08 Mei 2009 Memasang Target 6 Juta Pelanggan

Warta Ekonomi
07 Mei 2009

Berkat kecintaannya pada dunia teknologi dan Telekomunikasi, Erik Aas pun betah berkarier selama lebih dari 12 tahun di industri itu. Kini, Erik diuji untuk membesarkan sebuah perusahaan Telko di Indonesia.

“Anda tahu mengapa di ruang kami tidak akan Anda jumpai satu telepon pun di meja? Sebab, sekarang kami cukup mengandalkan telepon genggam masing-masing untuk berkomunikasi satu sama lain. Dan, ini sangat efektif,” kata Erik Aas, president direktur dan CEO PT Natrindo Telepon Seluler (AXIS), ketika menerima Warta Ekonomi di kantor Axis yang baru, awal April silam. Sebulumnya, markas Axis berada di Jl. Gatot Soebroto, Jakarta. Kini, mereka bernaung di Gedung DEA, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta.

Erik mengaku menyukai perubahan di kantor baru tersebut. Kalau dulu antar ruangan memakai sekat pemisah, kini semuanya terbuka. “Bahkan, ruangan saya pun menyatu dengan ruangan staf.” Kata dia. Jadi, imbuh Erik yang resmi menjabat sebagai presdir AXIS sejak 2007 ini, semua orang bisa saling menyapa dan dekat dengan direksi.

Ternyata, keterbukaan ruang kantor itu adalah inisiatif Erik. Ia meminta tim manajemen untuk mendesain ruang kerja yang tidak membuat karyawan saling terisolasi. “Kami ingin membangun hubungan yang terbuka, dimana setiap orang dapat melihat satu sama lain,” tutur Erik. Konsep ini, lanjut dia, membuat setiap orang merasa sama, tak ada yang diistimewakan. Bahkan, seluruh karyawan mendapat jatah meja, kursi dan peralatan kantor yang sama. “Anda bisa melihat, meja dan kursi direksi sama saja dengan jatah pegawai biasa. Semua sama.” Kata pria yang mengaku tidak terlalu suka memakai dasi ke kantor ini.

Menurut Erik, konsep keterbukaan ini adalah salah satu strateginya dalam memimpin Axis. Ia ingin karyawannya tidak sungkan berdekatan dengan dirinya atau jajaran direksi lainnya. Ia ingin mereka lebih mudah berkomunikasi dan berinteraksi dengan direksi secara langsung. “Bagi saya, lingkungan kerja adalah awal untuk tumbuh kembangnya AXIS. Dan, kantor seperti inilah yang sudah menjadi impian saya sejak lama. Ada kehangatan dan kedekatan di dalamnya,” kata pria yang selalu terlihat energik ini.

Sebelum bergabung dengan AXIS, Erik sempat menjadi nakhoda di Grameenphone, sebuah perusahaan operator telekomunikasi terkemuka di Bangladesh, pada 2004-2007. Selama tiga tahun berkarier di perusahaan tersebut, Erik berhasil melipatgandakan jumlah pelanggan, dari 2 juta (2004) menjadi 15 juta (2007). Selain itu, ia berhasil meningkatkan jangkauan jaringan Grameenphone dari 55% menjadi 98%.

Si Pencinta Teknolgi
Ada alasan mengapa ayah satu putri ini begitu konsisten berkarier di industri telekomunikasi. “Saya suka hal-hal yang berbau teknik,” seru Erik. Ia mengaku tergila-gila dengan produk dan sistem teknologi, khususnya di industri telekomunikasi. Menurut jebolan Norwegian Institute of Science and Technology, NTNU, Trondheim, Norwegia, ini, teknologi menuntutnya untuk memiliki pemahaman ekstra. Apalagi ketika teknologi digabungkan dengan bisnis. Keduanya menjadi tantangan amat menarik bagi Erik. “Saya tertarik untuk membuat industri telekomunikasi bisa bergerak cepat dan memengaruhi banyak orang,” kata Erik, antusias.

Oleh karena kecintaannya pada teknologi, pria murah senyum ini juga ingin masyarakat Indonesia bisa lebih mudah lagi dalam mengakses internet. Ia membandingkan dengan Norwegia, di mana setiap orang terkoneksi dengan internet. “Bagi saya, teknologi adalah hal yang fundamental. Saya ingin masyarakat Indonesia juga memiliki kemudahan dalam berinternet, khususnya lewat telepon seluler mereka,” ujar Erik. Itu sebabnya, ia bungah ketika diberi kesempatan memimpin AXIS di negeri ini. Ia ingin seluruh masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap komunikasi. Dan, sebagai bagian dari industri telekomunikasi, Erik ingin turut berperan dalam mempercepat pembangunan industri ini.

Hingga akhir 2008, jumlah pelanggan AXIS mencapai 3 juta orang. Sampai akhir 2009, Erik memasang target bisa memiliki 6 juta pelanggan. Saat ini, perusahaan memiliki 3.300 base transceiver station (BTS), dan akan menambah sekitar 3.000 menara BTS lagi di Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan dan Sulawesi. Kelak, dari 6.000-an menara BTS itu, tiga perempatnya merupakan menara bersama. Selain itu, Erik ingin memperluas coverage dan memperkuat kualitas sinyal di wilayah Jawa Timur. Sebab, jika merujuk sejarah, Natrindo Telepon Seluler (NTS) mengawali bisnis seluler di Surabaya, dengan brand Lippo Telecom, pada 1999.

Erik mengaku adrenalinnya terpacu saat memimpin AXIS. Baginya, bekerja di perusahaan tersebut lebih menantang daripada saat bekerja di Grameenphone. “AXIS masih baru, pelanggan belum banyak, jangkauan masih terbatas. Ini membuka peluang untuk bisa tumbuh dengan cepat,” ujar peraih gelar Master of Business Administration dari IMD Business School, Swiss, ini. Erik pun meminta seluruh karyawan untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif. Ia mengaku hanya memilih orang yang mampu berpikir efisien dan bekerja dengan cerdas untuk bekerja di AXIS. Bahkan, sebisa mungkin Erik ingin mematahkan birokrasi yang kaku.

Sebagai pemain baru, lanjut Erik, AXIS pun kini memiliki pelanggan yang seluruhnya baru. Menurut Erik, tidak memiliki pelanggan lama adalah sebuah berkah karena, dengan begitu, AXIS bisa memperlakukan seluruh pelanggannya secara sama. Jadi, “Kami tidak ragu-ragu dalam memperkenalkan produk baru, teknologi baru, dan menjalankan strategi yang cepat untuk bisa terus maju dan menjadi yang terdepan,” katanya. Namun, Erik menyadari bahwa sebagai pemain baru tentu tidak mudah untuk memenangi persaingan. “Saya ingin masyarakat tahu bahwa kami adalah operator yang serius dalam memberi pelayanan,” tandasnya. AXIS membidik segmen muda (15-35 tahun) dengan memberi tarif murah yang tidak dibatasi waktu. Selain itu, ia membuka lebih banyak kanal pemasaran, termasuk urusan voucher pulsa isi ulang. Kini, pelanggan AXIS bisa membeli vocer pulsa isi ulang di jaringan minimarket Alfamart dan ATM BCA.

Ricardo Tavares
Senior Vice President, Public Policy, GSM Association
Erik adalah CEO yang unik, ia bukan Cuma sebatas manajer, melainkan seorang pemimpin. Ia memiliki kemampuan untuk mengubah perilaku dan pola pikir orang lain, kekuatan dalam memmimpin tim, serta pendengar yang baik dan mau belajar dari siapa pun



Hidup Itu Sederhana
Matahari makin condong ke barat, tatapi obrolan dengan Erik makin hangat. Ketika diminta bercerita tentang masa kecilnya, Erik sempat terdiam. “Aduh, saya ini hanya orang biasa,” kelitnya, merendah. Erik lahir dan dibesarkan di Hamar, semua kota kecil di Norwegia. “Mungkin kalau di Indonesia, kota kelahiran saya bisa disebut kampung, karena penduduknya hanya sekitar 15.000 orang,” katanya, tersenyum. Bahkan, karena sedikit jumlah penduduknya, jika Erik berdiri di atas atap rumahnya, maka semua rumah penduduk bisa kelihatan dengan mudah.

Erik juga bercerita dia sangat menikmati setiap musim di Norwegia, yaitu musim dingin dan musim panas. Dan, dari negeri kelahirannya itulah kecintaannya pada teknologi muncul. “Entah mengapa sejak kecil saya memang sudah tergila-gila pada teknologi,” kata mantan chief marketing officer (CMO), DiGi Telecommunication, Malaysia, ini.
Setelah lulus pendidikan dasar, Erik sempat bergabung di Angkatan laut sebagai staf yang mengurusi berbagai teknologi untuk keperluan militer.”Saya diserahi tanggung jawab menangani semua teknologi Angkatan Laut yang ada. Di situ ada roket, dan saya jadi tahu cara menggunakan senjata. Dari sinilah, saya makin mengagumi keberadaan teknologi,” kenangnya.

Menariknya, meski ia sangat mencintai teknologi dan dikenal sebagai sosok pekerja keras, Erik selalu memandang hidup ini sederhana. Itu sebabnya ia tidak pernah bermimpi muluk-muluk, bahkan melakukan perencanaan yang sempurna, untuk karier dan hidupnya. Erik hanya mengandalkan kata hatinya. “Just follow my heart. Saya pergi ke sekolah yang saya inginkan tanpa perlu berpikir setelah itu mau jadi apa. Saya juga tidak pernah pusing memikirkan karier saya akan seperti apa nantinya, atau pekerjaan baru apa yang akan saya lakukan. Hanya mengikuti kata hati dan ke mana kaki saya melangkah,” ujarnya, berfilosofi.

Itu sebabnya, ketika ada kesempatan untuk berkarya di AXIS, Erik tanpa ragu-ragu berbicara meyakinkan dewan komisaris bahwa ia sanggup memimpin perusahaan tersebut. “Saya hanya yakin pekerjaan ini untuk saya, dan saya katakan kepada mereka bahwa saya menginginkan pekerjaan ini. Saya akan berbuat sesuatu untuk AXIS. Lagi pula saya suka Indonesia,” kata pria yang mengaku tidak memiliki akun di Facebook ini. Meski demikian, ia tidak ngotot dalam melakoni kariernya sebagai pimpinan AXIS. “Hidup saya hanya 24 jam sehari. Saya tidak ingin sejak bangun tidur hingga tidur lagi pikiran saya hanya dipenuhi dengan pekerjaan. Saya tidak bisa hidup seperti itu. Pekerjaan layaknya sebuah hobi untuk saya.

Hidup itu sederhana, maka saya ingin menikmati hidup saya sebaik mungkin di keluarga dan juga karier saya,” kara Erik, mengakhiri percakapan. **D. UTAMI WARDHANI



0 komentar: