30 Juni 2009 RIM DIHARAP SEGERA PENUHI SYARAT DEPKOMINFO

BlackBerry Rp 4 Jutaan Menanti Sertifikasi

Oleh Encep Saepudin
Investor Daily

Jakarta – Operator seluler yang menjadi distributor BlackBerry berharap Research in Motion (RIM) segera membuka kantor perwakilannya di Indonesia. Langkah ini dimaksudkan untuk membuka keran sertifikasi yang sekarang ini disetop Ditjen Postel Depkominfo.

General Manager Postpaid & BlackBerry PT Excelcomindo Pratama Tbk (EP) Budi Harjono mengatakan, pembukaan kantor perwakilan atau pusat layanan purna jual (service centre) itu akan melancarkan bisnis RIM di Indonesia. Apalagi, produk BlackBerry yang kini menunggu sertifikasi dari Ditjen Postel Depkominfo itu adalah BlackBerry seri I, yang harganya sekitar Rp 4 jutaan.

“Memang saya memahami birokrasi di RIM itu panjang sekali. Tapi, keyakinan saya dalam waktu dekat diharapkan keluar keputusan (minimal pembukaan kantor perwakilan) dari mereka,” kata Budi Harjono mengomentari keputusan pemerintah untuk menyetop sertifikasi BlackBerry untuk sementara waktu di Jakarta, Kamis (25/6).

Menurut Budi, PT EP awalnya menargetkan penjualan BlackBerry seri I itu sebelum Idul Fitri, yang jatuh pada 21 September 2009. Penjualan BlackBerry seri I itu diperkirakan bakal meledak bila dipasarkan di Indonesia. Soalnya, Indonesia merupakan negara kedua untuk memasarkannya setelah Amerika Serikat.

“Produk seri I ini dipastikan tidak ada produk BM (black market) karena produk ini rencananya baru dipasarkan di AS dan Indonesia,” kata dia.

Untuk itu, Budi berharap RIM bersama pemerintah Indonesia melalui Ditjen Postel melakukan dialog. Dialog lebih dikedepankan untuk mendapatkan jalan keluar yang menguntungkan semua pihak.

Sementara itu, Vice President Marketing PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) Paras Nasution mengatakan, kebijakan Depkominfo menyetop sertifikasi produk BlackBerry terbaru tentunya sudah melalui proses pertimbangan yang matang dengan melihat segala risikonya. Karena itu, selaku operator Axis, pihaknya akan mematuhi kebijakan yang sudah dikeluarkan pemerintah.

“Kalau (penyetopan sertifikasi BlackBerry) sudah diputuskan tentunya kami harus tunduk. Tentunya sambil mengamati perkembangan berikutnya,” kata dia.

Atas keputusan tersebut, Paras belum bisa memastikan pengaruhnya pada rencana bisnis PT NTS yang berencana meluncurkan BlackBerry Axis pada akhir Juli ini. Sedangkan untuk pembukaan layanan service center tetap sesuai jadwal, yaitu pada minggu pertama Juli 2009.

Depperind Belum Tahu
Sedangkan Departemen Perindustrian (Depperind) belum mengetahui rencana bisnis RIM, vendor smartphone BlackBerry, di Indonesia. Hingga kini, vendor tersebut belum melakukan kontak resmi dengan Depperind.

“Kontak telepon belum (pernah), apalagi melaporkannya secara resmi. Saya tidak tahu apa yang mereka rencanakan di sini,” kata Ditjen Industri Alat Transporatasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budi Darmadi ketika ditemui Investor Daily, pekan lalu.

Biasanya, rencana pembangunan pabrik perakitan di Tanah Air harus menggandeng investor lokal. Apakah sudah ada pembicaraan ke arah sana antara investor lokal dengan RIM, Budi pun belum memperoleh informasinya. Begitu pula bila RIM akan membuka perwakilannya di Indonesia.

“Menurut saya, kalau RIM mau buka perwakilan atau pabrik di sini, sejumlah industri di Indonesia sebenarnya sudah siap melakukan kerja sama,” kata dia.

Namun, pemerintah tentu tidak mencampuri pembicaraan internal mereka. Pertimbangan bisnis menjadi dasar pijakan terjalinnya kerja sama. Setelah itu, baru mereka melaporkannya pada Departemen Perindustrian.

Mengenai keputusan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) menghentikan sertifikasi perangkat baru BlackBerry sudah diketahuinya. Namun demikian, keputusan tersebut masuk kewenangan Departemen Perdagangan karena menyangkut masalah perdagangan ponsel pintar (smartphone) tersebut.

“Memang kami dilibatkan dalam keputusan itu, tapi itu menyangkut perdagangan. Coba Anda tanyakan kesana (Departemen Perdagangan),” kata dia.

0 komentar: