Setelah Perang Tarif Berlalu
Republika, Telkomsel makin low profile saja. Bila sepanjang Januari 2009 operator lain gencar mempromosikan produk terbarunya, Telkomsel seperti tidak terusik. Baru pekan ini, Telkomsel ‘keluar kandang’ dengan merilis kartu perdana Simpati PeDe kemasan baru.
Republika, Telkomsel makin low profile saja. Bila sepanjang Januari 2009 operator lain gencar mempromosikan produk terbarunya, Telkomsel seperti tidak terusik. Baru pekan ini, Telkomsel ‘keluar kandang’ dengan merilis kartu perdana Simpati PeDe kemasan baru.
Pada kartu perdana baru, tulisan berwarna emas pada Simpati PeDe, berganti warna menjadi putih. Perubahan ini, Telkomsel menawarkan bonus akses internet hingga 5 MB dan Nada Sambung Pribadi (NSP) untuk tujuh hari pertama.
Pelanggan juga akan mendapatkan bonus masing-masing Rp 5.000, saat melakukan isi ulang pertama dan kedua.
Kartu perdana yang dijual seharga Rp 10 ribu ini memiliki pulas awal Rp 5.000 untuk komunikasi lintas operator dan Rp 5.000 untuk komunikasi dengan sesama pelanggan Telkomsel. Tak ada tawaran bonus ‘menggiurkan’ seperti operator lain.
Vice President Product Development Management, Telkomsel, Hendri Mulya Syam menyebut bonus akses internet merupakan satu konsep baru yang dikembangkan. “Kami ingin menggairahkan akses internet menggunakan ponsel,” kata Hendri pada peluncuran produk ini, Senin (2/2). Melalui program ini diharapkan pengguna internet mobile bertambah sekitar 1 juta.
“Simpati itu kartu Premium, pelanggan sekitar 45 juta, berbagai fitur ada disini. Pelanggan tergabung dalam berbagai komunitas. Bonus akses internet merupakan upaya memberi kesempatan pelanggan mencoba dan menikmati akses internet Telkomsel,” papar Hendri kemudian.
Bila kartu perdana baru tidak lagi menawarkan bonus pulsa dan SMS yang ‘gegap gempita’, Hendri mengaku pihaknya sengaja menawarkan bonus nonpulsa. “Bonus pulsa yang berlebihan justru akan memicu tingginya angka kartu hanus (churn rate),” ujarnya. Telkomsel, kata Hendri, berhasil menekan angka churn rate sedemikian rupa. Hendri enggan menyebut berapa angkanya, “Rendah, jauh dibawah churn rate industri,” ujarnya.
Kartu hangus menjadi salah satu masalah pada industri seluler di Indonesia. Kartu perdana yang makin murah plus berbagai bonus pulsa/SMS, menjadikan pelanggan lebih memilih kartu perdana baru ketimbang melakukan isi ulang pulsa. Apalagi, tarif bicara juga semakin murah.
Direktur Marketing Indosat, Guntur S Siboro, membenarkan bahwa murahnya kartu perdana memicu tingginya angka churn rate. Indosat pun mengubah strategi. “Harga kartu perdana Rp 3 ribu. Bonus diberikan setelah pelanggan melakukan isi ulang pulsa,” kata Guntur.
Dengan demikian, pengguna dapat menikmati tarif promo Indosat dan program-program lainnya setelah melakukan isi ulang pulsa. “Jadi mereka tidak beli langsung buang. Jika tidak mengisi ulang, maka program yang bisa dinikmati hanya tarif biasa,” paparnya.
Pendekatan baru diharapkan mampu menekan angka churn rate Indosat yang saat ini berkisar 11 persen. “Kami akan berupaya agar churn rate tinggal satu digit saja,” paparnya.
Selain bonus pulsa pada kartu perdana, tarif yang semakin murah juga menjadi pemicu churn rate, pasalnya pelanggan cenderung berpindah dari satu operator ke operator lain guna mendapatkan tarif murah. Saat ini tarif voice di Indonesia merupakan salah satu yang termurah di dunia dengan kisaran Rp 100-Rp 200 per menit. Tarif voice di Indonesia, kata Guntur, mirip dengan yang diberlakukan di India dan Thailand. “Tarif voice sudah turun hingga 90 persen sejak XL meluncurkan tarif Rp 0,1/detik pada September 2007. Sudah cukup murah, mau diturunkan berapa lagi ?” ujar Guntur kembali bertanya.
Tidak mengherankan jika operator tak lagi mengusung tarif murah untuk keperluan promosinya. Kalaupun menawarkan tarif murah, hal itu sekadar rapackaging. Misalnya, tarif baru yang ditawarkan XL awal Januari lalu, sekedar mengulang konsep yang dikembangkan pertengahan tahun 2008 lalu.
