Media Indonesia (18/5/2009) – Peningkatan kebutuhan teknologi wimax terbaca pada kongres Forum Wimax Asia kedua di Singapura, beberapa waktu lalu. Dari India, Indonesia, Jepang, Korea, sampai Australia tengah berlomba membangun teknologi dan regulasi untuk wimax.
“Wimax bukan cuma tentang teknolgoi 4G. Melainkan, ini generasi pertama teknologi mobile internet dan sekarang saatnya untuk terlibat dan memaksimalkan pasar,” kata Ron Resnick, Presiden Wimax Forum.
Saat kongres itu digelar, perusahaan penyedia wimax asal Malaysia, Packet One Network, juga menawarkan tur perjalanan menuju Johor Bahru, kota terakhir yang dilengkapi teknologi wimax.
“Ini semacam tahun pendefinisian makna wimax. Kita harus tetap menjaga momentum ini dan melanjutkan apa yang sudah dikerjakan.
Penggunaan wimax pada jaringan komersial menandai pergantian ekosistem dari produk dan layanan nirkabel yang berpindah, (mobile wireless),” kata Michael Lai, CEO Packet One Network.
Di Indonesia, pasar wimax sangat menarik untuk digarap. Apalagi perangkatnya sudah dapat diporduksi sendiri.
Perangkat wimax terdiri dari tiga komponen. Yaitu base station, subscriber station, dan antena. Ketiga komponen produksi Harrif Daya Tunggal Energi, misalnya, telah memenuhi komponen lokal sebesar 67,47%, 36,16%, dan 79,38%. “Bahkan kita bisa menggarap pasar negara berkembang lainnya,” kata pakar teknologi informasi Onno W. Purbo.
Ia pun berhitung. “Misalkan 10% pengguna telepon seluler dikonversi ke wimax saja sudah sekitar 8 juta. Ini pasar yang besar,” katanya.
Yang penting, lanjut Onno, pemerintah harus memastikan adanya pasar pengguna sehingga industri terkait akan bergerak. Jika banyak yang terlibat, harga akan semakin kompetitif. (*/P-3)
0 komentar:
Posting Komentar