Nilai bisnis WiMax capai Rp 3,6 triliun/tahun
Oleh Arief Pitoyo
Jakarta, Bisnis Indonesia – PT Indosat Tbk terancam tidak bisa mengikuti tender penyelenggara broadband wireless access (BWA) atau worldwide interoperability for microwave access (WiMax) karena terkandala batasan kepemilikan asing.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) No. 4/2009, penyelenggara BWA di pita frekuensi 2,3 GHz merupakan operator jaringan tetap lokal berbasis packet switched.
Staf pengajar Teknik Elektro ITB Dimitri Mahayana mengungkapkan sesuai dengan regulasi yang berlaku, penyelenggara BWA merupakan operator jaringan tetap sehingga mayoritas saham asingnya adalah 49%.
“Saat ini Indosat dimiliki oleh Qatar Telecom sebanyak 65% sehingga komposisi asingnya tidak memenuhi aturan daftar negatif investasi [DNI] sebesar 40% untuk jaringan tetap,” ungkapnya kepada Bisnis, kemarin.
Departemen Kominfo sudah cukup lama merencanakan pelaksanaan seleksi Penyelenggara Telekomunikasi Layanan Akses Pita Lebar Nirkabel (BWA) pada Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz. Persiapan diawali dengan konsep white paper BWA.
Selain melalui konsultasi publik, dokumen white paper tersebut disusun dengan memerhatikan masukan dari para penyelenggara broadband eksisting, stakeholder telekomunikasi, dan berdasarkan referensi dari beberapa forum internasional seperti hasil sidang WRC-2007, APT (Asia Pacific Telecommunity) Wireless Forum, dan ITU Study Group.
Kepala Pusat Infrmasi Depkominfo Gatot Sulistiantoro Dewa Broto mengungkapkan persyaratan untuk peserta lelang BWA adalah penyelenggara jaringan dan atau jasa telekomunikasi.
“Pemenang tender nantinya akan diberikan izin penyelenggaraan jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita 2,3 GHz,” tuturnya.
Dalam pelaksanaan tender USO beberapa waktu lalu, pemerintah juga mensyaratkan kepemilikan asing sebesar 49% mengingat operator pemenangnya akan diberikan lisensi jaringan tetap, sebagaimana dalam tender BWA.
Menaggapi hal tersebut, Direktur Marketing Indosat Guntur S. Siboro mengaku pihaknya memang sedang mengkaji hal tersebut.
“Kami optimistis akan ada opsi lain yang saling menguntungkan, seperti menjalin kemitraan dengan pihak lain,” ungkapnya.
Guntuk mengatakan kemungkinan Indosat bekerja sama dengan perusahaan lain untuk menyelenggarakan teknologi tersebut. Hal ini, lanjutnya, karena pada prinsipnya teknologi ini hanya pelengkap bagi kami yang berbisnis inti di komunikasi mobile.
Nilai bisnis WiMax
Nilai bisnis dari jasa Internet berbasis teknologi WiMax dalam tahun pertamanya di Indonesia bisa mencapai Rp 2 triliun- Rp 3,6 triliun.
“Angka tersebut bisa diraih jika dalam waktu 1 tahun penggelarannya di Indonesia sejak ditender ada 1 juta pelanggan yang diraih oleh penyelenggara,” ujar Dimitri yang juga Chairperson Lembaga Riset Telematika Sharing Vision.
Jumlah pelanggan sebesar itu dapat dicapai karena penggelarannya dibagi berdasarkan 15 zona di seluruh Indonesia dengan setiap zona diprediksi meraih jumlah pelanggan sekitar 60.000 sambungan dengan average revenue per user (ARPU) mencapai Rp 150.000-RP 200.000.
WiMax merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar dengan kecepatan akses hingga 70 Mbps dengan jangkauan luas.
Menurut Dimitri, yang mengkhawatirkan adalah kesiapan perangkat lokal dalam menyediakan infrastruktur apabila pelanggan WiMax dalam setahun mencapai 1 juta sambungan.
“Angka 1 juta perangkat dikhawatirkan tidak tercapai karena hanya ada dua pemain lokal, yakni Hariff dan TRG. Idealnya ada 10 hingga 15 pemain lokal,” tegasnya.
Permerintah memang memiliki aturan yang ketat tentang konten lokal dari produk WiMax. Pemerintah mewajibkan pemenuhan konten lokal sekurang-kurangnya tetap 30% untuk subscriber station (SS) dan 40% bagi base station (BS).
PT Hariff Daya Tunggal Enginering mengklaim sanggup memproduksi hingga 20.000 unit base transceiver station (BTS) pemancar WiMax dan 200.000 unit untuk perangkat pengguna hingga akhir tahun ini.
Presiden Direktur TRG Sakti Wahyu Trenggono mengaku siap memenuhi kebutuhan nasional bersama Hariff. “Kami siap karena sebentar lagi mau mendirikan pabrik,” tegasnya tanpa menyebut kapasitas produksi yang dimiliki.” (arif.pitoyo@bisnis.co.id)
0 komentar:
Posting Komentar