03 April 2009 Tambang Dolar Kode Digital

Dibutuhkan dukungan infrastruktur untuk menjadikan aplikasi digital sebagai industri kreatif.

Sica Harum

Media Indonesia – Orang kaya bentukan internet selalu punya ciri yang sama. Mereka muda usia dan tidak pernah takut mencoba. Mark Zuckerberg yang sukses membesarkan jejaringan sosial Facebook ialah nama yang paling mudah dicomot sebagai bukti.

Selain Zuckerberg, ratusan ribu anak muda mereguk nikmatnya berkreasi di dunia internet. Misalnya Ankur Nagpal yang membuat puluhan kuis di Facebook. Salah satunya mungkin pernah Anda coba, yaitu kuis Which Friends Character Are You ?

Kuis buatan Nagpal itu disukai hingga puluhan ribu orang. Pihak pengiklan pun tertarik. Dalam waktu singkat, rekening Nagpal terisi ribuan dolar, berkat iklan yang ikut nampung pada halaman kuis produksinya. Hal itu dimungkinkan karena Facebook membuka bahasa pemrogramannya kepada khalayak luas.

Platform yang dibuat secara opensource itu juga dilakukan oleh Google melalui sistem operasi mobile-nya, Android. Apple yang membebaskan pihak luar mengembangkan aplikasi pada iPod dan iPhone-nya. Hal itu ikut melecut kalangan programmer independen untuk menciptakan aplikasi di iPhone atau iPod, lalu menjualnya dengan harga tertentu di Apps Store.

Di pasaran internasional sendiri, pasar aplikasi berbasis web ataupun mobile memang sedang ‘gurih-gurih’-nya. Steve Demeter, pembuat aplikasi permainan Trims di iPhone meraup keuntungan US$250 ribu dalam waktu dua bulan, tahun lalu. Demeter menjual Trims buatannya seharga US$5 untuk setiap pengunduhan.

Di Indonesia, geliat itu bukannya tidak terasa. Kemunculan komunitas pengembang, seperti Facebook Developer Garage Indonesia dinilai cukup memberi harapan.

“Ke depan saya rasa masa depan programmer cerah kok,” timpal programmer Kukuh Tw, pembuat microblog kronologger.com.

Namun, Direktur ThinkWeb Ramya Prajna memberi kisaran harga sebuah aplikasi berbasis web. “Semakin rumit semakin mahal. Bisa Rp20 juta, misalnya,” terang Ramya.

Andy Santoso dari Interactive Hub, perwakilan pemasaran Facebook di Indonesia pun memberi kisaran tidak jauh beda. “Mulai dari US$1.000 hingga US$5.000,” ujarnya.

Mekanisme penetapan harga sebuah aplikasi memang menjadi hak prerogratif pembuatnya. Bisa dijual ‘eceran’, bisa juga sekaligus ‘nembak’.

Jika aplikasi langsung digunakan end user (pengguna akhir), harga bisa dipatok minimal dan berharap keuntungan dari jumlah pembelian massal. Tapi jkia aplikasi dimanfaatkan pengiklan, harga bisa ditetapkan untuk skala periode tertentu.

Apalagi, menurut pemerhati bisnis musik Daniel Tumiwa, industri musk dan iklan banyak membutuhkan aplikasi berbasis web yang membantu dan memudahkan kegiatan promosi. Misalnya untuk promo grup musik baru mengenalkan musik mereka.

Pasar aplikasi digital yang bersifat internasional itu menjanjikan besaran yang luar biasa. Namun sayangnya, Indonesia belum didukung infrastruktur yang layak.

Pasalnya, biaya koneksi internet relatif masih mahal, kecepatan koneksi yang masih terbatas, dan belum meratanya akses. Jumlah pengakses internet hanya sekitar 10%-12% total penduduk Indonesia. Sekitar 25-30 juta, berdasar data internatworldstat. Artinya, calon tenaga pembuat palikasi pun masih terbatas.

Ke depan, pemerintah juga berancang-ancang mendirikan sebuah Pusat Pengembangan Industri Kreatif yang akan memfasilitasi kebutuhan pelaku di industri kreatif. Termasuk menyiapkan sumber daya manusianya.

“Dalam wadah ini, akan ada kerja sama antara Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Departemen Perindustrian (Deperin), Departemen Perdagangan, dan Departemen Keuangan,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh.

Namun, rencana itu pasti membutuhkan waktu cukup lama untuk direalisasikan.

Untuk itu, ide untuk memasukkan mata kuliah pembuatan aplikasi digital, seperti yang dilakukan di beberapa kampus, perlu diapriasiasi.

Bagaimanapun, langkah itu merupakan upaya membesarkan bisnis aplikasi digital menjadi bagian dari industri kreatif yang menjanjikan. (*/E-6) ica@mediaindonesia.com

0 komentar: