03 April 2009 Merajut Hidup Dengan Semangat Kemandirian

Majalah Tempo – Telkom dan PT Infomedia Nusantara memberikan peluang kerja sama bagi penyandang cacat.

“Selamat siang dengan Aty, ada yang bisa dibantu?”. Kalimat dan keramahan seperti itu lazim terdengar saat menghubungi call center. Itulah yang tergambar di raut wajah Aty Yuliaty Fatimah (30) yang berkeja di call center PT Infomedia Nusantara, kawasan City Walk, Jakarta Pusat. Aty adalah penyandang cacat bersama Raden Ratu Bunga, Adi, dan Beny Purnama, yang bekerja melayani pelanggan melalui nomor layanan 108. Mereka adalah empat dari sekitar 400-an pekerja call center PT Infomedia Nusantara yang memberikan layanan 24 jam penuh.

Apa yang telah dilakukan PT Infomedia Nusantara, yang merupakan anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), setidaknya memberikan angin segar bagi pekerja penyandang cacat. Perekrutan para pekerja dengan kondisi khusus itu merupakan komitmen Telkom melalui program corporate social responsibility (CSR) dengan menggandeng PT Infomedia Nusantara.

“Kami tidak terpaku oleh peraturan pemerintah yang mengharuskan satu persen harus diisi oleh penyandang cacat. Karena jika memang dibutuhkan dan memungkinkan, ke depannya kuota itu justru akan kami tambah,” ujar Direktur Contact Center PT Infomedia Nusantara, Angger Pramuditto. “Terbukti mereka mampu melewati proses perektrutan hingga training sama baiknya dengan pekerja yang normal,” tambah Siti Hanah, Manager CC Telkom 108.

Itu adalah gambaran terbukanya kesempatan bagi siapa saja, termasuk para penyandang cacat, untuk mendapatkan haknya bekerja. Dan yang tak kalah pentingnya adalah komitmen perusahaan seperti Infomedia yang memberikan peluang yang sama bagi penyandang cacat seperti Aty. Bahkan Angger pramunditto mengungkapkan bahwa proses rekrutmen yang harus dijalani Aty dan beberapa rekannya sama seperti pekerja lainnya. “Walau mereka memiliki keterbatasan, tetapi kami memperlakukan meraka dengan standar yang sama dengan pekerja normal lainnya, termasuk soal penggajian,” papar Angger.

Sedangkan Manager CC Telkom 108 Jakarta, Siti Hanah mengungkapkan kinerja mereka yang tak kalah baiknya dengan pekerja normal. “Kami beruntung berada di lokasi yang sangat mendukung akses bagi pekerja yang memiliki keterbatasan seperti mereka,” ujarnya. Hanya saja Siti Hanah masih mengupayakan kepada pengelola gedung untuk menyediakan akses seperti penyangga di toilet.

Aty dan Bunga sebelumnya tidak menyangka kalau ada perusahaan yang mau merekrut penyandang cacat sebagai karyawannya. Menurut Aty yang lulusan dari Jurusan Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing, Bandung, dirinya memang terus berupaya untuk tidak menutup diri dan selalu ingin melakukan yang terbaik, termasuk dalam pekerjaan. “Pokoknya saya mau coba kepakkan sayap semampu yang saya bisa lakukan. Bahkan sepertinya saya lebih “takut” dengan klien daripada atasan saya,” ujar penyandang polio sejak balita ini.

Demikian pula dengan Bunga yang baru merampungkan kuliahnya di Fakustas Ekonomi, Universitas Jayabaya, Jakarta. Peristiwa kecelakaan yang dialaminya pada tahun 1999, membuat aktivitas sehari-harinya harus dijalani di atas kursi roda. Perlahan tapi pasti, Bunga mulai merajut hidupnya dengan semangat. Apalagi kedua orang tuanya sangat mendukung keinginannya untuk bekerja dan mandiri. Menyemai kemauan yang besar disertai semangat para pekerja penyandang cacat bisa juga tergambar pada sosok Adi (30) yang tinggal bersama istri dan seorang anaknya di Ciputat, Tangerang. Setiap hari, pria berkacamata ini menempuh perjalanan ke tempat kerjanya menggunakan sepeda motor bebek yang dimodifikasi menjadi roda tiga. Atau sosok Bony Purnama (31) yang tinggal di kawasan Ciledug. Setidaknya Aty, Bunga, Adi, dan Beny, kini mulai merajut harapan dan semangat yang sama dengan pekerja normal lainnya.

0 komentar: