22 Juni 2009 ‘Pagu paket 1 &2 USO tak ekonomis’

Pemerintah diimbau tetapkan paket bundling

Oleh Fita Indah Maulani
Bisnis Indonesia

Jakarta: Mundurnya PT Telkom dan PT Telkomsel dari tender proyek universal service obligation (USO) paket 1 dan 2 dinilai para pengamat dan pelaku bisnis telematika sebagai kesalahan pemerintah.

Ketua Umum Mastel Setyanto P. Santosa mengatakan keluarnya Telkom dan Telkomsel merupakan hal yang wajar, karena dari sisi bisnis kedua proyek tersebut memang tidak menguntungkan dan dampaknya akan berpengaruh terhadap kinerja Telkom secara keseluruhan.

“Pemerintah seharusnya lebih pandai dalam membuat tawaran proyek, sehingga menarik untuk dunia usaha,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Dia menilai seharusnya pemerintah memberikan insentif lebih untuk menarik dunia usaha, karena pagu yang ditawarkan sangat kecil dibandingkan dengan lokasi pengerjaan proyek memerlukan biaya logistik tinggi serta kondisi pasar yang belum matang.

Insentif menjadi hal utama yang dicari oleh perusahaan calon peserta tender dalam proyek seperti ini. Pemerintah seharusnya lebih tahu bentuk insentif terbaik karena mereka sudah mengerti situasi dari regulasinya yang diperlukan kalangan bisnis.

Paket bundling
Gunawan Wibisono, Pengamat Telematika dari Universitas Indonesia, menilai sangat wajar jika Telkom dan Telkomsel mengundurkan diri dengan tidak memasukkan harga penawaran daripada dia ikut dan menang.

“Mereka pengusaha, cari untung. Di dua paket ini biaya operasional dan realisasi proyek sangat mahal, khususnya di beban logistik karena minimnya infrastruktur,” ujarnya.

Pemerintah sendiri dalam menetapkan pagu anggaran hanya menghitung jumlah desa. Jika tidak ingin pengusaha seperti Telkom dan Telkomsel mengambil paket USO yang menguntungkan saja, seharusnya ada bundling.

Gunawan menjelaskan tender di daerah tidak menguntungkan seperti Papua seharusnya digabungkan dalam satu paket dengan daerah komersial seperti Jabodetabek. Dengan pola seperti sekarang harusnya ada kenaikan pagu untuk wilayah kering seperti Papua.

“Saya sendiri masih meragukan kredibilitas dua peserta tender yang tersisa, track record Indonusa selama belum jelas, sementara Icon+ hanya bermain backbone.

Keduanya juga belum memiliki jaringan di wilayah paket 1 dan 2,” ujarnya.

Gatot menjelaskan tahap akhir tender USO hanya menyisakan PT Indonesia Comnets Plus (Icon+) dan PT Indonusa System Integrator Prima untuk paket 1 dan Icon+ di paket 2.

Santoso Serad, Kepala Balai Telekomunikasi dan Informatika Pedesaan (BTIP), mengatakan pemenang paket 1 dan 2 dalam tender tahun ini akan ditentukan dari nilai administrasi teknis dan harga. (fita.indah@bisnis.co.id)

0 komentar: