Laba Bersih XL Naik 11,8%
Oleh Eva Fitriani
Jakarta, Investor Daily – PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) membukukan laba bersih semester I-2009 sebesar Rp706,38 miliar atau naik 11,89% dibandingkan periode sama 2008 senilai Rp631,27 miliar. Kenaikan laba itu terjadi seiring tumbuhnya pendapatan perseroan.
Dirut Excelcomindo (XL) Hasnul Suhaimi menjelaskan, pendapatan usaha bruto perseroan per 30 Juni 2009, setelah dikurangi diskon, bertumbuh 7,32% dari Rp5,78 triliun menjadi Rp6,21 triliun. Jasa telekomunikasi seluler mengontribusi pendapatan sebesar Rp4,94 triliun, jasa interkoneksi seluler Rp750,07 miliar, sedangkan pendapatan jasa telekomunikasi seperti sewa menara dan lain-lainnya mencapai Rp556,6 miliar.
Sementara itu, beban usaha operator seluler terbesar ketiga di Indonesia itu naik 21,22% dari Rp4,5 triliun menjadi Rp5,46 triliun. Kanaikan tersebut akibat membengkaknya beban penyusutan serta infrastruktur yang cukup signifikan, masing-masing sekitar 38,06% menjadi Rp1,79 triliun dan 82,77% menjadi Rp1,5 triliun. Laba usaha akhirnya tergerus 41,53% dari Rp1,28 triliun menjadi Rp749,26 miliar.
“Tetapi, adanya keuntungan dari transaksi sewa pembiayaan dan laba kurs membuat perseroan masih mampu membukukan pertumbuhan laba bersih hingga 11,89% ,” jelas Hasnul dalam penjelasan resminya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, akhir pekan lalu.
Hasnul mengungkapkan, XL berhasil mencetak laba kurs pada semester I-2009 sebesar Rp425,07 miliar atau melonjak 95,11% dibanding periode sama 2008 senilai Rp217,85 miliar. Karena itu, pada semester II tahun ini, perseroan telah menandatangani kontrak berjangka valuta asing dengan Standard Chartered Bank dan The Rolyal Bank of Scotland pada 15 Juli 2009. Kontrak itu sebagai saran lindung nilai (hedging) terhadap pembayaran pinjaman dalam dolar Amerika Serikat (AS).
“Berdasarkan kontrak yang dimulai pada 17 Juli 2009 tersebut, kami akan menukarkan dana sejumlah Rp168 miliar dengan US$ 15,3 juta pada akhir periode kontrak pada 15 Juli 2010,” ungkap Hasnul.
XL Juga menandatangani kontrak berjangka valuta asing dengan The Royal Bank of Scotland (RBS) pada 15 Juli 2009 terkait hedging pembayaran pinjaman dalam dolar AS. Perseroan akan menukar dana masing-masing Rp25 miliar dan Rp26 miliar dengan US$2,4 juta pada akhir periode kontrak pada 15 Januari dan 15 Juli 2010.
Sementara itu, analis Ciptadana Syaiful Adrian menilai, XL perlu meningkatkan kualitas jangkauan jaringannya supaya bisa bersaing dengan PT Indosat Tbk (ISAT) sebagai operator seluler terbesar kedua. “Kalau dulu konsumen mencari operator telekomunikasi yang menawarkan harga murah, tapi kini mereka lebih mencari yang memiliki jaringan lebih baik,” kata Syaiful.
Dia mengatakan, XL masih perlu investasi besar-besaran dalam jangka panjang untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas jaringannya. Tahun ini, XL mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 600-650 juta.
XL berencana menerbitkan saham baru (rights issue) guna meraup dana segar sebesar US$300 juta atau sekitar Rp3 triliun. Aksi korporasi itu ditargetkan terealisasi pada kuartal IV-2009, setelah mendapat persetujuan pemegang saham. Saat ini, Axiata Group Bhd (dahulu TM International) melalui Indocel Holding Sdn Bhd menguasai 83,8% saham XL, Emirates Telecommunication Corp (Etisalat) memiliki 15,97% saham, sedangkan sisanya 0,23% milik publik.
Sebelumnya, perseroan telah membeli kembali sebagian obligasi anak usahanya, yaitu Excelcomindo Finance Company BV, senilai US$ 3,63 juta pada harga 88,24-89,24% dari nilai nominal. Obligasi yang diterbitkan pada 18 Januari 2006 tersebut senilai US$250 juta dengan harga 99,23% dan tingkat bunga 7,125%. Obligasi bertenor tujuh tahun itu dicatatkan di Bursa Efek Singapura (SGX).
Dengan adanya pembelian kembali, obligasi XL yang masih beredar di pasar senilai US$124,06 juta. Sementara itu, posisi kas setara kas perseroan pada semester I-2009 meningkat signifikan sebesar 154,01% menjadi Rp 971,5 miliar dibandingkan periode sama 2008 senilai Rp382,46 miliar.
0 komentar:
Posting Komentar