Bisnis MVNO Diharap Pacu Ekonomi Daerah
Jakarta, Bisnis Indonesia – Konsep mobile virtual network operator (MVNO) dinilai akan mendorong pertumbuhan perekonomian daerah, melalui penciptaan konten yang sesuai dengan kebutuhan pengguna seluler di wilayah-wilayah yang memiliki karakter tertentu.
Sapto Anggoro, Sekretaris Jenderal Indonesian Mobile & Online Provider Association, menilai jika model MVNO dapat berjalan di Indonesia akan memberi dampak pada usaha kecil menengah.
Jakarta, Bisnis Indonesia – Konsep mobile virtual network operator (MVNO) dinilai akan mendorong pertumbuhan perekonomian daerah, melalui penciptaan konten yang sesuai dengan kebutuhan pengguna seluler di wilayah-wilayah yang memiliki karakter tertentu.
Sapto Anggoro, Sekretaris Jenderal Indonesian Mobile & Online Provider Association, menilai jika model MVNO dapat berjalan di Indonesia akan memberi dampak pada usaha kecil menengah.
“Peluang MVNO adalah di daerah-daerah yang pengguna ponselnya yang masih sedikit bukan di wilayah yang sudah jenuh atau mature,” ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.
Dia menjelaskan daerah tertentu yang penetrasi jaringan selulernya terbatas memberikan kesempatan bagi pengusaha MVNO untuk menggarap kebutuhan aplikasi mereka. “Contoh di daerah pertanian, mereka bisa menyediakan informasi tentang musim tanam dan konsultannya.”
Salain itu, lanjutnya, perusahaan MVNO bisa mengukur kemampuan daya beli di daerah terkait juga karakter konsumen, sehingga mereka dapat menyesuaikan konsep bisnisnya.
Sapto mengatakan sebenarnya operator setuju bila model ini dijalankan. Akan tatapi, operator masih memperhitungkan besaran keuntungan yang akan kembali, karena operator adalah penanam modal terbesar dalam membangun infrastruktur jaringan.
“Saya rasa jika info tentang MVNO ini sudah berkembang dan permintaanya menjadi meningkat, mau tidak mau operator akan mengikuti. Operator juga bisa belajar dari operator luar negeri,” katanya.
MVNO merupakan operator yang menyediakan layanan telekomunikasi bergerak bagi para pelanggannya tanpa harus membangun dan memiliki infrastruktur sendiri.
Heru Sutadi, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), berpandapat konsep MVNO sangat relevan untuk memanfaatkan kapasitas jaringan yang tidak optimal. Arah MVNO adalah pemberdayaan ekonomi daerah khususnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Dengan adanya perusahaan MVNO, katanya, operator seluler yang memiliki jaringan akan menangani daerah yang gemuk-gemuk saja sedangkan daerah yang kering bisa diberikan ke MVNO.
“Intinya, ada pembagian pendapatan antara operator seluler dan perusahaan MVNO. Namun, risikonya pembangunan tidak lagi diutamakan karena untuk membangun infrastruktur memakan biaya besar,” ujarnya.
Dai mengkhawatirkan jika konsep MVNO diterapkan, tidak ada lagi yang akan membangun infrastruktur, karena penyelenggara jaringan hanya tinggan menyewa saja. (14)