Impor Terhenti, Stok BlackBerry Menipis
Jakarta, Kontan (24/06/09) – Langkah Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) menolak izin sertifikasi telepon genggan alias handset BlackBerry sejak sebulan lalu berbuntut panjang. Kebijakan itu membuat impor semua produk BlackBerry ke Indonesia terhenti. Maklum, handset BlackBerry tak bisa masuk jika tak bersertifikat.
Akibatnya, praktis para distributor cuma mengandalkan stok yang mereka miliki. Saat ini, ada empat distributor BlackBerry di Indonesia, yakni PT Indosat Tbk, PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), dan PT Natrindo Telepon Seluler (NTS). Natrindo baru merilis BlackBerry pada 10 Juni 2009.
Operator yang baru akan masuk pasar BlackBerry juga kesulitan. Misalnya, Smart Telecom yang siap merilis BlackBerry berbasis jaringan code division multiple access (CDMA) Juni ini terpaksa menunda peluncuran. “Secara teknis kami siap, tapi stok dari Research In Motion (RIM) belum ada,” ujar Direktur Regulasi Smart Telecom, Ubaidillah Fattah, Senin (22/6).
Ubaidillah bilang, semua persiapan Smart Telecom sejatinya telah rampung. Perjanjian dengan RIM pun beres. Namun, karena Depkominfo menyetop izin, rencana peluncuran BlackBerry CDMA Smart tertunda.
Indosat juga menunda peluncuran BlackBerry CDMA, dari Juni ini menjadi kuartal ketiga 2009. “Ada banyak perhitungan yang belum final,” kata Kepala Humas Indosat Adita Irawati.
Sejauh ini, para distributor lama semacam XL, menurut General Manager Corporate Communication XL Myra Junor, memang masih bisa memenuhi permintaan. Cuma, berapa stok BlackBerry yang masih tersedia? Hampir semua distributor memilih tutup mulut soal ini.
Sebagai gambaran, Indosat sudah menjual BlackBerry sebanyak 120.000 unit. Adapun XL dan Telkomsel masing-masing menjual sekitar 100.000 unit.
Depkominfo menolak memberi izin sertifikasi handset BlackBerry karena Research In Motion (RIM), produsen BlackBerry asal Kanada, belum membangun kontor layanan purna jual di Indonesia. Agar persoalan ini tak berlarut-larut, Senin (22/6), Depkominfo bertemu dengan Indosat, XL, dan Telkomsel.
Hasilnya, mereka sepakat akan kembali mendesak RIM agar membangun pusat layanan purna jual di Indonesia. “Kami sepakat untuk melakukan permintaan dan tekanan bersama terhadap RIM agar rencana feasibility study pendirian perwakilan RIM di Indonesia dipercepat,” kata Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo. *Nadia Citra Surya


0 komentar:
Posting Komentar