Oleh Muhammad Sufyan
Bandung, Bisnis Indonesia – Kontribusi layanan nilai tambah atau value added service (VAS) operator seluler masih didominasi layanan ring back tone (RBT) atau nada tunggu pribadi, sekalipun tingkat kegagalannya ternyata relatif tinggi.
Bandung, Bisnis Indonesia – Kontribusi layanan nilai tambah atau value added service (VAS) operator seluler masih didominasi layanan ring back tone (RBT) atau nada tunggu pribadi, sekalipun tingkat kegagalannya ternyata relatif tinggi.
Tri Dewi Mustikarini, Staf Senior Gaming & Content PT Indosat Tbk, mengungkapkan hampir separuh pendapatan operator seluler di Indonesia berasal dari nada tunggu pribadi khususnya dari lagu pop dan dangdut.
“Sisanya 30% dari game, 10% dari kuis, dan 10% lagi macam-macam,” ujarnya baru-baru ini.
Dia menambahkan khusus Indosat, RBT masih sangat dominan meski varian konten lainnya terus ditawarkan oleh operator itu.
Salah satu varian konten itu adalah arena baca, yakni layanan yang memungkinkan pelanggan mengunduh buku, cerita pendek, cerita bersambung, atau komik di ponsel setiap pelanggannya.
Tri mengungkapkan nada tunggu pribadi wajar menjadi favorit masyarakat, karena layanan tersebut merupakan layanan nilai tambah yang pertama diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia.
Suzana Sumanto, Manager Customer Service PT Indosat Bandung, menambahkan minat komunitas pengguna memang masih terpusat pada layanan yang bersifat hiburan seperti jenis musik, film, ataupun religi.
“Namun, mendorong pengguna seluler mau membaca di ponsel, itu butuh usaha ekstra. Selain ini layanan yang benar-benar inovatif, minat membaca di masyarakat kita juga kan masih perlu ditingkatkan,” katanya.
Dia menjelaskan layanan nilai tambah mulai memberikan kontribusi pendapatan yang cukup besar kepada operator di samping pendapatan suara dan SMS, sehingga jasa ini tidak bisa dianggap sebelah mata.
Sumber Bisnis pada sebuah perusahaan content provider (CP) atau penyedia konten menyatakan bahwa nada tunggu pribadi kini mulai tergeser oleh layanan kuis terutama yang mengiming-imingi pemberian hadiah langsung.
Dia menjelaskan apapun jenis kontennya, tingkat kegagalan pengunduhan sebuah layanan ternyata hampir mencapai 70% di semua CP. Parahnya, para pengelola konten tetap mengklaim layanan tersebut sehingga pulsa tersedot.
“Meskipun banyak menuai klaim-klaim, penyedia konten itu sudah berusaha secara jujur.”
0 komentar:
Posting Komentar