11 Maret 2009 Indosat Dongkrak 74% Pendapatan Qtel

Oleh Yohana SP Philips

Dubai, Investor Daily – Pendapatan Qatar Telecom QSC (Qtel) selama kuartal IV-2008 melonjak 74% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dari 1,57 miliar riyal menjadi 6,05 miliar riyal atau sekitar Rp19,6 triliun.

Lonjakan pendapatan itu terjadi menyusul akuisisi Qtel terhadap 40,81% saham PT Indosat Tbk (ISAT) pada juni 2008 yang diikuti penawaran tender (tender offer) sisa saham publik di Indosat sebesar 24,19% pada Februari 2009. Qtel kini menguasai 65% saham Indosat.

“Qtel telah bertumbuh dalam target geografinya di Timur Tengah, Afrika Utara, kawasan sub-kontinen, dan Asia Tenggara,” kata Komisaris Qtel Sheikh Abdullah Bin Mohammed Bin Saud al-Thani, seperti dikuti Bloomberg, Minggu (8/3).

Berdasarkan nilai pendapatan, pasar terbesar Qtel adalah Qatar, Indonesia, Kuwait, Irak dan Aljazair. Pendapatan Indosat tahun lalu meningkat 13,2% menjadi Rp18,66 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp16,49 triliun. Angka itu hampir sama dengan total pendapatan Qtel sebesar 6,05 miliar riyal atau sekitar Rp19,6 triliun (1 riyal sama dengan Rp 3.241).

Menurut Abdullah Saud al-Thani, melalui akuisisi tersebut ditambah pendapatan dari konsumen Qatar dan Irak, perusahaan penyedia jaringan telekomunikasi di 17 negara itu membukukan pertumbuhan laba bersih hingga akhir 2008 menjadi 2,28 miliar riyal atau 17,46 riyal per aham.

Angka itu naik dari 1,67 miliar riyal atau 14,64 riyal per saham pada tahun sebelumnya. Adapun laba bersih selama kuartal IV-2008 naik 19%, menjadi 446 juta riyal dibanding 375 riyal pada 2007. Berarti, pasca akuisisi Indosat, Qtel mengonsolidasi pendapatan kuartal pertamanya dari tiga perempat pendapatan Indosat.

Di sisi lain, penurunan laba bersih justru dialami Indosat. Hingga akhir 2008, laba bersih emiten yang tercatat ganda (dual listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE) itu turun 8% menjadi Rp1,88 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp2,04 triliun. Penurunan itu terjadi akibat kerugian kurs sehubungan depresiasi rupiah hingga Rp 885,7 miliar.

“Laba bersih turun karena depresiasi rupiah dari Rp 9.393 pada Desember 2007 menjadi Rp10.950 pada Desember 2008,” kata Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam dalam paparan publiknya beberapa waktu lalu.

Meski demikian, pendapatan Indosat pada 2008 meningkat 13,2% menjadi Rp18,66 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp16,49 triliun. Kenaikan itu didukung pertumbuhan tiga bisnis utama perseroan, yaitu seluler, data tetap, dan telepon tetap.

Bisnis seluler mengontribusi 75,98% terhadap total pendapatan Indosat dengan pertumbuhan 11,2% menjadi Rp14,18 triliun. “Pertumbuhan itu didorong peningkatan jumlah pelanggan, sehingga total pelanggan seluler Indosat mencapai 36,5 juta pelanggan dengan market share 28,6%,” tutur Johnny.

Adapun data tetap mengontribusi pendapatan Indosat sekitar 14,66% dengan nilai Rp2,73 triliun atau naik 26,1% dibanding 2007. Sedangkan bisnis telepon tetap menyumbang 9,35% menjadi sebesar Rp1,74 triliun atau tumbuh 11,3% dibanding tahun sebelumnya.

Tender Offer Rampung
Sementara itu, siaran pers Qtel yang diterima Investor Daily, menyebutkan, Qtel berhasil merampungkan pembelian saham tambahan sejumlah 1.314.466.775 unit dari Indosat melalui dua penawaran tender secara serentak di Indonesia dan Amerika Serikat (AS).

Lewat penawaran tender itu, kepemilikan saham Qtel di perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia itu naik dari 40,81% menjadi 65%. “Penawaran tender Indosat berakhir secara serentak di Jakarta dan New York pada 18 Februari 2009,” demikian manajemen Qtel.

Manajemen Qtel juga menjelaskan, pada penutupan penawaran, 2.324.910.450 saham seri B Indosat (termasuk saham seri B yang mendasari American Depositary Shares) telah ditawarkan secara sah dan tidak ditarik kembali. Penawaran itu jauh melampaui jumlah maksimum saham tambahan Indosat yang dapat dibeli Qtel.

0 komentar: