Sejumlah wilayah menolak proyek telepon perdesaan
Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
Jakarta (26/06/09) : PT Indonesia Comnet Plus (Icon+) diperkirakan menguasai proyek universal service obligation (USO) di wilayah timur Indonesia setelah menjadi penawar terendah di paket 1.
Adapun, di paket 2 yang meliputi Papua dan Irian Jaya Barat, Icon+ menjadi peserta tunggal yang lolos prakualifikasi dan tinggal menunggu hasil klarifikasi sebelum dilakukan proses seperti penunjukan langsung.
Ketua Balai Telekomunikasi dan Informasi Perdesaan (BTIP) Santoso Serad membenarkan bahwa Icon+ memang menawar USO sangat rendah di bawah Harga Perkiraan Sendiri (HPS) 80% sehingga harus menaikkan nilai jaminan tender.
“selama ini yang mematok harga dibawah 80% hanya Telkomsel, terutama pada saat penggelaran tender di lima paket USO lainnya,” ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.
Menurut dia, rendahnya harga yang dipatok Icon+ bisa jadi karena perusahaan itu tidak mengeluarkan biaya untuk catu daya dan sumber daya manusia di daerah USO.
Saat ini, panitia tender USO tengah melakukan klarifikasi terhadap peserta tender di paket 1 dan 2 yang masih tersisa, yaitu Indonusa dan Icon+,
Klarifikasi diperlukan karena kedua perusahaan itu memasang harga tender telalu rendah, bahkan kurang dari 80% seperti yang disyaratkan dalam Kepres No. 80/2003 mengenai Tata Cara Pengadaan Barang dan jasa Pemerintah.
Klarifikasi yang dilakukan teutama meliputi tujuh aspek, di antaranya mengenai manajemen jaringan.
Di sisi lain, proyek USO ternyata tidak selalu diterima oleh masyarakat desa. Berdasarkan informasi yang diperoleh Bisnis di kalangan BTIP, sejumlah kabupaten di Provinsi Bali, seperti Denpasar dan Badung, merupakan daerah yang menolak kehadiran proyek USO.
(FITA INDAH MAULANI) (arif.pitoyo@bisnis.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar