05 Agustus 2009 Menakar pergerakan saham Telkom

Laba bersih akan pulih pada 2010

Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia

Tiga hari terakhir, harga saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk turun 6,38%, menyusul turunnya kinerja per triwulan II/2009 sebesar 4% secara tahunan. Koreksi itu diperkirakan sesaat.

Perusahaan seluler terbesar di Indonesia ini tercatat membukukan laba bersih triwulan II/2009 sebesar Rp6,04 triliun, turun 4,03% dibandingkan dengan triwulan II/2008 sebesar Rp6,3 triliun.

Namun, bagi analis PT Citigroup Securities Indonesia Karen Ang dan Anand Ramachandran, kinerja Telkom hingga Juli justru terhitung terus membaik, seiring dengan menurunnya iklim kompetisi.

“Buah dari upaya mengontrol kompetisi terlihat dalam kinerja triwulan II/2009 yang membaik berdasarkan basis triwulanan. Penguatan permintaan secara musiman juga membantu kinerja industri tersebut,” tuturnya dalam laporan riset per 14 Juli.

Industri seluler, lanjutnya, menata diri dengan para operator menurunkan intensitas persaingan mereka. Akibatnya, kinerja triwulan II/2009 pun membaik menyusul kuatnya permintaan dan kenaikan tarif secara stabil.

Bisnis mencatat laba konsolidasi Telkom per Juni 2009 senilai Rp6,04 triliun, jauh meningkat dari laba bersih per Maret yang baru Rp2,5 triliun. Artinya, dalam 3 bulan terakhir itu perseroan mampu mendongkrak laba bersihnya hingga 141,6%.

Telkomsel sepanjang triwulan I/2009 berupaya menambah pelanggan dengan menyesuaikan biaya per menit (rate per minute/RPM). Penjualan kartu baru pada kurun waktu tersebut tercatat mencapai 6,8 juta, dibandingkan dengan capaian Indosat dan XL yang hanya meraih 3,2 juta dan 1,1 juta.

Hingga triwulan I/2009, pangsa pasar Telkomsel mencapai 55%. Perseroan mengestimasikan tingkat perpindahan pelanggan (churn rate) membaik menjadi 8% pada triwulan I/2009, dari posisi triwulan IV/2008 sebesar 10% dan posisi 2007 yang berkisar 15%-16%.

Karena itu, tidak heran jika Citigroup menempatkan saham Telkom sebagai portofolio investasi utama, dengan mempertahankan peringkat beli dan menetapkan risiko rendah.

“Kecenderungan kami memilih saham Telkom disebabkan anak usahanya yakni Telkomsel akan mendapat manfaat yang besar dari pemulihan industri dan penurunan pendanaan para pesaingnya,” ujar Karen dan Anand.

Analis broker asing tersebut menetapkan peringkat beli dengan risiko rendah untuk saham Telkom dengan target harga Rp8.200 per saham.

Target harga
Citigroup menetapkan target harga saham perseroan di pasar berkode TLKM berdasarkan basis EV/EBITDA (nilai perusahaan per EBITDA) pada rentang Rp8.123 hingga Rp8.200. Harga tersebut dinilai wajar berdasarkan beberapa basis asumsi.

Pertama, bisnis telepon rumah menyumbangkan Rp2,640, atau 4,5 kali EBITDA 2010. Kedua, Telkom menyumbang valuasi sebesar Rp5,483 dengan menerapkan 6,5 kali EBITDA Telkomsel per 2010.

“Dengan target harga Rp8.200 itu, kami menetapkan valuasi saham Telkom sebesar 12,4 kali PER ke depan, yang secara kasar sejalan dengan perusahaan sejenis di kawasan regional,” tulis kedua analis tersebut.

Citigroup menerapkan sistem pemeringkatan risiko kuantitatif dengan mencermati volatilitas harga saham perseroan di pasar dalam 260 hari terakhir.
Sekuritas asing tersebut percaya peringkat risiko yang lebih rendah bisa dijustifikasi, menyusul makin melunaknya iklim kompetisi, dan kuatnya profil neraca keuangan Telkom.

Sebaliknya, risiko yang bisa memperberat saham tersebut mencapai target di antaranya adalah ancaman kompetisi baik di bisnis telepon tetap maupun seluler, khususnya di bisnis seluler.

Selain itu, memburuknya bisnis telepon rumah juga menjadi risiko yang membayangi saham perseroan. Demikian juga dengan memburuknya prospek makroekonomi yang dipastikan memengaruhi posisi Telkom.

Telkom, yang sahamnya dikendalikan pemerintah merupakan penyedia layanan telekomunikasi di Indonesia, menyediakan jasa telepon lokal dan sambungan langsung jarak jauh.

Anak usahanya yakni Telkomsel yang sahamnya dimiliki 65% itu merupakan penyedia jasa layanan seluler terbesar di Indonesia, dengan mengoperasikan jaringan GSM (global system for mobile communications). Perusahaan itu juga menyediakan layanan telepon seluler-tetap, komunikasi data, penyewaan saluran telepon, dan layanan bernilai tambah lainnya baik langsung maupun tidak langsung.

Saham Telkom tercatat di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan di New York Stock Exchange (NYSE). Namun, perseroan mengkaji opsi penghapusan pencatatan saham (delisting) dibursa saham New York tersebut dan melirik pencatatan (listing) di bursa Eropa.

Anand dan Karen mencatat operator seluler di Indonessia terus menerapkan kenaikan tarif selektif, dengan skala lebih terukur. Peralihan dari tipe tarif all yaou can eat akan mendorong pendapatan efektif per menit, karena biaya airtime nonpendapatan berkurang.

Kondisi itulah yang membuat manajemen Telkomsel dan XL optimistis dengan kinerja triwulan II/2009. Kenaikan penggunaan musiman pada triwulan II/2009 dan pendapatan per menit diperkirakan stabil dan bahkan cenderung meningkat.

Berdasarkan kondisi tersebut, Citigroup memperkirakan adanya pemulihan pertumbuhan laba pada 2010 dan menaikkan peringkat saham kedua perusahaan seluler tersebut menyusul dinamika industri yang kondusif.

“Dengan selesainya perubahan layanan menjadi tarif murah dengan penggunaan tinggi, dari model semula tarif mahal dengan penggunaan rendah, kami menilai laba akan menyentuh bottomline pada 2009,” ujarnya. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

0 komentar: