03 April 2009 Intervensi Pemerintah Bisa Turunkan Tarif Internet 40%

Oleh Encep Saepudin

Jakarta, Investor Daily – Intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk menurunkan tarif internet sampai 40%. Intervensi itu untuk menyeimbang pasokan, permintaan, dan konsumen.

“Memang dilematis bagi pemerintah sebagai regulator. Tapi, kepentingan masyarakat yang lebih besar perlu diperhatikan, sehingga intervensi menjadi perlu dijadikan pilihan,” kata anggota Badan Ragulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi di Jakarta, Selasa (1/4).

Heru mengatakan, tarif backbone internasional dan nasional sudah turun. Tarif sewa backbone internasional untuk 2Mbps turun menjadi Rp9 juta dari sebelumnya sebesar Rp20 juta. Hal yang sama terjadi pada tarif backbone nasional.

Namun, penurunan tarif itu tidak berbanding lurus dengan penurunan tarif internet. Operator hanya menurunkan sekitar 20%. Padahal tarif diharapkan turun sampai 40%. Bahkan, kata Heru, besaran tersebut kurang memadai, karena mestinya turun di atas 40%.

Meski tarif belum turun signifikan, beban konsumen makin berat. Sebab, dari sisi kualitas dan kecepatan (speed) operator belum melakukan perbaikan. “Keluhan pelanggan terhadap kecepatan masih cukup tinggi,” kata Heru.

Belum memadainya layanan itu membuahkan ketimpangan surplus produsen dan surplus konsumen. Surplus konsumen terjadi bila harga mengalami penurunan sementara terjadi peningkatan perbaikan layanan. Diharapkan adalah terjadi keseimbangan surplus keduanya.

Heru mengatakan, intervensi pemerintah atas tarif internet dapat menyeimbangkan surplus produsen dan surplus konsumen. Apalagi, intervensi tidak akan menganggu kinerja operator. Nantinya, pelanggan dapat menerima kualitas layanan sesuai dengan tarif yang dibebankan kepadanya.

Tarif Tidak Mahal
Sementara itu, operator telekomunikasi menolak bila dikatakan tarif internet masih mahal. Direktur Utama PT Telkom Rinaldi Firmansyah menolak bila dituduh tarif internet yang diberlakukan operator masih mahal.

Menurut dia, penurunan tarif backbone, baik internasional maupun nasional, serta bertambahnya pelanggan membuat tarif internet makin murah. “Telkom sebagai BUMN telah membuat murah tarif dengan jangkauan hampir seluruh kepulauan Indonesia,” kata Rinaldi.

Pelanggan, kata dia, dijamin akan puas dengan kualitasnya. Soalnya, Telkom menjanjikan bandwidth sebesar 40 GB bila pembangunan Asia American Gateway (AAG) selesai dibangun pada Juli 2009. Dengan Begitu, Telkom telah menurunkan tarif. Telkom telah menurunkan tarif hingga 20%.

Pada bagian lain, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) Isnawan menilai dasar penentuan tarif internet sangat relatif. Pasalnya, masing-masing pihak memiliki sudut pandang sendiri. “Penurunan tarif tersebut terlalu prematur dan mengabaikan banyak faktor,” kata dia.

Senada dengan Rinaldi, Isnawan mengatakan, “Jangan samakan kami yang melayani seluruh Indonesia dengan operator yang hanya membuka layanan di Jabodetabek saja. Kurang fair. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan,” kata Rinaldi.

Menurut Isnawan, umumnya penyedia jaringan menjual jasa internet dalam kapasitas tertentu, yang biasanya dipakai dengan istilah up to atau sampai dengan. Dia mencontohkan, kecepatan bandwidth 2MB yang dipakai untuk dua unit dengan empat unit komputer jelas berbeda. Pengguna internet akan cepat men-download gambar pada jaringan yang dibagi dua unit.

Namun para anggota APJII tetap berupaya memberikan layanan dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau. Untuk meningkatkan kualitasnya, selain operator seluler, anggota yang hanya menjadi penyedia jaringan pun akan turut ikut tender broadband wireless access (BWA).

0 komentar: