11 Mei 2009 Capex Bakrie Telecom capai US$365 Juta

Oleh Sylviana Pravita R.K.N

Jakarta, Bisnis Indonesia – PT Bakrie Telecom Tbk memerlukan pembiayaan eksternal US$97 juta untuk memenuhi belanja modal (capital expenditure/capex) hingga tahun depan yang menembus US$365 juta.

Belanja modal itu untuk meningkatkan kapasitas dan daya jangkau jaringan telekomunikasi ke depan.

“Setelah rights issue Rp3 triliun pada 2008, perseroan juga menjual menara telekomunikasi senilai Rp390 miliar. Dana itu untuk memenuhi sebagian kebutuhan dari belanja modal perseroan,” ujar Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom M. Danny Buldansjah kepada Bisnis kemarin.

Dia mengatakan setelah menjual 543 menara telekomunikasi, Bakrie Telecom akan melaksanakan sistem sewa dan menggunakan dana penjualan menara guna pengembangan perseroan.

Berdasarkan materi paparan publik perseroan yang akan dipresentasikan pada 12 Mei 2009, belanja modal perseroan 2008-2010 mencapai US$597 juta. Pada tahun ini, perseroan membutuhkan belanja modal US$202 juta dan tahun depan US$163 juta.

Emiten itu membutuhkan pendanaan eksternal senilai US$97 juta guna memenuhi sebagian dari belanja modal hingga tahun depan, selebihnya dari kas internal dan ekuitas.

Meski demikian, sebagian besar kebutuhan pendanaan telah terpenuhi melalui penerbitan saham baru Rp3 triliun, utang, kas internal, dan vendor financing mencapai US$150 juta.

“Kami menargetkan jumlah pelanggan pada tahun depan mencapai 14 juta pelanggan dan pada tahun ini ditargetkan 10,5 juta pelanggan,” katanya.

Jumlah pelanggan Bakrie Telecom pada akhir Maret 2009 mencapai 8 juta. Jumlah ini mengalami pertumbuhan 78,8% dibandingkan dengan pelanggan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 4,5 juta. Pada akhir 2008, pelanggan Bakrie Telecom mencapai 7,3 juta pelanggan.

Meski demikian, laba bersih operator telepon itu pada triwulan I/2009 tergerus menjadi Rp5,7 miliar dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama pada tahun lalu, yaitu Rp27,4 miliar.

Anjloknya laba bersih perusahaan tersebut disebabkan oleh rugi kurs senilai Rp14,2 miliar pada 3 bulan pertama tahun ini, padahal perseroan mengalami laba kurs senilai Rp25,9 miliar pada kuartal I/2008.

Presiden Direktur BTEL Anindya N. Bakrie mengatakan rugi kurs itu disebabkan oleh dampak dari belanja modal perseroan dalam denominasi dolar.

“Untuk utang dalam mata uang asing, Bakrie Telecom telah menerapkan lindung nilai. Rugi kurs terhadap belanja modal itu karena depresiasi rupiah.

0 komentar: