19 Februari 2009 Fren Tambah Jaminan

Porsi saham publik menciut 20,57%

Oleh Sylviana Pravita R.K.N & Wisnu Wijaya

Jakarta, Bisnis Indonesia – Manajemen PT Mobile-8 Telecom Tbk (Fren) akhirnya bersedia menambah nilai jaminan obligasi dari 110% dari pokok surat utang Rp 675 miliar menjadi 130%.

Padahal sebelumnya operator telepon berbasi code division multiple access (CDMA) tersebut bersikeras tidak menambah nilai jaminan karena ingin menggabungkan hal itu satu paket dengan restrukturisasi utang pokok obligasi.

“Kami akhirnya memilih top-up [menambah nilai jaminan obligasi] dan akan menandatangani perjanjian itu besok [hari ini],” ujar Sekretaris Perusahaan Mobile-8 Chris Taufik kepada Bisnis kemarin.

Dengan demikian, lanjutnya, pemegang obligasi tidak perlu menggelar rapat umum pemegang obligasi karena perseroan memenuhi kewajibannya menambah nilai jaminan sesuai dengan perjanjian perwaliamanatan.

Dalam pertemuan informal dengan wali amanat dan pemegang obligasi beberapa waktu lalu, Mobile-8 diberi kesempatan menambah nilai jaminan itu hingga batas akhir 16 Februari.

Surat utang Mobile-8 ketika diterbitkan mendapat peringkat BBB+ dengan prospek stabil dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan dijamin dengan peralatan telekomunikasi yang nilainya tidak kurang dari 110% dari pokok obligasi.
Itu berarti nilai jaminan surat utang itu mencapai Rp 742,5 miliar.

Masalah mulai muncul ketika Pefindo pada medio Desember 2008 memangkas peringkat obligasi itu menjadi idCCC dan masuk credit watch dengan implikasi negatif. Peringkat itu berlaku pada periode 16 Desember 2008-16 Maret 2009.

Apabila Mobile-8 gagal memenuhi kewajibannya, peringkat itu akan diturunkan lagi menjadi default.

Akibat penurunan rating itu, Mobile-8 diwajibkan menambah nilai jaminan obligasinya menjadi Rp 877,5 miliar. Itu berarti operator tersebut haurs menambah jaminan lagi senilai Rp 135 miliar.

Chris menambahkan Mobile-8 tetap berkomitmen menyelesaikan utang perseroan melalui berbagai langkah restrukturisasi. Perseroan juga menyatakan mempunyai aset yang cukup untuk menambah jaminan obligasi.


Porsi publik yang memiliki saham Mobile-8 kini menciut 20,57% dari posisi per 30 November tahun lalu sebesar 41,99% saham.

Berdasarkan laporan biro administrasi efek PT Bhakti Share Registrar ke Bursa Efek Indonesia kemarin, UOB Kay Hian Private Ltd dan PT Bhakti Asset Management, pihak terafiliasi dengan Global Mediacom dan Mobile-8, tiba-tiba memiliki 13,29% dan 7,28% saham Mobile-8.

Padahal, pemegang saham operator penyedia jasa telepon Fren dan Hepi per 30 November 2008 adalah Jaresh Investment Ltd, Global Mediacom, Qualcomm Inc, KT Freetel Co Ltd, dan publik.

“Transaksi pembelian itu terjadi lewat pasar dan langsung terjadi antar mereka. Kami tidak ikut campur,” ujar Chris.

Mobile-8 juga terus melanjutkan rencana penerbitan saham baru (rights issue) dan mencari mitra strategis.

Berdasarkan materi rapat informasi Mobile-8 dan pemegang obligasi pada 19 Desember 2008, jika rights issue dilaksanakan, porsi kepemilikan saham publik bisa terdilusi menjadi 26,04% saham.
Satu pemegang obligasi Fren menambahkan Bhakti Asset bisa menampung saham Mobile-8 dari pasar. “Mereka mungkin bersiap-siap mengantisipasi rights issue agar tidak terdilusi terlalu besar ketika rencana itu diwujudkan.” (sylviana.pravita@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

0 komentar: