Oleh Fita Indah Maulani & Roni Yunianto
Jakarta, Bisnis Indonesia (26/5/2009) – Pelaksanaan proyek Palapa Ring semakin tersendat, karena dana investasi berkurang US$30 juta setelah PT Excelcomindo Pratama (XL) keluar dari konsorsium Palapa Ring.
Jakarta, Bisnis Indonesia (26/5/2009) – Pelaksanaan proyek Palapa Ring semakin tersendat, karena dana investasi berkurang US$30 juta setelah PT Excelcomindo Pratama (XL) keluar dari konsorsium Palapa Ring.
Menurut perhitungan Konsorsium Palapa Ring berdasarkan posisi kurs Maret 2009, proyek jaringan kabel bawah laut sepanjang 35.280 km dan kabel daratan 21.807 km itu akan menelan dana investasi US$700 juta.
Sebelum XL yang berkomitmen menyumbang dana investasi US$30 juta mundur, posisi dana investasi konsorsium mencapai US$180 juta atau hanya sekitar 25% dari total kebutuhan investasi.
Dana investasi itu kini menyusut menjadi US$150 atau 21%, yang berasal dari tiga anggota konsorsium tersisa, yaitu PT Telkom (US$90 juta), PT Indosat (US$30 juta), dan PT Bakrie Telecom (US$30 juta).
Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengharapkan proyek Palapa Ring tetap berjalan meskipun ada perubahan anggota konsorsium atau kebutuhan investasi.
“Ketika faktor pembagi berkurang hingga dana yang harus dikucurkan tiap anggota konsorsium semakin besar, itu bisa disiasati dengan merekonfigurasi jaringan,” ujarnya.
Konfigurasi jaringan, tambahnya, bisa membuat proyek Palapa Ring dilakukan melalui mekanisme paket-paket hemat, atau bisa skemanya dibuat terbuka bagi pihak lain yang berminat bergabung dalam konsorsium.
Jika skenario anggota BRTI itu dilakukan, dikhawatirkan jadwal penyelesaian proyek Palapa Ring molor.
Hasnul Suhaimi, Presdir PT Excelcomindo Pratama Tbk, mengatakan kondisi keuangan perusahaan merupakan salah satu alasan operator GSM yang dikuasai Telkom Malaysia itu mundur dari proyek Palapa Ring.
“Kami telah memohon kepada pemerintah agar pelaksanaanya disesuaikan dan kami bisa bergabung lagi ketika kondisi keuangan kami membaik,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Laporan keuangan XL tahun lalu mencatat perusahaan ini merugi Rp15,11 miliar akibat beban bunga pinjaman.
Anggota konsorsium yang masih bertahan tidak berani memastikan untuk menutup kekurangan dana secara kolektif.
Direktur Indosat Guntur S. Siboro mengatakan mundurnya XL tidak serta merta membuat pihaknya bersedia mengeluarkan uang lebih untuk menutupi kekuangan dana pengerjaan proyek.
“Apabila pemerintah meminta tambahan dana, kami perlu meminta persetujuan pemegang saham lagi,” ujarnya. (fita.indah@bisnis.co.id/roni.yunianto@bisnis.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar