26 Juni 2009 Layanan BlackBerry

Depkominfo Bantah Dinilai Lemah

Jakarta, Suara pembaruan (250609) – Fenomena BlackBerry memang cukup unik di Indonesia. Setelah tingkat permintaan yang meningkat drastis, kini produsen BlackBerry didesak untuk membuat layanan purnajual (service center) di Indonesia. Itu menunjukkan betapa permintaan terus meningkat yang saat ini sudah mencapai 300.000 pemilik telepon seluler (ponsel) pintar tersebut.

Di sisi lain, operator seperti kesulitan melayani BlackBerry tak resmi yang semakin meningkat. Untuk itu, konsumen seharusnya jeli untuk memilih produk yang resmi dan sudah mempunyai layanan lengkap.

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dan tiga operator telekomunikasi sepakat mendesak Research In Motion (RIM) sebagai produsen BlackBerry agar study kelayakan (feasiblity study) pendirian perwakilan RIM din Indonesia dilakukan secepat mungkin.

Desakan tersebut menyusul pertemuan Depkominfo dengan tiga operator telekomunikasi, yakni Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo Pratama (XL) di kantor Ditjen Postel di Jakarta, senin (22/6).

Dalam pertemuan yang dipimpin langsung Direktur Standarisasi Postel Azhar Hasyim itu dihadiri perwakilan dari Departemen Perdagangan dan Ditjen Bea dan Cukai Departemen Keuangan.

Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Kominfo Gatot S Dewa Broto, pertemuan dengan operator rekanan RIM didasari hasil sebelumnya antara Depkominfo dan perwakilan RIM pada 15 Juni lalu.

Sebagai mitra RIM, operator tentu tak mau disalahkan jika pelanggan mengeluhkan gangguan pada perangkat BlackBerry yang tidak dibeli dari operator. Ironisnya, banyak pelanggan awam yang tak tahu dan sangat dirugikan sekalipun semuanya dikeluarkan RIM.

Sebelumnya, perwakilan RIM menyatakan akan melakukan feasibility study untuk mencari format yang tepat bagi pendirian kantor di Indonesia, khususnya Jakarta, apakah berbentuk representative office, sales service, atau service centre.

“Depkominfo dan operator telah sepakat untuk melakukan permintaan dan tekanan bersama terhadap RIM agar rencana pendirian perwakilan RIM di Indonesia dapat dilakukan secepatnya,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut dia, sikap tegas regulator dalam menyikapi masalah ini sudah ditunjukkan lewat keputusan Ditjen Postel yang sampai saat ini menolak permohonan pengajuan sertifikasi tipe baru produk BlackBerry. Penolakan akan ditinjau lagi jika persyaratan layanan purnajual sudah terpenuhi.

Lemah
Gatot menolak bila sikap tegas Depkominfo ini dilakukan setelah sejumlah pihak menilai Depkominfo dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) lemah dalam menghadapi RIM. “Bagi Depkominfo dan BRTI bukan persoalan lemat atau kuat, tetapi yang penting adalah adanya konsistensi dan ketegasan dalam mengimplementasikan peraturan yang berlaku,” tegas Gatot.

Disebutkan, kehadiran Departemen perdagangan dan Departemen Keuangan dalam pertemuan itu menunjukan keseriusan Depkominfo dalam menyikapi perdagangan BlackBerry secara profesional bagi kepentingan konsumen. Jika dalam beberapa pekan ke depan belum ada wujud konkret dari komitmen RIM, Depkominfo akan terus mengkristalisasi ketegasan sikap secara lebih konkret.

“Depkominfo menyadari bahwa potensi market BlackBerry di Indonesia termasuk yang paling menonjol di kawasan Asia. Karena itulah, kami berkomitmen untuk melakukan perlindungan konsumen secara lebih tegas,” tandasnya. [HBS/H-12]

0 komentar: