19 Mei 2009 BRTI fasilitasi pemblokiran BlackBerry

80% Handset dibeli tidak melalui operator resmi

Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto

Jakarta, Bisnis Indonesia – Regulator meminta pertanggungjawaban Research in Motion (RIM) atas nasib pelanggan BlackBerry di Indonesia yang semakin banyak mengalami pemblokiran handset.

Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan pihaknya banyak menerima keluhan dan prihatin terhadap para pelanggan BlackBerry yang tidak bisa menggunakan handset mereka karena tiba-tiba terblokir oleh RIM, produsen BlackBerry.

“Pemblokiran tersebut tidak pernah ada penjelasan dari RIM, padahal perangkat yang dimiliki ada yang beli resmi melalui operator telekomunikasi distributor BlackBeery di Indonesia,” ujarnya kemarin.

Dia menjelaskan para pengguna kini kebingungan ke mana mereka harus mencari tahu mengenai pemblokiran handset BlackBerry yang digunakan, karena para operator telekomunikasi pun mengalami kebingungan serupa.

Regulator saat ini telah melakukan korespondensi dengan pihak RIM untuk bertemu dan meminta penjelasan atas masalah ini. RIM sampai sekarang belum menentukan siapa orang yang pas untuk pertemuan tersebut.

Heru mengaku bersimpati, konsumen sudah membeli BlackBerry dengan harga mahal, tetapi malah di blokir. Konsumen membeli handset ini dari toko seluler kemudian digunakan berlangganan ke operator tertentu dan tiba-tiba diblokir.

Pihaknya menyayangkan sikap RIM yang sampai sejauh ini tidak membuka pusat layanan di Indonesia, apalagi kantor cabang. Padahal jumlah penjualan BlackBerry di Indonesia tertinggi di Asia sepanjang tahun lalu hingga kini.

“RIM tidak bisa lepas tangan begitu saja, wong blokirnya mereka yang melakukannya, harusnya dijelaskan ke konsumen kenapa itu terjadi, apakah BlackBerrynya paslu atau kloning, atau apa yang terjadi,” ujarnya.

Pengguna BlackBerry bajakan atau ilegal tidak terkena hal ini

Menurut dia, RIM harus bertanggun jawab memberikan perlindungan terhadap konsumen di Indonesia.

Sejauh ini RIM menyatakan tidak akan membuka kantor cabang (representative office) di Indonesia padahal pertumbuhan penjualan BlackBerry di Indonesia hampir mencapai lima kali lipat tahun lalu.

Regional VIP Asia Pacific Research in Motion (RIM) Gregory Grey bulan lalu mengatakan pihaknya memutuskan hal tersebut untuk meningkatkan hubungan baik selama ini dengan para operator telekomunikasi yang menjadi distributor BlackBerry di Indonesia.

“Segala keluhan dapat diselesaikan melalui distributor karena kami membekali mereka dengan segala bentuk pendidikan dan pelatihan,” ujarnya.

Tak melalui operator
Sebanyak 80% peranti dalam layanan BlackBerry Indosat dibeli pelanggan di pasar bebas di luar operator tersebut.

Guntur S. Siboro, Direktur Pemasaran PT Indosat Tbk, menuturkan sekitar 80% peranti yang dipakai pada layanan BlackBerry bukan dibeli dari pihaknya.

“Kami tegaskan, kami bukanlah penyedia handset, melainkan service, sehingga kami tetap memberikan service, tetapi tidak dapat memastikan proteksinya,” ujarnya di sela-sela Expo Indosat BlackBerry Touch Experience kemarin.

Menurut Guntur, pihaknya hanya dapat memastikan proteksi pada handset BlackBerry yang dibeli dari Indosat. “Dengan membeli dari kami maka kami menjamin cloning tidak ada,” ujarnya.

Indosat telah memesan 5.000 unit handset layar sentuh BlackBerry Storm, lebih dari 5.000 unit BlackBerry seri Bold serta 2.000 unit seri BlackBerry lain.
(fita.indah@bisnis.co.id/roni.yunianto@bisnis.co.id)

0 komentar: