Indonesia dapat jatah sembilan kode akses SLI
Oleh Arif Pitoyo
Jakarta, Bisnis Indonesia – Regulator akan menyederhanakan lisensi telekomunikasi seiring dengan perkembangan industri telekomunikasi ke arah konsolidasi dan konvergensi.
Oleh Arif Pitoyo
Jakarta, Bisnis Indonesia – Regulator akan menyederhanakan lisensi telekomunikasi seiring dengan perkembangan industri telekomunikasi ke arah konsolidasi dan konvergensi.
Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Nonot Harsono menegaskan penyerdehanaan linsesi adalah tuntutan zaman.
“Kami di BRTI sedang mempercepat terbitnya regulasi yang lebih sederhana dan menyehatkan,’ ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Sejumlah operator meminta regulator menyederhanakan linsesi dan teknologi komunikasi bergerak dalam menghadapi konsolidasi industri telekomunikasi yang diprediksi dimulai tahun ini.
Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan linsesi yang paling efisien dalam rangka menghadapi konsolidasi dan konvergasi di sektor telekomunikasi adalah selular.
“Selama ini saya menilai linsesi fixed wireless access[FWA] adalah banci karena secara teknologi sebenarnya sama dengan selular,” ujarnya akhir pekan.
Dalam rangka menghadapi konvergasi dan konsolidasi, lanjutnya, regulator sebaiknya menyederhanakan linsesi telekomunikasi bergerak menjadi hanya seluler dan membebaskan operator untuk memberikan layanan kepada masyarakat dengan cakupan nasional, tidak berkotak-kotak berdasarkan kode area.
Berdasarkan catatan Bisnis, sejarah lahirnya linsesi FWA berawal dari permintaan penurunan tarif fixed line oleh Telkom sejak 2002 melalui rebalacing. Namun, permintaan tersebut tidak disetujui oleh pemerintah dan DPR saat itu.
Akhirnya, BUMN telekomunikasi itu memutuskan untuk mengganti teknologi dari kabel menjadi nirkabel dengan tarif yang lebih murah dari seluler. Pemerintah pun memberikan linsesi FWA kepada Telkom Flexi pada 2003.
Pita frekuensi yang digunakan oleh FWA dan seluler juga sebenarnya sangat berdekatan, yaitu di pita 800 MHz dan 900 MHz.
Dirut Indosat Johnny Swandy Sjam juga mengungkapkan kompetensi yang semakin ketat akibat penurunan tarif sejak April 2008 memicu munculnya landskap industri baru, yaitu bercampurnya linsesi seluler dan FWA.
BRTI sendiri sudah menyiapkan kajian yang akan mengakomodasi merger dan akuisisi untuk menjaga kompetensi dan kepentingan nasional.
Selain persoalan linsesi, regulator juga didesak untuk menggabungkan linsesi VoIP (voice over Internet protocol) dengan suara (clear channel).
“Saat ini, antara komunikasi suara dangan VoIP sudah tidak ada bedanya,” tutur Sarwoto.
Menurut dia, komunikasi suara yang menggunakan jaringan 3G dan sambungan langsung internasional (SLI) juga tanpa sadar sudah menggunakan VoIP karena melalui jaringan data.
Jatah SLI
Terkait dengan SLI, Indonesia mendapat jatah dari International Telecommunication Union sebanyak sembilan kode akses SLI.
Sampai saat ini, sudah ada tiga operator SLI di Indonesia yang menggunakan empat kode Akses, yaitu 001 dan 008 (Indosat), 007 (Telkom), dan 009 (Bakrie Telecom).
Anggota BRTI Heru Sutadi mengatakan regulator mendorong terciptanya persaingan di segmen sambungan langsung internasional dan bertambahnya jaringan ke internasional khususnya Tier-1.
“Alokasi kode internsional 00x ada sekitar sembilan di mana saat ini sudah dipakai empat akses sehingga masih tersisa lima kode lagi yang dapat dipakai,” tuturnya kepada Bisnis belum lama ini.
Menurut dia, regulator juga berharap dengan bertambahnya operator SLI makin meningkatkan gateway internasional di kawasan timur Indonesia.
“Dengan adanya tiga operator SLI seperti saat ini, kompetisi sebenarnya sudah berjalan dengan baik, asalkan tidak ada kartel,” tuturnya, (RONI YUNIANTO) (arif.pitoyo@bisnis.co.id)
0 komentar:
Posting Komentar