Jakarta, Koran Jakarta – Pendirian menara (tower site) di suatu area manyedot biaya besar dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Di Jawa, menara bisa menyedot 40 persen dari biaya produksi. Sementara di luar Jawa, seperti Kalimantan, kontribusinya bisa membengkak hingga dua kali lipatnya.
“Ini risiko dari geografis Indonesia yang memiliki kontur kepulauan. Padahal untuk berekspansi di suatu daerah, operator harus memerhatikan tiga hal yakni tower, power, dan backhaul,” ungkap Head of Sub Region Indonesia Nokia Siemens Network (NSN), Arjun Trivedi di Jakata, belum lama ini.
Menurut Arjun, operator harus mulai mengakali masalah pendirian menara dan kelangkaan energi (power) di satu daerah, karena ke depan ekspansi akan banyak di wilayah rural. “Kendala di rural itu selalu dua hal tersebut. Padahal operator dituntut memberikan harga dan kualitas layanan yang sama antara perkotaan dan rural,” jelasnya.
NSN Business Analis Stephen Martin mengatakan salah satu solusi yang sedang dikembangkan adalah Flexi Base Station. Perangkat berbasis Internet Protocol (IP) ini dapat digunakan oleh puluhan pengguna sekaligus dalam cakupan area hingga 100 km persegi. *dni/E-2


0 komentar:
Posting Komentar