Hal yang sama dilakukan Indosat, melalui program ‘Gratis Ribuan Kali Nelpon Seharian’ utnuk pelanggan Mentari. Program bisa dinikmati setelah pelanggan menggunakan pulsa Rp 1.500. Selanjutnya pelanggan akan menikmati tarif gratis hingga 120 menit Program ini berlaku untuk komunikasi sesama pelanggan Indosat.
Perang SMS
Tarif murah, tak lagi menjadi selling point dalam memperebutkan pelanggan baru. Hendri melukiskan tahun ini ‘peperangan’ akan bergesar dari tarif ke SMS. “Kecenderungannya akan seperti itu,” ujar Hendri. Namun ia mengisyaratkan pihaknya tak akan terjebak pada perang SMS murah.
Guntur membenarkan akan terjadi pergesaran. Namun demikian, Guntur menilai perang tarif murah masih akan berlanjut, namun dengan strategi yang berbeda. Guntur menyatakan konsentrasi operator masih difokuskan pada layanan voice dan SMS, dua layanan yang memberikan konstribusi terbesar pada pendapatan operator.
Menurut Guntur, setelah perang tarif, kompetisi operator akan beralih ke jaringan dan kemudian value added services. “Tapi persaingan sepertinya masih tidak akan bergeser dari perang tarif. Karena masyarakat kita masih sensitif terhadap tarif,” ungkap Guntur.
Bahkan, kondisi ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan terimbas pada krisis ekonomi global belum akan terlalu berpengaruh pada sektor telekomunikasi. Pasalnya, kondisi perekonomian Indonesia dianggap masih bisa bertahan karena pernah mengalami kondisi yang cukup sulit ketika terkena krisis ekonomi tahun 1998. “Industri telekomunikasi masih akan terus tumbuh, daya beli masyarakat pun masih ada. Konsumen hanya sedang wait and see,” katanya.
Dari sisi pasar, Hendri memperkirakan addresable market layanan seluler di Indonesia pada tahun 2008 sebanyak 30 juta. Pada tahun 2009, diperkirakan pelanggan baru nirkabel termasuk jaringan tetap terbatas mencapai 45-50 juta.
Minute of Usage
Banyak analisis menyatakan bahwa kompetisi antaroperator memperebutkan pelanggan, bakal semakin seru. Pasalnya, pasar makin menyempit dan operator butuh ‘ruang’ yang makin leluasa guna menjaga pertumbuhan. Dengan tarif yang terus menurun, minute of usage (MoU) atau lama menelepon menjadi penting. Bagaiman menciptakan MoU yang tinggi, salah satunya adalah meningkatkan pelanggan sebanyak mungkin, juga mendorong pelanggan lebih lama menelepon dengan tarif yang semakin murah.
Memasuki tahun 2009, diperkirakan operator mulai berganti strategi. Meskipun atmosfir persaingan masih cukup kental diantara operator, namun strategi yang dijalankan mulai berubah. Operator tidak lagi jor-joran menurunkan tarifnya.
Ke depannya, operator mulai beralih ke layanan SMS, Hal ini sudah dimulai, antara lain dengan memberikan SMS gratis untuk pelanggan. Seperti yang dilakukan oleh XL yang memberikan ratusan SMS gratis kepada pelanggannya setelah mengirimkan delapan SMS. Artinya dengan membayar Rp 1.200 mendapat 300 SMS ke semua operator. SMS ini terdiri dari 248 SMS ke sesama XL dan 60 SMS ke operator lain dengan tarif Rp 20/SMS.
Tak mau kalah, PT Smart Telecom (Smart) menerapkan cara serupa. Bedanya, Smart membundling paket SMS-nya dengan ponsel. Dalam paket SMS gratis Hape ini, Smart menawarkan paket bundling 12 ribu SMS dengan tiga pilihan handset ZTE, yaitu D1100P, X-177 dan D1200P. Dengan membayar Ro 179 ribu – Rp 333 ribu untuk paket 12 ribu SMS, pelanggan akan mendapat bonus berupa ponsel.
Selain itu, Smart juga bekerjasama dengan tiga operator asing, yaitu Celcom, Maxis dan Digi untuk membuka layanannya di Malaysia. Kerjasama ini dilakukan untuk program ‘SMS Sepuasnya’ ke Malaysia dengan tarif Rp 5 ribu/minggu.
Menurut Head of Value Added Services & Business Development, Smart Telecom, Tom Alamas Dinharsa, Malaysia dipilih karena menjadi negara tujuan utama untuk layanan VoIP (Voice over Internet Protocol). Meski demikian, Tom tidak merinci berapa trafik SMS ke Malaysia.
“Trafik VoIP paling tinggi adalah ke Malaysia, kedua baru Singapura,” ujarnya. Malaysia juga memiliki potensi karena tingginya jumlah tenaga kerja asal Indonesia yang mencari nafkah di negara tersebut. Namun, Smart mengaku tak hanya membidik pasar tenaga kerja Indonesia melainkan juga warga Indonesia yang berbisnis dengan Malaysia.
SMS akan menjadi selling point baru industri seluler. *mth/tar
0 komentar:
Posting Komentar