30 Juni 2009 Di Balik Penyetopan Impor BlackBerry

Koran Jakarta – Tidak ingin dianggap remeh. Inilah kesan yang ingin dimunculkan oleh regulator telekomunikasi Indonesia di mata para pemain lokal dan internasional. Setelah dua kali pertemuan dengan para petinggi Reseach in Motion (RIM) digelar awal Juni, dan menjelang akhir bulan keluarlah keputusan kontroversial.

Sertifikasi RIM dibekukan hingga pusat layanan dihadirkan prinsipal BlackBerry itu di Tanah Air. Dengan kata lain, impor produk yang tengah ngetren itu disetop.

“Waktu pembekuan tidak memiliki batas. Jika pusat purnajual sudah beroperasi, baru keran impor dibuka kembali,” tegas Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi, Senin (29/6).

Mitra perusahaan asal Kanada, seperti Telkom, Indosat, dan Excelcomindo (XL), hanya bisa pasrah menghadapi perseteruan RIM dan regulator. “Untuk sementara stok kami masih mencukupi. Tetapi hanya untuk satu bulan ke depan,” ujar GM Sales XL, Handono Warih.

Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya mengharapkan pemerintah memberikan tenggang waktu sebelum kebijakan itu dilaksanakan agar operator dapat memaksimalkan stok perangkat yang diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan pelanggan.

“Jika tiba-tiba saja ditutup tanpa adanya masa tenggang, akan berdampak pula terhadap pemesanan operator ke RIM yang saat ini masih dalam tahapan pengiriman atau fabrikasi. Ini akan menimbulkan potential loss secara finansial, waktu, maupun opportunity,” jelasnya.

Diperkirakannya, jika keran impor ditutup selama sebulan, secara total seluruh mitra RIM akan mengalami kerugian sekitar 18 juta dollar AS. Asumsi yang digunakan adalah rata-rata penjualan BlackBerry oleh seluruh mitra sebanyak 30 ribu unit dengan harga perangkat sekitar 600 dollar AS per unit.

Bukan Terbaik
Praktisi telematika Faizal Adiputra menilai langkah yang diambil oleh pemerintah bukan yang terbaik bagi kedua belah pihak.

“Ini ibarat ingin membunuh tikus di lumbung padi. Pemerintah lebih memilih membakar lumbungnya ketimbang meracuni tikus. Sebaiknya kedua belah pihak kembali duduk bersama untuk mencari solusi terbaik,” katanya.

Hal yang menjadi masalah, menurut Faizal, selama ini RIM hanya menjadi mitra sebagai pick up point service dan dianggap itu sudah menjadi bagian dari purnajual. Sementara pemerintah mengacu pada regulasi, yaitu purnajual harus berada di Indonesia.

Sementara itu, penggagas id-blcakberry@yahoogroups.com Abdul A’la Almaujudy Imaujudy menyebutkan pemerintah memiliki peran lumayan besar menciptakan kekisruhan penyelenggaraan layanan BlackBerry di Indonesia.

“Model bisnis RIM itu menunjukkan mitra dalam memasarkan perangkat dan layanannya. Tiba-tiba pemerintah membolehkan importir umum memasukkan BlackBerry ke pasar lokal. Jadilah muncul kisruh ketika RIM melakukan pemblokiran PIN yang dikloning,” katanya.

Almaujudy menyarankan, solusi terbaik dari kisruh ini adalah memperbanyak jalur distribusi oleh RIM, dan pemerintah mengoreksi diri melalui pemberian sertifikasi yang lebih ketat.

“Postel harus mau juga mengoreksi diri. Jangan seperti sekarang, ketika masalah muncul, yang disalahkan pihak luar. Jika terus-terusan seperti ini, prinsipal asing bisa memusuhi Indonesia,” katanya.

Pada kesempatan lain, sumber Koran Jakarta melihat kebijakan yang diambil regulator terkesan berat sebelah dan menguntungkan kompetiror RIM. “Bukan rahasia pertumbuhan penjualan BlackBerry selama 2009 paling tinggi. Saya curiga ada kompetitor yang melapor ke regulator. Buktinya regulator baru cawe-cawe belakangan ini. Kenapa tidak dari dulu?” ungkapnya. ■ dni/E-2

0 komentar: