26 Februari 2009 Pemerintah Diminta Segera Tambah Kanal 3G

Oleh Rizagana

Jakarta, Investor Daily – Operator telekomunikasi seluler berharap pemerintah segera memberikan tambahan frekuensi 3G. Ini untuk memenuhi tuntutan pelanggan akan layanan data yang akhir-akhir ini terus meningkat.

Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun Investor Daily dari Dirut PT Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, Dirut PT Excelcomindo Pratama Hasnul Suhaimi, dan Direktur Marketing PT Indosat Guntur S. Siboro di Jakarta, Rabu (25/2).

Mereka menegaskan, frekuensi 3G yang ada saat ini sebanyak satu kanal sebesar 5 MHz tidak cukup, bahkan penggunaannya telah campur aduk dengan layanan suara dan SMS. Operator berpendapat, sekalipun ada tambahan fekuensi 3G sebanyak 5 MHz menjadi 10MHz, itupun belum cukup memenuhi kebutuhan (kualitas) layanan data di Tanah Air.

“Kami sedang mempelajari tawaran dari semua operator,” kata Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar kepada Investor Daily dalam pesan singkatnya.

Pemerintah sudah memberikan lisensi 3G kepada lima operator seluler, yakni PT Telkomsel, PT Indosat, PT Excelcomindo Pratama (operator XL), PT Hutchison CP Telecom Indonesia Seluler (operator Axis). Masing-masing operator telah mendapat frekuensi 3G sebanyak 5 MHz. Saat ini pemerintah masih memiliki 35MHz untuk ditawarkan kepada operator dengan harga minimal Rp160 miliar. Operator telah memasukkan harga penawarannya pada 19 Januari 2009.

“Kami (operator XL) sudah mengajukan penawaran ke pemerintah untuk tambahan frekuensi 3G itu dengan harga Rp40 miliar per 5 MHz. Harga tersebut didasarkan pada hasil penilaian tim independen,” kata Hasnul.

Hasnul mengatakan, sebuah operator telekomunikasi di Malaysia kini memiliki frekuensi 3G sebanyak 15MHz. Total pelanggannya sebanyak 270 ribu dan bisa menghasilkan pendapatan sebesar Rp600 miliar.

“Jadi, kalau frekuensi 3G di Indonesia Rp160 miliar seperti keinginan pemerintah, berarti untuk tiga kanal seharga Rp480 miliar. Itu belum termasuk biaya investasi jaringannya, seperti Node-B dan lain-lain. Kalau pendapatannya Cuma Rp600 miliar, mana bisa menutup biaya investasi,” kata dia.

Sementara itu, Telkomsel dan Indosat belum berani menyebutkan berapa harga penawaran frekuensi 3G itu yang diajukan kepada pemerintah. Informasi yang diterima Investor Daily menyebutkan, Telkomsel menawar Rp160 miliar, persis seperti yang diharapkan pemerintah.

“Harga penawaran kami paling bagus untuk tambahan frekuensi 3G itu. Mestinya kami langsung dikasih dan kami harap second carrier (frekuensi 3G tambahan) itu tidak terlalu lama,” kata Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno.

Sedangkan Indosat juga tidak bersedia menyebutkan berapa harga penawaran yang diajukan. “Harga penawaran ini kan dalam amplop tertutup. Jadi, tidak etis lah menyebutkannya. Tapi, harga kami di bawah Rp160 miliar,” kata Guntur.

Menurut Guntur, pemerintah harus segera memberikan tambahan frekuensi 3G itu. Lalu lintas layanan data semua operator saat ini sudah penuh akibat permintaan layanan data tumbuh luar biasa.

“Kalau diakali bisa dengan cell splitting (membelah sel), tapi itu butuh waktu lama,” kata Guntur.

Guntur menyadari, penundaan pemberian frekuensi 3G baru itu tidak lepas dari pergantian anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) pada awal Maret ini. Selain itu, sekarang muncul isu pergantian pejabat esolon I di Depkominfo, termasuk Dirjen Postel.

Namun, Hasnul Suhaimi berpendapat, penundaan itu berkaitan dengan instansi yang memutuskan tambahan frekuensi 3G itu nya tidak hanya Depkominfo, tapi melibatkan Departemen Keuangan.

0 komentar: