Koran Jakarta – Dua operator telekomunikasi, awal pekan ini, mengumumkan kinerjanya selama kuartal kedua 2009. Kedua operator itu adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL).
Telkom, pada kuartal kedua, tercatat membukukan laba bersih sebesar 2,46 triliun rupiah atau naik 45,9 persen jika dibandingkan kuartal pertama sebesar 3,95 trilliun rupiah. Namun, jika kinerja semester pertama dipotret secara tahun ke tahun, Telkom bisa dikatakan baru memulai pesta kecil-kecilan.
Anak usaha Telkom, Telkomsel, membukukan pendapatan 1.349 miliar rupiah atau naik 11,1 persen dibandingkan periode sebelumnya. Padahal, Minute of Usage (MOU) dari operator tersebut melonjak sebesar 112 persen dari 32,1 miliar menit menjadi 68,1 miliar menit akibat meningkatnya jumlah pelanggan sebesar 45 persen dari 52,443 menjadi 76,014 juta nomor.
Sementara itu, XL mencatat pendapatan pada semester pertama 6,254 triliun rupiah atau meningkat 7 persen dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya. Sedangkan laba bersih XL naik 12 persen dari tahun sebelumnya menjadi 706 miliar rupiah.
Dari sisi jumlah pelanggan, terjadi peningkatan sebesar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 24,7 juta pelanggan.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan kinerja perseroan menunjukkan performa menggembirakan. Hal ini menunjukkan manajemen secara operasional dan fundamental mampu meningkatkan kapasitas dan kualitas alat produksi meskipun tarif pada semester pertama 2009 secara signifikan lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu.
“Penurunan biaya interkoneksi memang menurunkan pendapatan perusahaa. Tetapi sekarang sudah mulai mendapatkan keseimbangan baru. Apalagi nilai tukar rupiah mulai menguat,” katanya di Jakarta, Senin (10/8).
Berdasarkan catatan, pada semester pertama 2009, pendapatan Telkom dari interkoneksi hanya 548 miliar atau turun 12,5 persen ketimbang periode sama tahun lalu.
Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengungkapkan kinerja yang menggembirakan karena keberhasilan menyeimbangkan sistem penarifan dan kapasitas jaringan yang dimiliki.
“Pada kuartal kedua seolah-olah tidak ada krisis ekonomi di masyarakat sehingga konsumsi berkomunikasi tetap eksponensial,” katanya.
Menurut Hasnul, kegiatan pesta demokrasi seperti pemilihan presiden dan anggota legislatif, serta libur anak sekolah berhasil meningkatkan trafik XL sehingga pendapatan mencapai dobel digit.
Sementara itu, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan kinerja operator secara industri sebenarnya belum kembali seperti masa keemasan dua tahun lalu. “Libur sekolah yang lumayan menolong,” katanya.
Biaya Interkoneksi
Keberhasilan operator yang mampu menunjukkan kinerja positif selama kuartal kedua tahun ini diharapkan juga diikuti dengan menjalankan strategi bersaing di industri yang kompetitif.
“Jadi, tidak benar tudingan pada tahun lalu yang menuding regulator pemicu turunnya kinerja operator akibat regulatory cost atau biaya interkoneksi yang diturunkan,” tegas Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi.
Penurunan biaya interkoneksi pada tahun lalu yang dinilai sebagai faktor utama pelambatan kinerja operator dinilai tepat karena berdasarkan perhitungan BRTI, masih ada ruang untuk lebih menurunkan komponen tersebut.
Heru menyarankan, dalam kompetisi yang kian ketat, operator harus menjalankan usahanya secara efisien dan aktif menjemput bola. Beberapa strategi yang bisa dijalankan adalah kreatif membuka pasar baru, menciptakan ubiqitous service, serta mengembangkan jaringan broadband dan berbasis Internet Protocol (IP).
“Kebiasaan menunggu permintaan harus diganti. Bangunlah infrastruktur, maka permintaan akan tercipta,” katanya.
Praktisi telematika, Ventura Elisawati, mengatakan jika diperhatikan secara statistik dan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sektor telekomunikasi cenderung mengalami penurunan.
“Namun untuk pertumbuhan hingga akhir tahun ini masih dobel digit,” tegasnya. ■ dni/E-2
0 komentar:
Posting Komentar