30 Maret 2009 3G Terancam Mati Suri

Oleh Arif Pitoyo
Wartawan Bisnis Indonesia

Sepanjang tiga tahun penyelenggaraan telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G), satu operator rata-rata hanya memiliki pelanggan sebanyak 200.000. Angka tersebut sangat jauh berbeda dengan layanan seluler 2G di mana dalam 1 tahun sebuah operator ada yang bisa menambah 6 juta-8 juta pelanggan.

Operator seperti Indosat hanya memiliki pelanggan 3G 200.000 orang dan XL sekitar 75.000 dengan pendapatan rata-rata per pelanggan (average ravenue per user/ARPU) sebesar Rp100.000.

Telkomsel memiliki jumlah pelanggan 3G terbesar, yaitu sekitar 6,5 juta orang, meski yang aktif tidak sampai setengahnya, terutama apabila mengacu pada jumlah pelanggan Flash yang saat ini sekitar 260.000 orang.

Jika melihat fenomena tersebut, pendapatan operator dari 3G dalam setahun rata-rata adalah sebesar Rp240 miliar, sementara biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi yang harus dibayarkan mencapai Rp160 miliar.

Nilai BHP tersebut belum termasuk belanja modal untuk menggelar jaringan 3G seperti pembangunan node B.

Pada perkembangannya, 3G ternyata tak sesuai dengan yang diharapkan. 3G Telkomsel misalnya, sejak awal peluncurannya, operator tersebut sangat mengandalkan layanan video call, mobile TV, dan video streaming. Nyatanya, layanan video call atau mobile TV hanya booming pada saat anak perusahaan Telkom itu menggratiskannya.

Booming layanan data 3G baru terasa menjelang akhir tahun lalu, terutama pada saat operator ramai-ramai merilis layanan pita lebar unlimited dengan tarif flat dalam sebulan.

Layanan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang dibuktikan dengan melonjaknya trafik sehingga membebani jaringan operator. Melonjaknya trafik memicu terganggunya jaringan operator 3G seperti Telkomsel pada pertengahan tahun lalu di susul jaringan milik Indosat melalui anak perusahaan Indosat M2 pada awal tahun ini.

Jaringan Terganggu
Direktur Indosat Guntur S. Siboro berkilah terganggunya jaringan 3G Indosat karena kanal frekuensi yang tersedia tidak bisa menampung lonjakan kapasitas data, terutama melalui produk unlimited-nya.

“Itu lah mengapa kami meminta tambahan pita 3G kepada pemerintah dan regulator, karena frekuensi yang tersedia ternyata tidak mencukupi kapasitas,” tuturnya.

Karena masalah kapasitas itu, semua operator 3G ramai-ramai meminta tambahan alokasi pita sebesar 5 MHz.
Gayung bersambut. Regulator melihat semua operator 3G layak mendapatkan tambahan pita sebesar 5 MHz. Namun, operator pun kecele ketika mengetahui bahwa harga untuk tambahan pita 3G adalah sebesar Rp160 miliar per blok atau 5 MHz, sama dengan harganya 3 tahun lalu.

Kecuali bagi Telkomsel, harga sebesar itu tentu saja sangat memberatkan, terutama di tengah kondisi perekonomian global yang menyebabkan kinerja sebagian operator telekomunikasi menurun.

Dalam 10 tahun, masing-masing pemegang lisensi harus membayar BHP frekuensi setidaknya Rp1,6 triliun. Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia menilai harga tersebut terlalu mahal terutama dibandingkan dengan negara lain.

Komut Telkomsel Rinaldi Firmansyah akan mempertanyakan kesanggupan Telkomsel membayar Rp160 miliar.

Adalah kebijakan pemerintah untuk berfikir realistis, karena pemberian tambahan pita pada seluruh operator 3G dengan harga wajar akan menumbuhkan industri perangkat telekomunikasi dan sumber daya manusia lokal.

Apabila hal tersebut tidak segera diatasi, layanan data kepada pelanggan juga dipastikan menurun sehingga secara otomatis mempercepat mati surinya layanan 3G. (arif.pitoyo@bisnis.co.id)

0 komentar: