17 Juni 2009 Gobel incar Mobile-8

Diperlukan suntikan US$100 juta pada 2009

Oleh Sylviana Pravita R.K.N & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

Jakarta (16/6/2009): Pengusaha nasional Rachmat Gobel yang sekaligus menjadi mitra lokal Qatar Telecom QSC (Qtel) di Indonesia mengincar saham operator telepon PT Mobile-8 Telecom Tbk.

Seorang eksekutif yang mengetahui rencana itu mengatakan Rachmat akan membeli Mobile-8 apabila harga yang ditawarkan tidak mahal. “Ada kemungkinan Rachmat menggandeng mitranya di PT Indosat Tbk yaitu Qtel agar nantinya bisa disinergikan,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Saat dikonfirmasi kemarin, Rachmat membenarkan rencana itu. Dia mengatakan masih mendalami rencana strategis tersebut.

“Saya pernah bicara tentang minat ini [dengan pemegang saham dan manajemen Mobile-8], tetapi saya belum mengambil keputusan apa-apa karena rencana itu masih ditelaah lebih mendalam,” tuturnya.

Operator telekom berbasis code division multiple access itu gagal bayar bunga obligasi Rp675 miliar dan US$100 juta. Gagal bayar itu bermula ketika pemegang saham mayoritas Mobile-8, PT Global Mediacom Tbk, menjual 32% saham operator telepon itu kepada pengusaha private equity fund yang berpusat di Dubai yaitu Jerash Investment Ltd yang dipimpin oleh seorang CEO Shiv Dave.

Divestasi itu membuat kepemilikan Global Mediacom berkurang dari 51%, sehingga salah satu klausul dalam perjanjian obligasi dolar berlaku. Kalusul itu membuka peluang buyback surat utang. Perusahaan telepon itu tidak melaksanakan klausul itu dan terjadilah default yang dikhawatirkan memicu gagal bayar silang terhadap obligasi rupiah.

Mobile-8 gagal bayar bunga obligasi rupiah yang jatuh tempo pada 15 Maret senilai Rp20,88 miliar.

Presiden Grup dan CEO Global Mediacom Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo tidak bersedia menjelaskan mengenai pendekatan yang dilakukan oleh Gobel.

“Soal kabar bahawa Qatar berminat atas saham Global Mediacom, itu tidak benar. Namun, saya tidak bisa mengonfirmasi itu mengenai Mobile-8 karena yang bisa menyampaikan hal itu adalah manajemen Mobile-8, meski pun Global Mediacom masih memiliki saham itu.”

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys tidak membantah ketika dikonfirmasi soal minat Rachmat Gobel untuk membeli Mobile-8. Namun, dia menolak menjelaskan lebih lanjut.

3 Investor
Menurut dia, kini terdapat tiga investor yang berminat membeli saham Mobile-8. “Nilainya belum kami tentukan. Yang jelas, valuasi dari perusahaan ini masih bergantung pada hasil dari restrukturisasi utang obligasi dolar dan rupiah,” ujarnya. Dia menuturkan seluruh pemodal strategis yang berminat membeli saham perseroan masih dalam tahap penjajakan.

“Ada pemodal yang meminta penasihat keuangan atas penjualan saham Mobile-8 dan kami akan menyediakan hal itu. Saya belum bisa menyampaikan identitas mengenai calon investor itu,” ujarnya.

Operator penyedia jasa telepon Fren itu sedang berupaya menempuh resturkturisasi obligasi rupiah berjaminan dengan pemegang obligasi. PT Mandiri Sekuritas ditunjuk sebagai penasihat keuangan oleh pemegang obligasi untuk membuat kajian terkait dengan kondisi internal Mobile-8.

Tenor obligasi rupiah Mobile-8 senilai Rp675 miliar diusulkan diperpanjang 5 tahun menjadi 15 Maret 2017 dari semula 15 Maret 2012.

Pembayaran bunga obligasi tertunggak, yang seharusnya dibayarkan secara kuartalan pada Maret dan pada bulan ini, akan diselesaikan dalam 6 bulan ke depan hingga Desember.

Selain itu, bunga obligasi berikutnya diturunkan menjadi berturut-turut 5% pada tahun pertama dan kedua, 5% pada tahun ketiga dan keempat, dan 12% pada tahun terakhir. Usulan bunga itu lebih rendah dari bunga obligasi yang seharusnya sebesar 12,375% per tahun.

Selain mengusulkan paket restrukturisasi obligasi, Mandiri Sekuritas juga menyodorkan adanya pinjaman dari pemegang saham dan masuknya investor strategis.

“Pemegang saham baru efektif paling lambat pada akhir 2009,” ujar sumber Bisnis lainnya.

Materi rapat informal obligasi Mobile-8 mengungkapkan perseroan membutuhkan suntikan dana segar US$100 juta pada tahun ini dan US$25 juta pada 2011.

Menurut analis saham PT BNI Securities M. Alfatih, posisi Mobile-8 yang melaksanakan restrukturisasi obligasi membuat daya tawar menjadi rendah.

Saham Mobile-8 hingga kemarin masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia di level Rp50. (BAMBANG P.JATMIKO/M.MUNIR HAIKAL)

0 komentar: