Koran Jakarta – Lima anggota Komite Regulasi Telekomunikasi (KRT) yang menjadi perwakilan masyarakat telah melewati masa 100 hari berbakti di Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).
Kelima anggota itu ialah Danrivanto Budhyanto, Heru Sutadi, Iwan Krisnadi, Nonot Harsono, dan Ridwan Effendi. Sedangkan wakil pemerintah di lembaga tersebut adalah sang ketua, Basuki Yusuf Iskandar (Dirjen Postel), dan Abdullah Alkaf (Staf Khusus Menkominfo).
Mengingat kelima anggota KRT ditasbihkan pemerintah sebagai perwakilan masyarakat di lembaga tersebut, tentunya wajar jika mulai bermunculan suara-suara mempertanyakan kebijakan atau tindakan konkret anggota komite itu.
“Selama 100 hari para KRT berbakti, bisa dikatakan semuanya masih di awang-awang. Tidak ada satu sensasi pun yang dihasilkan. Jika begini, kehadiran mereka tak lebih sebagai stempel memperkuat legitimasi pemerintah terhadap kebijakan yang dikeluarkan bagi industri dan masyarakat telekomunikasi,” ungkap Direktur Kebijakan dan Perlindungan Konsumen lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala, Senin (22/6).
Sejak dilantik pada awal Maret lalu, menurut Kamilov, terdapat beberapa fenomena di industri telekomunikasi yang gagal dimanfaatkan oleh para anggota KRT untuk menunjukkan independensinya.
Beberapa fenomena itu ialah penetapan harga dasar frekuensi akses nirkabel pita lebar (Broadband Wireless Access/BWA), evaluasi kualitas layanan, pembelokiran Personal Identification Number (PIN) BlackBerry oleh Research in Motion (RIM), dan implementasi Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi (SKTT).
“BRTI tidak memberikan sikap yang tegas terhadap evaluasi kualitas layanan dari para operator pada kuartal pertama. Padahal masalah kualitas layanan yang memburuk banyak dikeluhkan masyarakat. Parahnya lagi, banyak operator yang memberikan data basi didiamkan saja,” tuturnya.
Dalam penetapan harga frekuensi BWA, para anggota KRT dianggap tidak mendengar suara publik sehingga yang terjadi nilainya melambung tinggi. Untuk kasus RIM, BRTI dinilai bisa bersikap lebih tegas ketika melakukan pertemuan dengan perusahaan itu. “Tidak cukup hanya dengan meminta pembukaan layanan purnajual. Kalau begini, terkesan para KRT melindungi RIM,” katanya.
Untuk kasus SKTT, lanjut Kamilov, para anggota KRT seharusnya bisa melanjutkan hasil kerja keras dari para pendahulunya dan memaksa operator untuk menjalankannya.
Pengamat telematika Gunawan Wibisono menilai tidak ada sensasi selama 100 hari tak bisa dilepaskan dari posisi KRT yang masih menginduk pada Menkominfo. “Kesannya para KRT jadi ban serep. Apalgai sekarang dalam suasana pemilu. Menkominfo sibuk pemilu, para KRT tidak tahu mau mengerjakan apa,” katanya.
Melempemnya kinerja para anggota KRT tak bisa dilepaskan dari tidak jelasnya skala prioritas dari program kerja yang dibuat. Dari banyak kasus yang terjadi, para anggota KRT malah mengambil posisi sebagai ahli teknis ketimbang kebijakan.
Kurang Komunikasi
Sementara itu, praktisi telematika Suryatin Setiawan menyarankan, idealnya para anggota KRT terpilih adalah orang-orang senior di industri dengan rekam jejak yang jelas. Hal ini karena regulator memiliki fungsi gabungan dari hukum, bisnis, dan mengikuti perkembangan teknologi.
Kelemahan BRTI sejak pertama hadir adalah kurangnya komunikasi terhadap publik untuk setiap kebijakan yang diambil. “Seharusnya setiap dokumen regulasi ditebar untuk menjaring tanggapan masyarakat,” katanya.
Suryatin mengingatkan fungsi dari BRTI sangat penting. Karena itu, negara harus memberikan modal yang cukup bagi lembaga tersebut. "Ketika dibentuk, BRTI dulu tidak punya kantor. Padahal untuk menciptakan industri yang berkualitas itu memerlukan modal yang banyak,” katanya.
Anggota BRTI sendiri, menurut Heru Sutadi, telah bekerja sesuai dengan program yang dipegang. “Jika yang disorot masalah evaluasi kualitas layanan, sekarang tengah menunggu KepDirjen. Sementara untuk kasus RIM, saya telah bersuara keras,” kilahnya.
Sementara itu, Ridwan mengatakan SKTT tetap dijalankan dan diusahakan data yang didapat oleh regulator adalah data mentah. “Rapat memang baru dimulai dan molor. Tetapi lihat saja nanti hasil akhirnya,” katanya. *dni/E-2


0 komentar:
Posting Komentar