Pemerintah diminta atur kompetisi
Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Jakarta: Bisnis warung Internet ataupun penyedia jasa Internet kecil dalam 3 tahun-4 tahun kedepan terancam kolaps, menyusul kekhawatiran terjadinya kompetisi tidak sehat akibat perang tarif promosi Internet.
Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia
Jakarta: Bisnis warung Internet ataupun penyedia jasa Internet kecil dalam 3 tahun-4 tahun kedepan terancam kolaps, menyusul kekhawatiran terjadinya kompetisi tidak sehat akibat perang tarif promosi Internet.
Rudi Rusdiah, Ketua Asosiasi Pengusaha Warnet Komunitas Telematika (APWKomitel) memperkirakan selambatnya dalam 4 tahun ke depan keberlangsungan bisnis warnet dan penyedia jasa Internet kecil terancam kolaps.
“Kami kira warnet tidak akan survive dalam kurun waktu itu, ini karena ancaman dari produk substitusi [BlackBerry dan smartphone] serta tarif promo Internet dari operator besar yang banting harga,” tuturnya kepadan Bisnis kemarin.
Menurut Rudi, dari kenyataan yang ada setiap ada promosi paket Internet operator besar pada bulan-bulan tertentu kerap terjadi perpindahan pelanggan akibat iklan. Strategi tersebut dituding merusak harga di pasar dan mengancam PJI kecil serta usaha warnet.
Irwin Day, Ketua Umum Asosiasi Warnet Indonesia (Awari), mengatakan persaingan tidak sehat terjadi jika satu pihak memonopoli dan membuat pihak lain tidak bisa bersaing dengan adil.
“Dalam kasus koneksi Internet, tidak ada yang memonopoli bahkan sifatnya sangat kompetitif ini terbukti dari harga yang terus turun,” ujarnya.
Meskipun Irwin mengakui harga koneksi Internet yang terus turun berpengaruh positif kepada perkembangan bangsa, tetapi pihaknya tidak bisa melihat dari satu sisi (pengusaha warnet) saja.
“Suka tidak suka, [paket-paket Internet murah operator] pasti berpengaruh bagi warnet. Namun, kami harus melihatnya dalam suatu kerangka besar,” ujarnya.
Kerangka itu antara lain mempertimbangkan kebutuhan perangkat yang terjangkau dan jaringan yang belum tersedia merata di seluruh negeri.
“Untuk mereka yang tidak mampu memiliki komputer di rumahnya, maka warnet adalah pilihan yang rasional. Jadi dari komposisi pemilikan PC dan populasi penduduk Indonesia, maka pasar untuk warnet sendiri masih besar,” tegas Irwin.
Rudi mengatakan ancaman dari produk substitusi push mail BlackBerry dan ponsel cerdas di jaringan GSM ataupun CDMA menyebabkan peran warnet sebagai pendukung last mile menjadi berkurang.
Namun, warnet masih dapat tertolong [dibandingkan PJI kecil] dengan mencari layanan nilai tambah yang tidak disediakan hotspot misalnya ke model lifestyle atau kafe Internet.
Usulan warnet
APWKomitel, tutur Rudi, mengusulkan kepada Depkominfo agar membuat peta jalan yang jelas dan mengkaji kembali kebijakan agar kompetisi menjadi sehat di mana operator besar tidak mematikan usaha yang lebih kecil.
“Diantaranya kami meminta agar regulasi mendorong tarif Internet konsisten [tidak murah sementara lalu naik lagi] agar warnet dapat menentukan perencanaan usaha dan mengikuti perubahan yang ada,” jelasnya.
Irwin berpendapat pengusaha warnet lebih perlu dilindungi dari ancaman represif aparat dan pemerintah daerah.
“Biarkan saja persaingan usaha di kalangan warnet, itu perlu agar mereka dewasa dan membantu mereka menjadi pengusaha yang lebih baik.”
Awari sudah mengkaji mengenai warnet konservatif dan sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak akan bertahan kecuali mereka bisa mengubah bisnisnya dari jualan Internet semata ke bisnis yang memberikan berbagai pelayanan selain Internet.”
Intinya, kata Irwin, warnet harus berubah bentuk. “Ini suatu hal yang wajar di dunia usaha, tidak ada usaha yang statis terus menerus apalagi berusaha di bidang yang erat hubungannya dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi,” tegas Irwin. (roni.yunianto@bisnis.co.id)
0 komentar:
Posting Komentar