01 April 2009 Tarif Telepon Tak Turun

Oleh Arif Pitoyo

Jakarta, Bisnis Indonesia - Tarif telepon dipastikan tidak akan turun tahun ini setelah Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) tidak mengevaluasi kembali tarif interkoneksi yang mulai berlaku 1 April tahun lalu.

Anggota BRTI Heru Sutadi menegaskan tarif interkoneksi yang diumumkan tahun lalu berdampak pada penurunan tarif ritel ke pengguna, tetapi diiringi dengan penurunan kualitas pelayanan.

“Kondisi operator saat ini kurang begitu bagus yang terlihat pada laporan keuangannya tahun lalu. Regulator meski menjadi kelangsungan industri dengan cara menahan penurunan tarif interkoneksi,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Sebelumnya regulator berjanji akan mengevaluasi tarif interkoneksi setiap tahun. Namun, dalam pernyataan resminya regulator belum berencana menggunakan biaya interkoneksi baru, melainkan biaya interkoneksi yang dihitung dan mulai diimplementasikan tahun lalu.

Berdasarkan catatan Morgan Stanley pada 2006, di kawasan Asia Pasific tarif seluler di Indonesia tergolong tinggi. Hal tersebut terlihat pada catatan EBITDA (earnings before interest, tax, depreciation, and amortization) margin periode 2001-2006 diatas 50%, bahkan Telkomsel menyentuh angka hingga72%.

BRTI melihat persoalan tingginya harga interkoneksi menjadi pemicu tingginya tarif ke konsumen ritel.

Guna memberikan tarif yang terjangkau bagi masyarakat, pemerintah pada Februari 2008 telah mengumumkan perhitungan biaya interkoneksi yang baru berdasarkan perhitungan cost based (berbasis biaya), di mana terjadi penurunan yang signifikan untuk tarif telepon seluler dan SMS.

Dengan penurunan biaya interkoneksi yang berlaku efektif per 1 April 2008, tarif yang dipatok operator pun berubah dan bisa lebih terjangkau.

Dari laporan tarif yang disampaikan operator kepada BRTI, terjadi penurunan yang cukup besar untuk tarif pungut seluler yang dijadikan tarif tetap, bahkan ada yang mencapai hingga 70%.

Misalnya saja, harga layanan SMS yang selama ini untuk lintas operator tercatat pada angka Rp300-Rp350, kini juga mulai turun secara variatif.

“Operator rata-rata menjual SMS dengan tarif di bawah Rp150. Angka itu sesuai dengan penurunan biaya terminasi SMS yang menjadi Rp26, sehingga biaya produksi juga jadi murah,” lanjut Heru.

0 komentar: