal.

Walikota Surabaya Bambang DH sangat mendukung program Telkom ini. ‘Kampoeng Speedy’ diharapkan meningkatkan perekonomian daerah. Warga Kelurahan Made yang merupakan salah satu kawasan di Surabaya yang terkenal dengan sebutan Urban Farming, bisa memanfaatkan jaringan maya ini untuk meningkatkan bisnisnya.

Urbar Farming di Kelurahan Made adalah salah satu contoh desa yang bisa memanfaatkan jaringan internet. Daerah ini menjadi penghasil cabai merah, kacang panjng, pare welut yang sudah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur dan luar daerah.

“Setelah Made, kemungkinan yang segera menyusul adalah Kelurahan Bulak dan Tambakwedi. Di desa ini, warganya juga memiliki potensi di bidang pertanian dan industri kecil,” kata Bambang.

Realisasikan Jatim E-Provice
Untuk kota Surabaya, prioritas pembangunan ‘Kampoeng Speedy’ difokuskan pada kampung-kampung besar yang memiliki tingkat kepadatan penduduk lumayan tinggi dan wilayahnya memiliki sentra industri kecil meupun pertanian. Selain mendapatkan fasilitas hotspot Speedy, Telkom juga mendirikan pusat pelatihan BLC mini dengan enam unit komputer, dipusatkan di Balai Desa Made.

“Program ini salah satu cara untuk mengurangi kesenjangan digital di Surabaya. Meski disebut kota Metropolis, di daerah pinggiran banyak masyarakat yang belum mengenal dan bisa menggunakan internet,” ujar Bambang.

Sementara itu, Executive General Manger Telkom Divisi Regional V Jatim sempat heran dengan tingginya minat masyarakat akan akses internet di kantung-kantung tenaga kerja Indonesia (TKI), seperti Madiun, Trenggalek, Tulungagung, Ponorogo dan Pacitan.
Setelah ditelusuri, ternyata keluarga dengan TKI di luar negeri (kebanyakan di Hong Kong) sudah terbiasa memanfaatkan laptop yang dilengkapi webcam.

Ia mengatakan, pembangunan ‘Kampoeng Speedy’ diharapkan mampu meningkatkan pengguna internet di Jatim yang saat ini penetrasinya mencapai baru 13%. “Sampai akhir 2009, Telkom menargetkan sekitar 1.000 ‘Kampoeng Speedy’ di Jatim. Program ini juga sekaligus upaya mempercepat terealisasinya Jawa Timur e-Province,” jelasnya.

Pada tahap awal ini, implementasi program ‘Kampoeng Speedy’ diprioritaskan untuk wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Selain itu, beberapa daerah di Jatim juga dibidik untuk program ini, antara lain Malang, Batu, Kediri, Jember, dan Madiun. Selanjutnya program ini akan dikembangkan ke seluruh daerah Jatim sesuai kebutuhan dan permintaan masyarakat.

“Target kami kedepan 10% dari jumlah RT (Rukung Tetangga) memiliki fasilitas hotspot dan 30% warganya menggunakan internet,” katanya.

0 komentar: