21 Agustus 2009 Indosat raih pinjaman US$315 juta

Utang perseroan jadi Rp22,69 triliun

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Jakarta (20/08/2009): PT Indosat Tbk meraup fasilitas kredit dari Exportkreditnamnden (EKN), lembaga pendanaan Pemerintah Swedia, senilai US$315 juta untuk pengadaan perangkat telekomunikasi dari Ericsson Swedia dan Indonesia.

President Director & CEO Indosat Harry Sasongko mengatakan baru menandatangani perjanjian fasilitas kredit dari Ericsson, yang merupakan salah satu pemasok utama perangkat dan layanan utama perseroan.

“Fasilitas yang diperoleh menunjukkan kekuatan dan kemampuan kredit Indosat. Ini merupakan upaya diversifikasi sumber pendanaan perusahaan,” paparnya dalam keterangan pers kemarin.

Fasilitas kredit tersebut terdiri dari tiga tahap, di mana sebagian akan digunakan untuk menggantikan pembayaran yang saat ini telah dilakukan kepada Ericsson, dan sebagian lagi untuk membiayai belanja modal Indosat sampai tahun 2011.

Untuk fasilitas ini, Indosat dibantu oleh Hongkong dan Shanghai Banking Corporation (HSBC) dan the Royal Bank of Scotland (RBS).

Menurut Division Head Public Relations Indosat Adita Irawati perseroan telah cukup lama mempunyai kontrak pengadaan perangkat telekomunikasi dengan Ericsson.

“sebelum kami mendapatkan kredit ekspor ini, kami mambayarnya dari sumber dana internal atau perbankan,” tuturnya, seperti dikutip dari Bloomberg, kemarin.

Meskipun operator telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia ini telah memperoleh kredit ekspor ini, dia mengatakan perseroan masih membuka opsi untuk menerbitkan surat utang pada kuartal IV/2009 guna memenuhi kebutuhan pembiayaan.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2009, Indosat mempunyai kewajiban senilai Rp35,63 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp29,00 triliun.

Total kewajiban itu teridiri dari pinjaman dengan pihak istimewa senilai Rp1,79 triliun, yang turun dari semula Rp2,49 triliun, lalu pinjaman dari pihak ketiga Rp10,60 triliun, dan utang obligasi Rp10,52 triliun.

Tanpa penjelasan yang lebih perinci, manajeman menyatakan posisi utang perseroan hingga 30 Juni 2009 melonjak 15,3% dari Rp19,68 triliun menjadi Rp22,69 triliun.

Pada kuartal I/2009, sekitar 51% dari total utang perseroan berdenominasi mata uang asing. Keuntungan selisih kurs diduga menjadi pendorong peningkatan laba bersih Indosat pada kuartal II/2009.

Harga saham Indosat yang berkode ISAT ini ditutup anjlok 4,67% atau Rp250 ke level Rp5.100 pada perdagangan kemarin, dengan nilai transaksi Rp44,1 miliar. (pudji.lestasi@bisnis.co.id)

0 komentar: