Koran Jakarta – Dampak dari perang tarif masih terus membebani kinerja emiten di sektor telekomunikasi di Semester I-2009. Naiknya laba bersih kuartalan belum di topang laba operasi yang memadai, namun lebih ditopang oleh keuntungan selisih kurs akibat naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Naiknya laba bersih di kuartal kedua 2009 di sejumlah emiten telekomunikasi utamanya bukan berasal dari naiknya operasi perusahaan tapi juga ditopang dari keuntungan kurs,” kata analis BNI Securities Achmad Nurchayadi, Senin (10/8).
Penguatan nilai tukar rupiah sangat menguntungkan sejumlah emiten telekomunikasi yang banyak memiliki utang dalam bentuk dolar AS. Selain pembayaran beban bunga yang lebih rendah, utang perusahaan dalam mata uang asing juga turut berkurang dengan naiknya nilai tukar rupiah.
Misalnya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang menikmati keuntungan selisih kurs di Semester I-2009 sebesar 550,4 miliar rupiah, naik lebih 14 kali lipat dari periode sama 2009. Padahal, pendapatan usaha perseroan hanya naik tipis sebesar 462 miliar rupiah atau 1,53 persen menjadi 30,672 triliun rupiah.
Margin Turun
Perang tarif yang memaksa turunnya margin laba kotor juga telah menyebabkan laba usaha Telkom turun 7,15 persen di Semester I-2009 menjadi 11,577 miliar rupiah. Namun, keuntungan di luar operasi, terutama dari selisih kurs bisa menekan penurunan laba bersih perseroan menjadi hanya 4,03 persen menjadi 6,044 triliun rupiah.
Keuntungan dari kurs juga dialami PT Excelcomindo Pratama Tbk dengan kenaikan laba dari kurs bersih sebesar 207,2 miliar rupiah di semester I-2009. Keuntungan kurs PT Mobile-8 Telecom Tbk naik dari 7,8 miliar rupiah di Semester I-2008 menjadi 102,8 miliar rupiah di semester I-2009.
Padahal, pada periode sama, kenaikan laba bersih Excelcomindo hanya sebesar 34,6 miliar rupiah menjadi 973,4 miliar. Sedangkan Mobile-8 mencatat kerugian hingga 365,7 miliar dibandingkan rugi bersih sebesar 141,7 miliar rupiah di semester I-2008.
Ketatnya persaingan industri telekomunikiasi diperkirakan masih akan terus menekan perolehan laba sejumlah emiten telekomunikasi. “Sektor telekomunikasi kemungkinan baru bisa booming lagi di 2010,” kata Achmad.
Analis Etrading Securities, Jundianto Alim, menilai masa depan sejumlah pendatang baru di industri telekomunikasi akan sulit menandingi Telkom, Excelcomindo, dan PT Indosat Tbk. ■ dni/nse/E-7
0 komentar:
Posting Komentar