Subdiler Pulsa Protes Klusterisasi

Penjualan diler justru naik

Oleh Muhammad Sufyan

Bandung, Bisnis Indonesia – Para pedangan besar pulsa atau sub diler di Bandung meminta operator seluler meninjau kembali kebijakan klusterisasi yang dinilai menghambat bisnis mereka.

Lyadi Yayang, Koordinator Arisan Server (organisasi sub diler Bandung), mengungkapkan kebijakan itu melarang sub diler melakukan deposit pulsa elektronik ke dealer di luar kluster yang telah di tentukan.

Pedagang besar yang berada di wilayah Bandung Tengah, misalnya, diharuskan membeli pulsa elektronik pada dealer resmi yang berada di wilayah tersebut. Jika melanggar akan dilakukan pengurangan deposit pulsa.

“Ini mempersempit ruang gerak bisnis. Sekalipun harga di diler kami sedang mahal, ya terpaksa harus beli. Padahal, keuntungan kami jual ke outlet itu sekarang Cuma Rp 50 per transaksi,” katanya kepada Bisnis, kemarin.

Sebelumnya, para grosir pulsa bebas mencari harga termurah di diler mana saja sehingga harga eceran yang ditawarkannya sangat kompetitif dan akhirnya memperluas downline.
Sistem tersebut mendorong mereka memperoleh profit tinggi, meskipun kompetisi antar sesama anggota arisan sangat ketat yang mendorong harga jual ke pengguna bersaing.

Namun setelah operator seluler, terutama tiga pemimpin pasar, menerapkan kebijakan tersebut, pedagang merasa dirugikan.

Bebas jual beli
Berdasarkan informasi, kebijakan ini pertama kali dilakukan PT Telkomsel Regional Jabar pada awal 2008, yang kemudian diikuti PT XL Central Region dalam enam bulan terakhir, dan terakhir oleh PT Indosat Jabar.

Nurudin Alfitroh, GM Sales & Promotion PT Excelcomindo Pratama (XL) Central Region, mengungkapkan pihaknya memang memperoleh pertentangan dari sub diler saat pertama kali menerapkan kebijakan itu.

“Kami pikir (protes) itu wajar. Kalau dicontohkan, orang biasanya bangun siang, tiba-tiba dipaksa bangun pagi,”
XL sering menemui peredaran kartu isi ulang atau kartu perdana yang kosong di sejumlah wilayah akibat ulah sebagian pedagang yang menahan peredaran guna menaikan harga.

Sejumlah pedangang juga kerap melemparkan produk ke daerah yang jauh, sehingga merusak harga. Akibatnya, iklim usaha antar diler maupun sub diler tidak kondusif.

Manager Bandung PT Banyu Herang Abadi, salah satu diler resmi operator, Simeon Teguh Waluyo mengungkapkan penjualannya justru meningkat pasca penerapan kebijakan klusterisasi.

“Jualan lebih tertib. Sub diler tidak beli kemana-mana, karena ada sistem operator yang memantau dimana mereka bisa beli. Ini membuat penjualan naik, wilayah masing-masing tergarap baik.” (muhammad.sufyan@bisnis.co.id)

1 komentar:

AFPULSA mengatakan...

Kalo menurut sy kebijakan tersebut akn lebih mengakibatkan penjualan dealer dan subdealer tidak kondusip, soalnya yg namanya jual beli kan cari yg termurah dan eficient, penjegalan tersebut takan berfungsi secara optimal, dengan sistm tersebut malah akan memperbanyak pemain server yg lebih mengambil jalan alternative H2H, utk mengambil stok dari daerah lain yg lebih murah.. ALHASIL NUMPUKLAH STOK yang ada didealer region tertentu karna kurangnya penjualan.. AHIRNYA GULUNGTIKAR...