Gombang Nan Cengka
Kontributor Bisnis Indonesia
Krisis ekonomi global masih meninggalkan pengaruh pada pasar ponsel dunia. Meskipun begitu, beberapa tanda positif terlihat, terutama di segmen ponsel pintar.
Kontributor Bisnis Indonesia
Krisis ekonomi global masih meninggalkan pengaruh pada pasar ponsel dunia. Meskipun begitu, beberapa tanda positif terlihat, terutama di segmen ponsel pintar.
Nokia masih memegang posisi vendor terbesar, sedangkan Samsung dan LG Electornics mencatat kenaikan berarti, sedangkan posisi Motorola dan Sony Ericsson masih belum terlalu baik.
Tingkat tabungan pribadi yang tinggi dan kebijakan fiskal nasional yang agresif telah membantu mempertahankan permintaan untuk produk konsumer di Asia Pasifik, meskipun ekonomi global mengalami resesi. Saat ini seiring dengan tanda-tanda pemulihan di beberapa negara Asia, permintaan ponsel turut meningkat.
Menurut laporan International Data Corporation (IDC), penjualan ponsel di wilayah ini melewati 100 juta unit pada triwulan II 2009.
Pasar ponsel di Amerika Utara dan Eropa Barat digerakkan oleh smartphone atau ponsel pintar, sedangkan di Amerika Latin serta CEMA (Central Europe, Middle East and Afrika). Pasar ponsel membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Pasar ponsel mencatat penurunan year-on-year (dari tahun ke tahun) pada triwulan II 2009. Menurut IDC, vendor handset menjual 269,6 juta unit diseluruh dunia pada periode tersebut atau anjlok 10,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat penjualan 302,2 juta. Namun, hasil penjualaan periode ini lebih baik daripada triwulan pertama 2009 yang menyaksikan penurunan sebesar 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2008.
Untuk tahun ini, IDC meramalkan pasar akan menciut 13%. Peningkatan yang terjadi terpusat pada permintaan konsumen terhadap handset kelas atas dan kemampuan para vendor mengubah portofolio mereka untuk memenuhi permintaan tersebut.
“Di antara para vendor besar handset, Nokia, Samsung, Research In Motion dan Apple, semuanya melampaui harapan untuk ponsel pintar dalam triwulan II,” ujar Ryan Reith, peneliti senior IDC, melalui siaran pers pada situs lembaga riset itu.
“Permintaan akan ponsel kelas atas ini telah menciptakan perang harga di antara vendor ponsel dan operator telekomunikasi. Pemotongan harga pada iPhone 3G mencerminkan kecenderungan yang kami perkirakan berlanjut dalam triwulan berikutnya, dan akan secara efektif menjaga harga yang kompetitif dalam pasar di negara maju.”
Tak tergoyahkan
Nokia mengakhiri triwulan ini dengan angka penjualan kembali menembus batas 100 juta unit. Volume penjualan Nokia hampir sama dengan total volume penjualan tiga vendor terbesar berikutnya. Namun ini merupakan penurunan dibandingkan dengan tahun lalu, ketika volume penjualan Nokia menyamai total penjualan empat vendor terbesar berikutnya.
Samsung mencatat kenaikan volume penjualannya di atas angka 50 juta unit, berkat produknya yang beragam. Perusahaan ini berhasil mencapai kenaikan year-on-year tertinggi di antara vendor besar. Pada akhir paruh tahun 2009 Samsung sudah mencapai 50 persen sasaran penjualan untuk tahun ini, yaitu 100 juta unit ponsel.
LG Electonics mempertahankan momentum dari triwulan pertama, dengan meraih pangsa pasar serta meningkatkan laba. Penggerak keberhasilannya adalah portofolio kelas menengah yang kuat, peranti kelas atas serta efisiensi operasional keseluruhan. LG juga telah mengungkapkan rencana untuk meningkatkan model ponsel pintarnya dalam tahun ini. Dalam 2 tahun mendatang, LG berharap untuk meraih 10% pasar ponsel pintar.
Motorola menutup kegiatan bisnis triwulan II dengan kerugian operasional, dengan penurunan terbesar year-on-year di antara vendor besar lainnya. Namun perusahaan ini berhasil memangkas kerugian sebesar 50 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Sony Ericsson masih menghadapi kesulitan dalam pasar ponsel. Perusahaan ini hanya berada di peringkat kelima pada triwulan II, dan tertinggal lebih jauh lagi di belakang Motorola.
Program penghematan biaya, tekanan persaingan, dan lini produk yang mulai uzur berakibat margin kotor yang hanya mencapai 12%. Namun, ini lebih baik dibandingkan dengan angka 8% pada triwulan sebelumnya. (redaksi@bisnis.co.id)
0 komentar:
Posting Komentar